Kehadiran yang Mendewasakan
23 December 2020

Play Audio Version

Kegagalan bangsa Israel pada zaman Yesus disebabkan karena mereka tidak mau mengerti maksud utama kedatangan Yesus. Konsep Mesias di dalam pikiran mereka berbeda dengan Mesias yang Allah sediakan bagi manusia. Pada mulanya, murid-murid Yesus sendiri juga salah mengartikan maksud kedatangan Yesus. Tetapi kemudian hari, mereka menyadari kesalahan mereka, dan mereka mulai mengerti maksud keselamatan yang Allah berikan kepada manusia melalui Yesus Kristus. Jadi, memang pada mulanya murid-murid mengikut Yesus karena mau “mengubah nasib” di bumi ini. Tetapi, ternyata yang diubah oleh karya salib Yesus adalah “nasib” kekekalan mereka. Setelah mereka memahami maksud isi keselamatan, barulah mereka menjadi orang percaya yang sangat militan, rela kehilangan harta, keluarga, dan nyawa mereka demi iman kepada Yesus, serta menaruh seluruh pengharapan mereka kepada kehidupan yang akan datang (1Ptr. 1:3-4, 13).

Seperti orang-orang Yahudi pada zaman Perjanjian Baru tersebut, demikian pula banyak gereja hari ini menyimpang dari kebenaran oleh karena mereka salah memahami maksud keselamatan yang Allah berikan. Hal ini khususnya terjadi atas mereka yang menganut Teologi Kemakmuran. Mereka memandang kekristenan sebagai jalan keluar untuk memperoleh kemudahan hidup, mengalami mukjizat dan berkat-berkat jasmani, serta kesuksesan secara umum. Sehingga, fokus hidup tidak diarahkan pada maksud keselamatan diadakan oleh Allah. Orang yang fokus hidupnya demikian, tidak akan dapat mengerti proses keselamatan yang Yesus berikan.

Orang-orang Kristen yang fokus hidupnya kepada pemenuhan kebutuhan jasmani, tidak akan pernah bisa hidup di hadirat Allah. Kalau seseorang berurusan dengan Allah hanya karena menyangkut masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, maka kehadiran Allah tidak dibutuhkan atau dicari secara permanen atau terus-menerus. Biasanya, mereka mencari Allah hanya pada waktu membutuhkan pertolongan-Nya untuk masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Bila kebutuhan sudah terpenuhi atau kalau masalah yang mereka hadapi sudah selesai, maka mereka tidak merasa membutuhkan Tuhan lagi. Lagipula, masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani juga dapat diselesaikan tanpa tindakan Allah secara khusus. Orang-orang di luar Kristen pun mengalami persoalan-persoalan hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani yang sama dengan orang Kristen. Dan mereka dapat menyelesaikannya tanpa iman kepada Yesus seperti pada kehidupan orang Kristen.

Banyak penyelesaian masalah yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani bukan karena tindakan Allah secara khusus, melainkan karena hukum kehidupan, yaitu apa yang ditabur seseorang, itu juga yang akan dituainya. Biasanya, mereka mengakuinya sebagai fenomena kehadiran Allah yang mereka sembah. Seperti misalnya, seseorang memiliki masalah lalu berusaha mencari jalan kelua. Besar kemungkinan orang tersebut mendapatkan jalan keluar. Belum tentu hal itu terjadi karena Allah bertindak secara khusus melainkan karena hukum kehidupan, yaitu hukum tabur tuai. Kalau hal tersebut terjadi dalam kehidupan orang Kristen, biasanya “diklaim” dan dimaknai sebagai tindakan khusus Allah. Padahal, hal tersebut adalah fenomena hukum tabur tuai secara umum yang juga dialami oleh orang di luar Kristen. Ini bukan berarti menyangkal kehadiran dan campur tangan Allah dalam kehidupan orang percaya. Tetapi hendaknya fenomena tersebut tidak selalu dimaknai sebagai hadirat Allah. Seandainya hal tersebut adalah tindakan Allah secara khusus, itu pun bukan sesuatu yang perlu dipandang penting, sebab yang terpenting dan terutama adalah keselamatan; dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula.

Kehadiran Allah dalam kehidupan orang percaya adalah penyertaan Allah untuk mendidik, guna pendewasaan rohani agar sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Memang bagi orang Kristen baru, penyertaan Tuhan masih berkisar mengenai pertolongan dalam berbagai masalah yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani. Tidak jarang Tuhan menyatakan mukjizat untuk menunjukkan atau membuktikan kehadiran-Nya dalam hidup mereka. Tetapi ketika Tuhan memandang seorang Kristen sudah mulai dewasa, maka penyertaan Tuhan adalah penyertaan untuk mendewasakan. Di sini kita menemukan kehadiran Allah sebagai Bapa yang mendidik (Ibr. 12:3-10), dan kehadiran Tuhan Yesus sebagai Guru yang mengajar (Mat. 28:18-20).

Ketika Yesus berkata bahwa Dia akan menyertai orang percaya sampai kesudahan zaman, konteksnya adalah ketika Yesus memberi mandat orang percaya untuk memuridkan orang lain. Dalam hal ini, hadirat Allah memiliki tujuan lebih kepada proses keselamatan, yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Jadi, hadirat Allah berisi didikan Bapa untuk menjadikan orang percaya serupa dengan Yesus. Dengan demikian, kesaksian kehadiran Allah dalam kehidupan seseorang tampak dalam perubahan karakternya. Orang yang benar-benar hidup di hadirat Allah pasti semakin hari semakin serupa dengan Yesus. Jadi, kalau ada orang yang mengaku hidup di hadirat Alllah tetapi yang menonjol adalah “nge-roh”nya, patut disangsikan kesaksian hidupnya.