Kehidupan Mantan Penjahat
30 July 2020

Play Audio Version

Harus diakui—dewasa ini, di denominasi gereja tertentu—betapa mudahnya menjadi seorang pendeta atau hamba Tuhan. Sementara itu, profesi pendeta atau hamba Tuhan dipandang sebagai profesi yang dapat memberi kehidupan dan penghormatan dari cara atau jalan yang tidak sulit. Seorang mantan narapidana dari kasus kejahatan, atau mantan pecandu narkoba, atau mantan “preman jalanan” yang mengaku bertobat, sangat mudah dibawa ke seminari atau sekolah Alkitab untuk menjadi hamba Tuhan. Biasanya, karena mereka memiliki latar belakang jahat atau sangat buruk seperti itu dan menyatakan bertobat, maka dapat membangkitkan empati dan simpati orang Kristen yang lebih besar terhadap mereka. Dengan mudah mereka mendapat fasilitas untuk studi di seminari atau sekolah tinggi teologi atau sekolah Alkitab. Tidak jarang orang-orang Kristen berlomba memberi dukungan beasiswa untuk mereka, tentu dengan harapan mereka dapat menjadi pendeta yang baik.

Banyak orang lupa atau tidak menyadari bahwa mahasiswa mantan narapidana dari kasus kejahatan, atau mantan pecandu narkoba atau mantan “preman jalanan” adalah orang-orang “sakit” dengan stadium khusus yang harus mendapat perawatan khusus pula, demi kesembuhan atau perbaikannya. Harus sungguh-sungguh dipersoalkan: Apakah mereka semua benar-benar telah mengalami pertobatan? Tidak mudah mengetahui seberapa sungguh-sungguh pertobatan yang mereka alami. Lagipula, pertobatan adalah sebuah proses yang harus terus berlangsung dalam kehidupan setiap hari. Untuk memulihkan mereka, harus ada pelayanan khusus. Tetapi faktanya, hal ini banyak diabaikan. Kalau jujur, banyak seminari dan sekolah tinggi teologi atau sekolah Alkitab tidak menyediakan fasilitas penanganan khusus bagi mereka.

Sering dalam masa pendidikan di seminari atau sekolah tinggi teologi, mahasiswa mantan narapidana dari kasus kejahatan, atau mantan pecandu narkoba atau mantan “preman jalanan” menjadi biang masalah yang mengganggu mahasiswa lain dalam proses pendidikan. Tentu tidak semua mereka berkeadaan sama. Memang ada yang sungguh-sungguh mengalami pertobatan yang benar, sehingga dalam masa studi mereka tidak menjadi biang masalah. Bahkan, ada yang lebih baik dari mereka yang belum pernah mengalami dan melakukan kejahatan. Pengalaman masa lalu bukan sesuatu yang menyandera seseorang sehingga tidak bisa lebih baik dari orang yang belum pernah hidup dalam kejahatan secara umum.

Kalau mahasiswa mantan narapidana dari kasus kejahatan, atau mantan pecandu narkoba atau mantan “preman jalanan” belum mengalami pertobatan yang sungguh-sungguh dan pendidikan teologi tidak merawat mereka dengan benar, maka ketika mereka lulus sebagai seseorang yang diakui sebagai hamba Tuhan dan ditahbiskan menjadi pendeta, mereka dapat mendatangkan kehancuran bagi diri mereka sendiri dan pekerjaan Tuhan yang luas. Tetapi, kalau mereka benar-benar bertobat dan mengalami perubahan kodrat, mereka bisa lebih efektif di ladang pelayanan tertentu, karena pengalaman hidup mereka selain menjadi kesaksian, juga dapat menggarap orang-orang yang memiliki latar belakang kehidupan seperti yang mereka pernah jalani di masa lalu. Pengalaman masa lalu bukan menjadi kebanggaan, melainkan kesaksian yang memicu orang yang hidup dalam kehidupan jahat untuk dapat ditobatkan. Dalam hal ini, yang penting bukan hanya berhenti menjadi penjahat, melainkan mengenakan kehidupan normal baru di mata Allah.

Harus dipahami bahwa keristenan adalah jalan hidup, yaitu jalan hidup Yesus. Semua orang percaya diproyeksikan untuk mengalami perubahan kodrat sehingga dapat mengenakan kehidupan Yesus. Untuk ini, moral secara umum seseorang harus sudah baik, barulah kemudian bertumbuh terus untuk mencapai kesempurnaan di dalam Yesus. Kalau moral secara umumnya saja rendah, sangatlah tidak mungkin untuk mencapai kesempurnaan atau keserupaan dengan Yesus. Adapun orang-orang yang adalah mantan narapidana dari kasus kejahatan, atau mantan pecandu narkoba atau mantan “preman jalanan” memerlukan penanganan khusus untuk perubahan atau kesembuhan jiwanya. Kalau seminari atau sekolah tinggi teologi tidak mengubah mereka secara memadai, berarti menjerumuskan mereka dan jemaat yang mereka layani dalam kehancuran.

Selama dalam pendidikan di seminari atau sekolah tinggi teologi, orang-orang yang adalah mantan narapidana dari kasus kejahatan, atau mantan pecandu narkoba atau mantan “preman jalanan” bisa berperilaku baik-baik karena peraturan sekolah, tetapi pada dasarnya, bisa saja “benih dosa dan kejahatan” mereka belum tergarap secara tuntas. Benih dosa dan kejahatan ini bisa muncul kembali dalam berbagai manifestasi ketika sudah menjadi pendeta di ladang Tuhan. Oleh sebab itu, harus ditegaskan bahwa orang-orang seperti ini adalah “pasien” yang perlu penanganan khusus oleh seminari dan sekolah tinggi teologi. Kalau ada pendeta mantan narapidana dari kasus kejahatan, atau mantan pecandu narkoba atau mantan “preman jalanan,” mereka harus berjuang tiada henti untuk terus bertumbuh. Kita harus terus menyadari bahwa perubahan kodrat adalah proses yang harus terus berlangsung sampai seseorang menutup mata.