Kehilangan Hak Untuk Hidup Bagi Diri Sendiri
13 August 2019

Dengan memahami hukum kehidupan mengenai tabur tuai, maka hendaknya kita tidak berpikir bahwa kita harus selalu menerima doa dari pendeta untuk diberkati Tuhan guna kehidupan nafkah jasmani. Seakan-akan doa pendeta bisa membatalkan hukum tabur tuai. Walaupun hidup sembarangan dalam pola makan dan pola hidup, asalkan didoakan pendeta maka bisa mengalami kesembuhan. Harus dipahami bahwa bagi orang percaya yang dewasa, doa adalah dialog, bukan sekadar permintaan. Allah sudah menyediakan berkat bagi setiap individu. Tuhan Yesus menyatakan bahwa burung di udara saja Dia pelihara, apalagi orang percaya (Mat. 6:25-34). Orang percaya harus mengerti bahwa yang harus dilakukan orang percaya adalah pilihan untuk bekerja rajin, mengatur waktu dengan baik, menghindarkan kegiatan yang tidak perlu dilakukan, hemat, jaga kesehatan dengan pola makan dan hidup yang baik, dan lain sebagainya. Segala sesuatu yang dilakukan pasti ada tuaiannya.

Sebagai anak-anak Tuhan yang memiliki jaminan pemeliharaan dan hak istimewa dari Bapa, yang kita butuhkan adalah tanggung jawab, bukan doa pendeta atau orang suci manapun. Keluarlah dari keadaan terpuruk sekarang ini. Pasti bisa! Kita di “design” bukan untuk gagal, menjadi orang miskin, dan menjadi beban bagi orang lain. Keputusan dan pilihan yang salahlah yang mengakibatkan keadaan kita hari ini. Jangan berpikir bahwa nasib atau keadaan hidup di bumi ini sudah ditentukan oleh Allah dan Allah bisa merubahnya jika kita berdoa memohon pertimbangan-Nya. Semua ditentukan oleh keputusan dan tindakan kita sendiri.

Dewasa ini banyak orang Kristen yang berusaha menikmati fasilitas sebagai orang percaya dengan memanfaatkan kasih dan kuasa Tuhan. Tentu Tuhan adalah Tuhan yang penuh kasih dan berkuasa. Fasilitas ini disediakan bagi kita, anak-anak Tuhan. Tetapi ini bukan berarti bahwa kita dapat memanfaatkan kasih dan kuasa Tuhan semau-mau kita sendiri. Harus dipahami bahwa Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat. Tuhan memiliki kebijaksanaan yang tidak dapat dipengaruhi atau diubah oleh kuasa manapun. Tuhan tidak akan pernah dapat kita peralat atau kita manfaatkan sesuka kita sendiri. Tuhan adalah Majikan yang harus dituruti kehendak-Nya, bukan sebaliknya, agar menuruti kehendak kita. Anak tebusan adalah pribadi-pribadi yang dimiliki oleh Tuhan. Segala sesuatu yang dilakukan harus dilakukan bagi Tuhan (1Kor 10:3; Flp. 1:21; 1Kor. 5:14-15). Dalam hal ini orang yang telah ditebus oleh darah Yesus adalah orang-orang yang telah kehilangan seluruh hak hidupnya untuk hidup bagi diri sendiri.

Cacat mental banyak orang dewasa ini adalah mencoba menyelesaikan semua masalah dengan “karunia”. Ini terjadi oleh karena merasa diri sebagai anak Tuhan yang memiliki jaminan “luar biasa” dari Tuhan. Ya, “mentang-mentang” anak Tuhan. Hal ini dikemukakan bukan mengecilkan arti status sebagai anak Tuhan yang pasti dipelihara Tuhan sempurna. Namun bukan berarti kita dapat mengharapkan segala penyelesaian masalah dengan “karunia” atau “mukjizat”. Untuk ini kita harus dapat membedakan antara “karunia” dan “tanggung jawab”.

Banyak hal dalam hidup ini yang harus kita selesaikan dengan upaya, tenaga, dan kerja keras kita sendiri, inilah yang disebut dengan tanggung jawab. Adapun hal-hal yang tidak mungkin bisa kita lakukan tanpa campur tangan Tuhan, di sini yang kita butuhkan adalah karunia. Hal-hal yang tidak dapat kita kerjakan tanpa campur tangan Tuhan sepenuh melalui karunia-karunia-Nya adalah hal-hal yang bersangkut paut dengan pekerjaan-Nya, yaitu penerusan karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus. Tetapi perlu dicatat di sini bahwa karunia pun diberikan kepada seseorang berdasarkan kepercayaan Tuhan kepada kita, dan kepercayaan tersebut tergantung dari kapasitas diri kita.

Sering kita dengar pendeta berdoa agar Tuhan memberkati umat-Nya dengan berkat-berkat-Nya, tetapi mereka tidak mengajak umat dengan tegas untuk bekerja keras, giat, dan jujur. Paling tidak diisyaratkan demikian. Tidak sedikit pendeta yang mengisyaratkan (walau tidak mengatakan secara terbuka demikian) bahwa orang Kristen tidak perlu kerja giat, tanpa kerja giat maka berkat datang lebih banyak. Sebab ditegaskan oleh mereka bahwa yang penting berdoa. Hal ini akan merusak generasi muda untuk memaksimalkan potensi pada masa mudanya di tengah persaingan yang makin ketat. Dalam hal ini dikesankan bahwa apa pun dan bagaimana pun cara kerja kita, Tuhan pasti berkati (berkat jasmani). Pemahaman ini salah.