Kematian Di Dalam Tuhan
28 April 2018

Tujuan hidup Kekristenan pada dasarnya adalah bahwa suatu hari nanti, akhirnya Allah Bapa dapat menemukan orang-orang percaya berkepribadian anak Allah, yaitu seperti Anak Tunggal-Nya. Dengan demikian digenapi Firman yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara (Rm. 8:28-29). Untuk memiliki kepribadian Anak Allah, tidak ada cara lain kecuali mengalami “kematian”. Tentu kematian yang dimaksud di sini bukanlah mati dalam arti jasmani di mana seseorang harus dikubur di tanah kembali menjadi debu. Kematian di sini maksudnya adalah pemadaman keinginan pribadi yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian hidup beriman dalam Yesus Kristus adalah hidup dalam kematian terhadap manusia lama.

Jika orang percaya sungguh-sungguh berjuang untuk memiliki kehidupan anak Allah di dalam dirinya, maka ia harus berusaha semaksimal mungkin mengerahkan seluruh daya yang ada padanya. Sebab hal ini tidak bisa dilakukan dengan usaha yang setengah-setengah. Harus berani mempertaruhkan hidup tanpa batas, baik tenaga, pikiran, waktu dan segala hal yang ada di dalam kehidupan kita. Jika ada hal lain yang dianggap lebih penting dari memiliki kehidupan anak Allah, maka ia tidak pernah mencapai goal ini; yaitu berkeberadaan sebagai anak Allah yang berkodrat Ilahi. Untuk ini, kita harus bersedia dipersiapkan untuk menjadi manusia yang berkeberadaan sebagai anak-anak Allah. Bukan sekadar berstatus anak Allah, tetapi berkeberadaan atau berkodrat. Hanya orang-orang yang berkeberadaan anak Allah yang akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus Kristus, mewarisi pemerintahan Kerajaan Allah atau dimuliakan bersama dengan Kristus dan menerima janji Bapa.

Kematian dalam Tuhan bertalian dengan usaha untuk memadamkan atau mematikan keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Allah. Ini adalah tindakan untuk memadamkan cita-cita pribadi, ambisi pribadi dan lain sebagainya, kemudian mengarahkan diri sepenuhnya untuk melakukan kehendak Allah. Ini berarti ia rela kehilangan segala hak demi Tuhan. Hal ini menunjuk kepada suatu proses perjalanan hidup Kekristenan yang benar. Jadi sebelum kita mati secara fisik, dikubur, maka kita harus terlebih dahulu memasuki proses kematian manusia lama. Itulah sebabnya di dalam Tuhan Yesus kita menjadi ciptaan yang baru. Hal ini sama dengan bahwa kita telah dilahirkan oleh Allah (Yoh. 1:13). Orang percaya dilahirkan oleh Allah dengan natur baru. Menjadi anak-anak Allah, yang penting bukan saja kita berstatus anak Allah dimana kita memiliki jaminan pemeliharaan, perlindungan dan berkat-berkat-Nya, tetapi kita juga memiliki kodrat baru atau natur baru.

Panggilan untuk mengalami kematian dalam Tuhan sebenarnya panggilan untuk semua orang percaya, tetapi kenyataannya sangat sedikit orang Kristen yang mengalaminya. Hal inilah yang dimaksud dalam Filipi 3:10, bahwa orang percaya harus serupa dengan Yesus dalam kematian-Nya. Pada dasarnya ini adalah kehidupan yang tidak lagi ditujukan untuk diri sendiri atau untuk siapa pun, tetapi ditujukan untuk kepentingan Kerajaan Allah sepenuhnya.

Dalam Kolose 3:3 Paulus menulis: “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah”. Kalimat ini banyak tidak dimengerti orang. Lebih banyak orang Kristen yang tidak rela kehilangan “hidupnya”. Padahal jelas Alkitab katakan: bahwa kamu telah mati. Ketidakrelaan untuk mengalami kematian di dalam Tuhan sangat merugikan diri sendiri. Memang berat dan bahkan kedengarannya aneh benar, tetapi inilah jalan satu-satunya untuk hidup beriman dalam Tuhan Yesus. Dengan demikian, sangatlah bisa dimengerti kalau Tuhan Yesus menghendaki agar kita yang sungguh-sungguh bersedia mengikut Dia, harus menyangkal diri dan memikul salib (Mat. 16:24-25).

Pada dasarnya menyangkal diri bukan hanya tindakan menolak semua perbuatan yang bertentangan dengan hukum moral atau etika. Tetapi menyangkal diri adalah tindakan meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Ini juga berarti orang yang menyangkal diri tidak lagi hidup dengan pola hidup manusia pada umumnya. Orang percaya yang menyangkal diri adalah orang-orang yang tidak lagi berfilosofi seperti filosofi yang dikenakan manusia pada umumnya, tetapi hidupnya didasarkan dan dibangun di atas prinsip-prinsip hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus.

Dalam Matius 16:25, Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang yang mengikut Dia harus bersedia “kehilangan nyawa”. Kehilangan nyawa ini sama artinya dengan kehilangan kehidupan atau mengalami kematian di dalam Tuhan. Dengan demikian barulah seseorang dapat hidup beriman dalam Tuhan Yesus. Tanpa kematian di dalam Tuhan seseorang tidak pernah mengalami hidup beriman dalam Tuhan dengan benar.

Orang yang mengalami kematian dalam Tuhan berarti tidak lagi memiliki hidup. Hidup yang kita kenakan hari ini adalah hidup milik Tuhan sepenuhnya. Jika demikian, maka berarti waktu hidup kita juga dimiliki oleh Tuhan tanpa batas sama sekali. Kita telah menghabiskan waktu umur hidup kita bagi diri kita sendiri. Semua hanya untuk kepentingan dan kesenangan diri kita. Ke depan waktu hidup kita harus dipersembahkan bagi Tuhan.Orang yang hidup beriman dalam Tuhan telah mengakhiri waktu hidupnya.