Kehidupan Yang Disita
05 October 2019

Sebenarnya, ketika seseorang bersedia mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, maka kehidupannya—termasuk segala miliknya—disita oleh Kerajaan Allah. Kalau seluruh hidupnya disita, itu berarti di bumi ini ia hanya sebagai orang yang menumpang. Sejak itu, pemerintahan Allah berlaku atau berlangsung dalam hidupnya. Pemerintahan Allah adalah kehidupan yang diatur dan dikendalikan oleh Allah melalui atau di dalam Roh Kudus. Ini adalah kehidupan yang diarahkan untuk suatu hari mengalami realisasi perwujudan Kerajaan Allah secara fisik. Kenyamanan hidup duniawi tidak lagi menjadi tujuan. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17).

Kalau orang percaya teliti, dapat ditemukan bahwa murid-murid Yesus pada mulanya mengikut Yesus didorong oleh keinginan memperoleh kelimpahan duniawi dan kehormatan dari manusia. Murid-murid Yesus, seperti kebanyakan orang Yahudi, berharap suatu hari Yesus akan menjadi seorang penguasa seperti Raja Herodes atau kaisar di Roma, sehingga mereka dapat memiliki kekayaan materi di bumi ini seperti yang diinginkan oleh manusia pada umumnya. Padahal, mengikut Yesus berarti harus melepaskan segala sesuatu (Luk. 14:33). Murid-murid Yesus bukan hanya kehilangan segala sesuatu yang mereka miliki, tetapi mereka juga harus menghadapi penganiayaan yang sangat kejam. Itulah sebabnya Yesus mengatakan kalau seseorang mau mengikut Yesus, ia harus memikul salib. Sebagai catatan penting yang menjadi tatanan mutlak, bahwa dengan melepaskan segala sesuatu seseorang barulah memperoleh Kristus (Flp. 3:7-9).

Firman Tuhan mengatakan bahwa orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus, yaitu walaupun Ia adalah pemilik segala sesuatu tetapi Ia mengosongkan diri. Mengosongkan diri maksudnya adalah melepaskan semua hak-Nya, supaya Ia bisa mempersembahkan semuanya bagi Allah Bapa. Tanpa berbuat demikian Ia tidak bisa menjadi Mesias yang menyelamatkan semua manusia. Orang percaya harus melepaskan segala sesuatu, barulah dapat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, dan suatu hari nanti memperoleh kemuliaan bersama Tuhan Yesus. Sebelum dimuliakan bersama Yesus, orang percaya harus meneruskan karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus di kayu salib agar diberitakan sampai ke ujung bumi.

Mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah berarti meneladani hidup yang dikenakan oleh Yesus. Untuk ini, ada dua catatan penting: Pertama, harus belajar bagaimana tidak lagi terikat dengan percintaan dunia dan keinginan-keinginan dosa di dalam diri ini, supaya bisa mendatangkan atau menghadirkan pemerintahan Kerajaan Allah. Kedua, mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, yaitu bagaimana membawa orang lain bisa mengikuti jalan hidup yang telah Yesus jalani. Untuk ini, seorang yang mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan harus berkeadaan semakin seperti Yesus sehingga bisa menjadi model dengan mana orang membangun dirinya. Ini adalah proyek mencetak manusia seperti Yesus (Rm. 8:28-29). Bukan sekadar menjadikan orang lain sebagai anggota salah satu gereja, melainkan menuntun orang lain menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Menjadi anggota keluaga Kerajaan Allah berarti memiliki kehidupan semakin hari semakin seperti Yesus; hidup tidak bercacat dan tidak bercela.

Sejatinya, hal tersebut adalah inti dari Kekristenan yang orisinal. Pikiran orang percaya tidak boleh menyimpang kepada yang lain. Orang percaya harus berhati-hati. Kalau jemaat pada umumnya disimpangkan pada kekayaan dunia dan segala hiburan dunia ini, sedangkan para rohaniwan difokuskan hanya kepada kegiatan gereja yang menjuruskan pada keberhasilan mengumpulkan jemaat dan membangun gereja secara fisik. Para rohaniwan atau pendeta hendaknya juga tidak menyimpang dengan hanya sibuk memperdebatkan doktrin teologi. Doktrin sangat penting, tetapi bukan untuk diperdebatkan dan menciptakan konflik horisontal antar teolog atau antar anak Allah. Kalau masing-masing memiliki pandangan, biarlah mereka membuktikan kebenaran ajarannya dengan dan dalam perilaku kehidupannya setiap hari. Bukan pada perdebatan lisan maupun tertulis.

Kehidupan seorang yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah pasti bersama-sama dengan Tuhan Yesus dalam memperjuangkan kehidupan dalam melakukan kehendak Bapa dan memenuhi rencana Bapa. Untuk ini, orang percaya, selain berusaha untuk hidup berkenan kepada Tuhan, juga harus mengusahakan agar orang lain juga mengalami keselamatan atau bertumbuh menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah juga. Menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah berarti bisa diperkenan masuk dunia yang akan datang menjadi mempelai Tuhan Yesus, yaitu orang-orang yang dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan. Dengan demikian orang yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah menyediakan diri dengan sukacita dengan segala pengorbanan tanpa batas melayani pekerjaan Tuhan.