Kebebasan Memilih Keselamatan
16 April 2019

Dari sekian banyak pasal dalam kitab Roma, Roma pasal 9 adalah pasal yang sering diperdebatkan. Pasal ini memuat ayat-ayat yang berbicara mengenai pemilihan, penetapan Allah, dan kehendak bebas manusia. Dari pasal ini, oleh sekelompok teolog tertentu telah terbangun premis, gagasan, dan doktrin bahwa Allah menetapkan segala sesuatu; di dalamnya juga diyakini bahwa Allah juga menetapkan manusia yang pasti akan diselamatkan. Mereka yang ditetapkan pasti selamat masuk surga tersebut dikondisi Tuhan untuk tidak dapat menolak anugerah-Nya. Pengajaran ini sering disebut sebagai “predestinasi.” Tentu saja kondisi ini membuat mereka yang tidak ditetapkan selamat masuk surga, dikondisikan tidak bisa menerima anugerah. Pandangan ini sangat keliru.

Di dalam Roma 9:1-3 Paulus mengungkapkan isi hatinya: “Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.” Dari tulisan ini, Paulus rela terkutuk demi keselamatan saudara-saudara sebangsanya yang tidak selamat masuk surga. Paulus rela terkutuk atau menerima hukuman akibat kesalahan saudara-saudara sebangsanya yang menolak Yesus sebagai Mesias. Keinginan seperti ini juga pernah dimiliki Musa pada waktu Tuhan hendak meninggalkan Bangsa Israel di padang gurun. Musa rela namanya terhapus dari Kitab Kehidupan demi bangsanya agar Bangsa Israel tidak ditolak oleh Allah, melainkan tetap disertai oleh Tuhan (Kel. 32-33).

Secara tidak langsung pernyataan Paulus ini memperingatkan kita bahwa kebinasaan saudara-saudara kaum sebangsanya -yaitu sebagian Bangsa Israel- disebabkan karena kehendak mereka sendiri yang menolak Mesias. Hal ini tentu bukan karena penentuan dari Allah secara sepihak. Bukan karena Allah yang membuat mereka tidak bisa menerima anugerah. Kalau keselamatan atau kebinasaan saudara-saudara sebangsanya ditentukan oleh Allah secara sepihak, pernyataan Paulus bahwa ia rela menggantikan saudara sebangsanya atau rela terkutuk berarti merupakan sikap melawan Allah. Ini juga berarti Paulus tidak menerima keputusan Allah; berarti pula Paulus tidak menerima tatanan Allah.Dalam hal ini pula secara tidak langsung Paulus menyalahkan Allah. Kesan yang bisa ditimbulkan adalah bahwa keinginan Paulus rela mati demi keselamatan bangsanya akibat “kesewenang-wenangan atau ketidakadilan Allah.” Ini juga sama artinya bahwa Paulus bersikap kurang ajar terhadap Allah atau bersikap tidak menghormati Allah.

Kalau Paulus menyetujui predestinasi -bahwa Allah sudah menentukan ada sekelompok orang tertentu yang ditentukan pasti selamat masuk surga, dan ada sekelompok yang lain harus binasa sebab tidak terpilih dan ditentukan untuk selamat masuk surga- pastilah Paulus tidak akan menyatakan hal di atas. Sesungguhnya Paulus sangat berdukacita atas keadaan bangsanya, dan bersedia terkutuk, terpisah dari Kristus demi keselamatan saudara-saudara sebangsanya. Hal ini menunjukkan bahwa pemberontakan bangsanya terhadap Allah adalah karena keputusan mereka sendiri, dari kehendak bebas yang ada pada mereka.

Dalam hal ini, sangat bisa dimengerti kalau di dalam tulisannya di 1 Korintus 10:11, “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” Paulus mengemukakan hal ini terkait dengan kenyataan sebagian besar Bangsa Israel yang keluar dari Mesir menuju Kanaan, tidak semua sampai ke Kanaan. Hal itu terjadi bukan karena Allah menentukan kegagalan sebagian mereka, tetapi karena kesalahan Bangsa Israel itu sendiri. Allah bukan tidak sanggup membawa mereka semua sampai Kanaan, tetapi ternyata respon setiap individu menentukan apakah mereka dapat memiliki kasih karunia Tuhan atau tidak. Hal itu tergantung dari masing-masing individu.

Jadi, kalau Paulus menyatakan rela menggantikan bangsanya, hal itu tidak dimaksudkan hendak melawan keputusan, ketetapan, dan tatanan dari Allah. Paulus sangat berdukacita atas keputusan salah saudara sebangsanya dalam menggunakan kehendak bebas mereka menolak Yesus, sehingga mereka bisa binasa. Dari pernyataan dan kesaksian Paulus menunjukkan bahwa Paulus adalah hamba Tuhan yang dipimpin Roh Kudus. Dalam Roma 9:1-3 ini, jelas-jelas menunjukkan bahwa keselamatan seseorang bukan karena ditentukan oleh Allah, tetapi oleh karena kehendak bebas masing-masing individu. Hal ini seharusnya diterima sebagai kebenaran yang tidak terbantahkan. Logika ini sangat sehat dan cerdas. Jika tidak demikian, maka pasti sebuah kesalahan fatal.