Kebebasan Menghadirkan Kerajaan
03 October 2019

Doa Bapa Kami bukan sekadar formula kalimat doa yang memuat permintaan-permintaan kepada Allah, tetapi memuat tanggung jawab, kewajiban, dan komitmen untuk dipenuhi oleh orang percaya yang mengucapkannya. Orang Kristen dengan kehendak bebasnya dapat melakukan tanggung jawab dan kewajiban dengan komitmen yang tulus, tetapi juga bisa menolak melakukan tanggung jawab, kewajiban, dan komitmen yang harus dipenuhi. Secara pengakuan mulut, seorang Kristen bisa mengucapkan Doa Bapa Kami, tetapi dalam kehidupan setiap hari tidak menunaikannya secara konsekuen dan konsisten. Dalam hal ini, kehendak bebas seseorang sangat menentukan apakah ia memenuhi tanggung jawab, kewajiban, dan komitmennya atau tidak. Bukan Tuhan yang menentukan terwujudnya Doa Bapa Kami dalam kehidupan seseorang, tetapi masing-masing individu yang menentukan. Kehendak setiap individu yang menentukan arah hidupnya.

Kehendak adalah dorongan dalam diri manusia untuk melakukan segala sesuatu. Dengan kehendak ini, seseorang bisa mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam hidupnya atau kerajaan yang lain. Inilah keistimewaan manusia yang melebihi dari semua ciptaan Allah yang lain. Sebagaimana Allah yang adalah gambarnya memiliki kehendak, demikian pula manusia diciptakan dengan keberadaan yang sama. Kehendak ini juga dimiliki oleh makhluk Lusifer. Itulah sebabnya Lusifer atau Iblis bisa memiliki keinginan untuk mendirikan takhtanya sendiri dan mengatasi atau menyamai Allah. Dalam Alkitab makhluk ini mengatakan: “aku ingin atau aku hendak…” Dengan keberadaan sebagai makhluk yang memiliki kehendak atau keinginan, baik Lusifer, malaikat, maupun manusia, bertanggung jawab menentukan takdirnya. Ternyata Lusifer tidak hidup dalam pemerintahan Kerajaan Allah, tetapi membangun kerajaannya sendiri.

Kehendak bebas harus dipahami sebagai pemberian yang sangat berharga atau tak ternilai dari Tuhan dimana manusia diberi kemampuan mempertimbangkan sesuatu, yang oleh karenanya manusia dilengkapi dengan rasio. Tuhan menghargai manusia yang faktanya adalah “manusia yang membuat keputusan akhir”. Tentu saja ini menjadi kehormatan bagi manusia. Dalam kehormatan ini, sekaligus membawa manusia sebagai makhluk yang beresiko sangat tinggi. Dalam hal ini, pemberian yang berharga selalu disertai dengan tanggung jawab. Jika pemberian yang berharga tanpa tanggung jawab, maka hal itu membuat pemberian itu sendiri menjadi tidak berharga.

Dalam kehidupan ini, manusia bisa mendukakan Roh Allah bila melangkah tidak sesuai dengan kehendak Allah, yaitu tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, tetapi mendatangkan atau menghadirkan atau membangun kerajaan yang lain. Bahkan manusia juga bisa menghujat Roh Kudus, yaitu suatu keadaan atau stadium dimana seseorang tidak dapat lagi dapat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Kehendak bebas seseorang menentukan keadaan diri manusia itu sendiri. Sebagai orang percaya yang dewasa, orang percaya harus memahami dan menerima kehendak bebas ini sebagai kepercayaan, bukan sebagai beban yang menekan atau keberadaan yang mengancam. Kalau seseorang menyalahgunakan kebebasan kehendak ini, maka hal ini akan membawa dirinya kepada kebinasaan. Ini sungguh-sungguh berbahaya. Tetapi kalau seseorang menggunakan kehendak bebasnya dengan bijaksana, yaitu mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, maka kehendak bebas tersebut dapat menggiring orang itu kepada kemuliaan bersama Tuhan Yesus.

Dalam relasinya dengan Allah, manusia harus bisa menempatkan dirinya dengan benar di hadapan Allah dan menempatkan Allah dengan benar. Adalah suatu kehormatan kalau manusia diberi kebebasan untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang memilih Allah, yaitu mengasihi, menghormati, dan dengan segenap hidup mengabdi kepada-Nya. Dengan hal ini, manusia digolongkan sebagai makhluk ilahi atau makhluk rohani. Manusia sebagai anak-anak Allah dilengkapi dengan berbagai elemen yang juga ada di dalam diri Allah, sehingga manusia dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijaksana seperti Allah sendiri. Dengan demikian manusia dapat hidup dalam persekutuan dengan Allah dan dalam otoritas Kerajaan-Nya.

Sejarah hidup dan sepak terjang Lusifer memberi pelajaran yang mahal bagi orang percaya. Seharusnya, dirinya sebagai makhluk ciptaan tunduk kepada Allah yang menciptakannya. Tetapi Lusifer mau membangun kerajaannya sendiri. Sebagai akibatnya, ia terbuang dari hadirat Allah untuk selamanya. Demikian pula manusia seharusnya menyadari bahwa ia diciptakan untuk kemuliaan Allah, artinya untuk kesukaan hati Allah; maka ia harus melakukan apa pun yang Allah kehendaki. Kalau manusia mencari kesenangan sendiri berarti membangun kerajaannya sendiri, sehingga gagal menjadi makhluk ciptaan. Orang-orang yang hidup untuk mencari kesenangan sendiri tidak akan pernah menjadi anak-anak Allah yang diperkenan masuk ke dalam Kerajaan Bapa.