Keberhargaan Manusia
05 November 2019

Tidak banyak orang yang menyadari betapa berharganya manusia. Keberhargaan manusia bukan karena ia memiliki metabolisme tubuh dan seluruh keberadaan fisiknya yang luar biasa sehingga bisa berinteraksi dengan alam secara sempurna dan bisa menikmatinya secara berlimpah di dalam atau dengan tubuh fisiknya. Berharganya hidup manusia adalah karena adanya potensi dan kesempatan untuk berinteraksi dengan Dia yang Mahaagung, Bapa di surga dan Anak Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Seharusnya, setiap insan menyadari, mengakui, dan menerima bahwa salah satu maksud atau tujuan penciptaan manusia yang terutama adalah agar manusia dapat memiliki relasi atau hubungan yang benar dengan Bapa-Nya. Dengan relasi itu, Allah sebagai Bapa dan manusia sebagai anak bisa saling mengisi dalam relasi yang saling membahagiakan. Relasi seperti ini telah dimiliki oleh Bapa dengan Anak Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus, di kekekalan. Jadi, di kekekalan, Allah Bapa telah memadu kasih dengan Anak Tunggal- Nya itu. Relasi seperti ini adalah relasi yang dikehendaki oleh Allah Bapa dengan anak- anak-Nya yang lain, yaitu manusia. Sejak semula, memang Yesus adalah Anak Sulung Allah Bapa dari banyak anak-anak Allah lainnya.

Relasi manusia dengan Allah sebagai Bapa adalah relasi yang khas dan unik yang tidak bisa disejajarkan dengan relasi dengan siapa pun dan apa pun. Relasi ini lebih dari sekadar “istimewa,” karena begitu “sangat istimewa” dan luar biasa. Demi terbangunnya relasi ini, orang percaya harus mengerti dan menerima bahwa manusia adalah benar- benar anak-anak Allah. Keberadaan manusia sangat luar biasa. Hal ini memberi potensi manusia dapat berinteraksi dengan Allah, Bapanya. Relasi yang dibangun antara Allah sebagai Bapa dan manusia sebagai anak adalah relasi yang dirancang sebagai relasi kekal. Itulah sebabnya manusia diciptakan sebagai makhluk kekal. Dengan demikian, manusia sebenarnya tidak dirancang untuk mengalami kematian. Manusia dirancang untuk memiliki kekekalan seperti Bapa juga kekal. Seandainya manusia tidak memberontak kepada Allah, Bapanya, manusia dapat memiliki kehidupan yang tidak berakhir, sebuah kehidupan yang berlangsung dalam keabadian. Allah yang besar, agung dan mulia, serta cerdas adalah Allah yang merancang kehidupan sempurna bagi manusia dalam keabadian agar dapat berinteraksi dengan diri-Nya. Namun dalam perjalanan sejarah kehidupan, manusia sendiri merusak rancangan Allah yang sangat baik dalam dirinya tersebut.

Kehidupan yang dimiliki manusia hari ini bukanlah kehidupan ideal yang dirancang Allah. Ini adalah kehidupan yang sudah merosot nilainya, jauh dari rancangan semula Allah. Kehidupan di bumi menjadi produk kehidupan yang gagal atau rusak karena manusia yang diberi kehidupan itu sendiri merusaknya dengan pemberontakannya terhadap Allah. Keadaan ini tentu saja bukan kesalahan pihak Allah. Namun dalam kasih- Nya, Allah sebagai Bapa, berkenan menyelamatkan manusia, anak-anak-Nya.

Untuk penyelamatan ini Allah harus mengurbankan milik kesayangan-Nya, yaitu Anak Tunggal- Nya yang ada “di pangkuan Allah Bapa” dan yang menjadi kesukaan Bapa sebelum dunia diciptakan. Allah Bapa memberi keselamatan kepada manusia melalui dan di dalam Anak Tunggal-Nya, supaya manusia dapat dikembalikan kepada rancangan semula Allah, yaitu memiliki relasi yang istimewa dengan diri Allah, Bapanya.

Allah memiliki segala sesuatu, tetapi apa pun dan siapa pun yang Allah Bapa miliki tidak akan melebihi milik kesayangan-Nya, yaitu Putra Tunggal-Nya. Namun demi kecintaan Allah Bapa kepada manusia, ia memberikan Anak Tunggal-Nya tersebut. Terkait dengan hal ini, Firman Tuhan menyatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Kalau orang Kristen tidak memiliki relasi yang dikehendaki oleh Allah Bapa seperti rancangan semula, orang Kristen tersebut belum mengenal dan memiliki keselamatan yang Allah berikan. Hidup kekal dalam ayat ini bukan hanya mengenai kehidupan nanti di surga, melainkan juga kehidupan sekarang di bumi. Kualitas kehidupan sekarang di bumi justru menunjukan kehidupan yang akan datang nanti di kekekalan. Jadi, peta kehidupan seseorang hari ini menunjukkan peta kehidupannya di kekekalan nanti. Oleh sebab itu, setiap orang percaya harus berjuang untuk menemukan relasi istimewa dengan Allah, Bapanya, selama hidup di bumi.