Kedaulatan Allah
08 August 2019

Pemahaman bahwa manusia tidak hidup dalam kehendak bebas (dalam takdir) bisa membangun pandangan bahwa pertimbangan rasio manusia untuk mengambil keputusan menjadi sia-sia atau tidak diperlukan. Semua sudah diatur dalam fragmen yang tidak akan dapat keluar atau terlepas dari alur cerita yang ditentukan atau telah ditetapkan. Akhirnya, anjuran untuk menemukan peran dan tempat di hadapan Allah, menjadi panggilan untuk percaya dan menerima saja setiap peran yang ditemukan secara otomatis, karena Allah menetapkan secara sepihak dan secara absolut. Semua sudah diatur oleh tangan yang tidak kelihatan, yaitu tangan Allah yang mengerjakannya sendiri tanpa bantuan dan peran manusia sama sekali. Kalau jujur, maka dapat dikatakan peran pikiran dan perasaan manusia menjadi sia-sia atau tidak maksimal. Dengan demikian manusia juga tidak perlu memiliki integritas dan personalitinya sendiri. Ini pandangan yang sangat keliru, sebab sesungguhnya manusia adalah makhluk yang harus menuai apa yang ditaburnya (Rm. 14:12; Gal. 6:7; 2Kor. 5:9-10).

Bila kita berbicara mengenai takdir, maka mau tidak mau kita harus belajar mengenai sifat hakikat manusia sekaligus juga menyinggung mengenai sifat hakikat Allah. Berangkat dari pemahaman tentang sifat hakikat manusia, maka kita dapat memiliki pijakan pandangan yang benar terhadap masalah takdir. Salah satu persoalan yang harus dibedah menyangkut hakikat manusia adalah: Apakah kemutlakan kedaulatan Allah (Sovereignity of God) mengakibatkan manusia tidak memiliki kehendak bebas sama sekali? Sekaligus dipertanyakan apakah kedaulatan Allah menenggelamkan manusia secara fatalistis di dalam penentuan segala sesuatu yang harus hanya diterima saja oleh manusia, tanpa dapat menolak atau menghindarinya? Tetapi sebaliknya, kalau manusia memiliki kehendak bebas, sejauh mana kebebasannya tersebut atau apa batas kehendak bebasnya? Jawaban atas pertanyaan ini menentukan konsep keselamatan yang dimiliki seseorang, dan hal tersebut sangat menentukan pula kualitas hidup seseorang.

Gagasan takdir meyakinkan adanya campur tangan langsung dari Allah yang mengendalikan nasib manusia di luar kesadaran manusia, sebab segala sesuatu ditentukan sejak semula. Ini adalah konsep agama non-Kristen yang tidak banyak bisa membicarakan tentang kebebasan, sebab mereka hanya mengakui perbuatan-perbuatan yang dirancang oleh Allah di dalamnya. Konsep takdir ini mengingkari adanya kebebasan yang sungguh-sungguh, selanjutnya peranan etika disia-siakan. Adalah satu hal yang sulit dimengerti kalau seseorang menerima konsep takdir sementara juga menyerukan pertobatan dan berbagai panggilan serta seruan untuk hidup di jalan Allah. Dalam hal ini orang Kristen yang percaya adanya takdir berpikir bahwa Allah perlu dibantu untuk menggenapi rencana-Nya, seakan-akan tanpa keterlibatan manusia, maka rencana Allah tidak dapat terwujud.

Adam dan Hawa diciptakan Allah sebagai makhluk-makhluk yang bebas. Apakah kita bisa menutup mata terhadap realitas adanya pilihan? Ketika Allah melarang manusia pertama untuk tidak makan pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, tetapi tidak menyembunyikan pohon tersebut, sejatinya hal tersebut merupakan signal yang jelas akan adanya kebebasan memilih. Di dalamnya Allah menghargai keputusan yang diambil oleh manusia tersebut, baik benar maupun salah, baik penurutan maupun pemberontakan. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa manusia harus menentukan keadaannya sendiri, khususnya menyangkut keselamatan kekalnya. Hal ini akan membuat seseorang menyikapi hidup dengan sikap dewasa dan bertanggung jawab. Hidup adalah perjuangan antara membawa diri kepada kehidupan kekal atau kebinasaan kekal. Inilah resiko kehidupan bagi manusia yang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah (Kej.1:26-27). Keserupaan tersebut juga menyangkut kehendak bebasnya.

Banyak orang berpendirian bahwa oleh karena Allah adalah Allah Yang Mahakuasa, Allah yang tidak perlu diatur atau dinasihati oleh siapa pun, maka Ia tidak akan membuat kesalahan dalam rencana-Nya, sehingga manusia sepatutnya hanya menerima apa saja yang Allah perlakukan tanpa memiliki pilihan. Pilihan Allah adalah pilihan yang terbaik dan pasti terlaksana. Karena Alah adalah Allah yang tidak terbatas, bahwa Ia adalah Allah yang berdaulat, maka kehendak dan rencana-Nya tidak dapat dibatalkan oleh siapa pun dan dengan kuasa apa pun. Jadi apa pun yang dialami manusia adalah rancangan-Nya. Dengan berpikir demikian mereka memandang dan merasa bahwa mereka menghormati Allah; sebaliknya, jika ada orang yang tidak sepikiran dengan mereka dipandangnya sebagai suatu kesesatan. Hal ini menunjukkan arogansi, sebab belum tentu pandangan yang diakuinya sebagai Alkitabiah benar-benar sudah Alkitabiah. Hendaknya kita tidak terjebak dalam kebodohan mengatakan orang lain sesat, padahal diri kita sendiri yang sesat.