Kebaikan Allah
31 March 2021

Play Audio

Kita sudah terbiasa mendengar, dan bahkan kita sendiri yang mengucapkan bahwa Allah itu baik. Namun, bagaimana kita bisa memahami dengan benar isi dan pengertian “baik” di situ? Kalau kita tidak bertumbuh dewasa, kita akan gagal memahami apa yang “baik” yang dimaksud Alkitab. Sama seperti ketika masih kanak-kanak usia 3-6 tahun, jika memahami kebaikan orangtua, hal itu diukur dari hadiah boneka, mainan, diajak jalan-jalan, dan lain sebagainya. Itu menggembirakan hati anak-anak, yang kemudian ketika papa mamanya minta dicium, mereka dengan semangat menciumnya karena ada hadiah atau ada sesuatu yang menyenangkan mereka. Itu yang dipahami sebagai “kebaikan” di dalam ukuran anak-anak. Itu pemahaman yang tidak dewasa, tidak matang. Gambaran ini bisa dikenakan dalam hidup orang Kristen. Ketika kita belum dewasa rohani, kita memahami kebaikan Tuhan dengan hal-hal yang terkait dengan jasmani. Padahal, hal-hal ini juga bisa dimiliki orang-orang yang tidak mengenal Tuhan Yesus; orang-orang beragama lain yang mengakui Allah mereka baik diukur dari berkat jasmani.

Orang-orang fasik yang tidak takut Tuhan dan tidak peduli hukum-Nya, faktanya limpah dengan berkat jasmani. Berkat jasmani bukanlah ukuran berkat dan kebaikan Tuhan. Betapa miskinnya pengertian “kebaikan” di sini. Itulah sebabnya, di Injil Yohanes 6, Yesus berkata kepada orang-orang yang kelihatannya begitu bersemangat mencari Tuhan. Tuhan berkata, “Kamu mencari aku bukan karena melihat tanda-tanda itu, melainkan karena kamu makan roti sehingga kenyang.” Artinya, mestinya mereka mencari Tuhan karena melihat tanda (Yun. semeion) atau “petunjuk arah.” Mestinya orang percaya sudah mengerti apa maksud kedatangan Yesus ke dunia, apa isi keselamatan; apa isi daripada buah kurban kematian Yesus di kayu salib. Tuhan berkata, “Bekerjalah untuk roti yang tidak dapat binasa. Jangan bekerja untuk roti yang dapat binasa” (Yoh. 6:27).

Harus selalu diingatkan bahwa kita ini makhluk kekal. Sebenarnya Allah merancang manusia tidak perlu meninggal dunia, tetapi manusia harus mati karena bumi ini juga akan menjadi lautan api dan tidak bisa menjadi hunian yang ideal. Maka, Tuhan mempersiapkan langit baru bumi baru. Dan orang percaya mendapatkan tempat itu. Itu lebih dari semua keberhasilan dan sukses yang bisa kita capai. 1 Petrus 1:3-4 menulis, “Allah memberikan kepada kita hidup yang penuh pengharapan, yang tersimpan di surga.” Dan kita hidup di bumi ini merupakan satu-satunya kesempatan untuk mempersiapkan kehidupan yang akan datang.

Kita harus benar-benar mengerti berkat utama atau berkat inti dari keselamatan itu. Jangan kita menjadi bodoh, meleset, menyimpang; tidak mengerti maksud, tujuan kasih yang Allah berikan kepada kita. Tetapi sayang, banyak orang Kristen yang “gagal paham” di sini. Kasih Tuhan diukur dengan kehidupan di bumi yang nyaman. Mestinya kita bisa melihat kebaikan Tuhan, bahkan kehadiran-Nya dalam langkah hidup kita setiap hari, yaitu ketika kita menyadari bagaimana Allah yang baik mendidik kita. Ia mendidik kita dengan membidik kelemahan, kekurangan kita. Dan ketika kita menyadari perubahan itu lewat proses perubahan melalui persoalan-persoalan hidup yang kita jalani, kita membuktikan Allah itu hidup.

Allah itu hidup bukan hanya dibuktikan dari kejadian sakit lalu menjadi sembuh, sebab setan juga bisa lakukan itu. Kehadiran Allah, kasih kehadiran-Nya bukan hanya dibuktikan dengan persoalan-persoalan kita yang bisa kita lewati. Sebab, ternyata orang-orang di luar Kristen pun bisa mengalami hal-hal tersebut. Tetapi kalau kehidupan yang diubah dari manusia yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi, tidak bisa dikerjakan oleh siapa pun. Karena itu, mustahil bagi manusia, tapi tidak mustahil bagi Allah. Kita harus meraih kesempatan tak ternilai ini.

Kalau tidak mau mendengar peringatan Tuhan ini dan masih hidup dalam kehidupan yang kotor, kita pasti akan menyesal. Ketika kita melihat keagungan Tuhan, kita akan tahu betapa nista dan hinanya diri kita di hadapan kesucian Allah. Lebih baik kita lihat nestapa dan kenajisan kita, supaya kita membenahi diri dengan serius. Allah akan memberikan kepada kita bukan saja kemampuan, melainkan juga sarana dan prasarana yang Tuhan izinkan berlangsung dalam hidup kita agar kita mengalami perubahan. Jangan lagi menjadi orang yang sekadar menjadi orang beragama Kristen, pergi ke gereja. Karena yang masuk surga adalah orang yang melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23).

Dengan sesama, hendaknya kita tidak berkompetisi untuk hal-hal fana, melainkan berkompetisi di dalam kekudusan. Hendaknya, kita tidak dibodohi oleh dunia. Dunia memberikan kenyamanan semu yang sesaat. Kita telah tertipu selama bertahun-tahun. Selama ini, gereja tidak berani berbicara keras, sementara dunia terhilang. Hal ini harus membuat kita memiliki sense of crisis; perasaan krisis. Bagaimana kita bisa tenang melihat dunia yang diambang kehancuran? Ironisnya, banyak orang-orang Kristen yang tidak mengerti panggilan-Nya. Kenapa kita tidak memiliki perasaan krisis ekstrem yang positif? Bukan untuk melukai orang, tapi kita melukai diri kita sendiri; melukai kedagingan, kodrat dosa kita, nafsu-nafsu rendah kita supaya kita mengenakan kehidupan Tuhan Yesus sehingga menjadi saksi dan memberkati sesama. Kita tidak boleh setengah-setengah. Kita harus hidup tidak bercacat, tidak bercela. Setiap kata yang kita ucapkan harus benar, tidak boleh ada kebencian.

Dan setiap hari kita akan memiliki pengalaman-pengalaman sebagai pelatihan bagaimana memiliki kehidupan yang mengenakan pribadi Kristus. Jangan setengah-setengah menjadi orang Kristen. Kita harus ekstrem dalam kesucian, kekudusan, dalam hidup tidak bercacat, tidak bercela. Sebenarnya, tidak mudah mengucap hal ini karena kita akan dikejar dan dituntut untuk memenuhinya. Tetapi, kita harus berani punya prinsip: “Lebih baik umurku tidak dipanjangkan, daripada aku hidup dalam dosa. Lebih baik aku mati, daripada aku hidup mendukakan hati Tuhan.” Kita mau selesai sebelum hidup kita selesai di bumi ini.