Kekosongan
09 November 2019

Allah menciptakan manusia sebagai anak-anak-Nya agar manusia memiliki hubungan dengan Allah sebagai Bapa, sehingga kedua belah pihak saling mengisi. Keterpisahan antara Allah dan manusia menyisakan sebuah rongga kosong dalam diri manusia yang tidak bisa diisi oleh siapa pun dan apa pun. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan kepada perempuan Samaria di kota Sikhar, di perigi Yakub, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 4:13-14). Kata “air ini” yang dimaksud Tuhan Yesus adalah kekayaan dunia, kepuasaan jasmani, makan, minum, seks, dan lain sebagainya. Semua itu adalah “air dunia” yang tidak akan dapat memuaskan jiwa dan kehidupan manusia. Kalau seseorang sudah kecanduan, kesenangan dunia tersebut menjadi ikatan yang sampai taraf tertentu tidak bisa lagi dibebaskan. Sampai pada tingkat tertentu berarti sampai seseorang telah menghujat Roh Kudus. Menghujat Roh Kudus menunjukkan sikap hidup yang selalu menolak karya Roh Kudus di dalam hidupnya, sampai akhirnya Roh Kudus tidak bisa lagi menggarap orang tersebut.

Kesalahan banyak orang adalah berusaha mengisi kekosongan dalam dirinya dengan materi kekayaan dunia dan segala hiburan dunia ini, selanjutnya juga berusaha memuaskan keinginan daging dengan kepuasan-kepuasan “daging”-nya. Orang-orang seperti ini bukannya memperoleh apa yang dibutuhkan, melainkan sebaliknya, malah terperangkap ke dalam kubangan kuasa kegelapan. Mengingini dunia untuk membangun kepuasan hidup merupakan tindakan menyembah Iblis (Luk. 4:5-8). Banyak orang tertipu oleh kuasa dunia sehingga mereka terbelenggu dengan berbagai kesenangan dan keinginan dunia. Mereka tergiring menuju kegelapan abadi. Bapak mereka bukanlah Allah Bapa di surga, melainkan kuasa kegelapan. Ketika mereka meninggal, bapa mereka—yaitu kuasa kegelapan—akan menjemput mereka.

Dalam hal tersebut, dapat dibedakan antara anak-anak Allah yang benar dan anak-anak Allah yang palsu. Anak-anak Allah yang benar merasa hanya dapat dibahagiakan oleh Allah dan Kerajaan-Nya, tetapi anak-anak Allah yang palsu merasa hanya dapat dibahagiakan oleh dunia ini. Sebagai anak-anak Allah, orang percaya harus belajar untuk meninggalkan kesenangan dunia, kemudian menikmati Tuhan dan hadirat-Nya. Hal ini membutuhkan perjuangan karena selama bertahun-tahun manusia telah terbiasa hidup dengan berbagai kesenangan dunia, yang membuat seluruh hasrat dan cita rasa jiwanya telah terbelenggu oleh kesenangan dunia ini. Mereka sama sekali tidak mudah untuk dapat melepaskannya. Namun, dengan perjuangan yang sungguh-sungguh, Roh Kudus dengan Firman Kebenaran akan menuntunnya sehingga orang percaya dapat memperoleh kemerdekaan.

Rongga kosong dalam diri manusia tidak dapat diisi oleh apa pun dan siapa pun kecuali oleh Allah dengan hubungan yang harmonis di dalam dan melalui Roh Kudus. Oleh sebab itu, sejak Roh Allah undur dari manusia yang dikisahkan dalam Kejadian 6, manusia tidak lagi berpotensi untuk dapat membangun hubungan yang harmonis sebagai anak dengan Allah sebagai Bapa. Bisa dimengerti mengapa kehidupan umat pilihan Perjanjian Lama belum bisa diajar untuk bagaimana hidup sebagai anak-anak Allah. Proyeksi dan orientasi hidup mereka hanya berkat-berkat jasmani: tanah yang berlimpah susu dan madu, kejayaan kerajaan duniawi, panen raya yang berlimpah, menang dari musuh, bebas dari epidemi penyakit, dan lain sebagainya, yang bertalian dengan pemenuhan kebutuhan jasmani.

Tanpa keselamatan dalam Yesus seseorang tidak dapat membangun diri untuk kembali ke rancangan semula Allah, yaitu menjadi manusia yang segambar dan serupa dengan Allah. Dengan keberadaan tidak segambar dan tidak serupa dengan Allah, seseorang tidak dapat memiliki persekutuan (fellowship) yang ideal dengan Allah sebagai Bapa. Karakter yang belum sesuai dengan gambar dan rupa Allah tidak memungkinkan manusia untuk memiliki relasi yang harmonis dengan Allah. Oleh sebab itu, hanya umat pilihan Perjanjian Baru yang dimungkinkan dikembalikan ke rancangan semula sehingga dapat memiliki persekutuan dengan Allah Bapa secara ideal. Oleh karena itu, sebagai umat pilihan Perjanjian Baru, kita harus berusaha mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar, yaitu bagaimana memiliki pikiran dan perasaan Kristus, supaya bisa “nyambung” dengan Bapa (Flp. 2:5-13). Hal ini harus diselesaikan dengan sempurna,