Keadilan Versi Untuk Semua
22 June 2018

Setelah Paulus berbicara mengenai pemilihan Allah atas Yakub, maka Paulus menantang orang-orang Yahudi atau siapa pun yang tidak menerima tindakan dan keputusan-keputusan Allah dengan pernyataan: Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! (Rm. 9:14). Kata “tidak adil” dalam teks aslinya adalah adikia (ἀδικία), selain dapat diterjemahkan tidak adil (injustice), juga dapat diterjemahkan tidak benar (unrighteousness), jahat (wickedness), tindakan yang salah (wrongdoing). Pernyataan Tuhan dalam Roma 9:14 masih dalam konteks pemilihan Allah atas Yakub. Kalau pernyataan Paulus ini dikenakan untuk semua orang, maka membangun doktrin keselamatan yang sangat keliru dan membangun image yang sangat buruk mengenai Allah.

Dari pernyataan tersebut di atas, Paulus hendak mengatakan bahwa Allah tidak mungkin tidak adil, tidak mungkin tidak benar atau berbuat suatu tindakan yang salah atau suatu kejahatan. Juga dalam pemilihan-Nya atas Yakub sebagai nenek moyang umat pilihan yang melahirkan Mesias. Jadi, ketika Paulus mengatakan: Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil?Mustahil! Kalimat “apakah Allah tidak adil”, juga berarti apakah Allah jahat? Tentu saja Allah tidak jahat. Ketidakadilan adalah kejahatan. Dalam hal ini, tidak mungkin Allah menentukan orang selamat, sedangkan yang lain dibiarkan binasa. Pemilihan tersebut hanya menyangkut pemilihan bangsa Israel sebagai umat pilihan, bukan penentuan individu menjadi umat pilihan.

Kalau Allah menentukan seseorang dapat memiliki keselamatan, dan yang lain dibiarkan tidak memiliki keselamatan, maka berarti Allah adalah Allah yang jahat, sebab tidak adil. Lebih kurang ajar lagi, kalau tindakan Allah tersebut dianggap sebagai “keadilan versi Allah”. Mereka yang berpandangan salah tersebut menyatakan, bahwa Allah berhak memiliki moral yang tidak sama dengan manusia. Keadilan atau ketidakadilan versi Allah berbeda dengan versi manusia. Hal ini benar-benar kacau, sebab harus diingat bahwa manusia sebagai gambar dan rupa Allah adalah “Masterpiece”-Nya, tidak mungkin diajar keadilan atau ketidakadilan versi yang lain. Kalau keadilan versi tersebut dikenakan dalam kehidupan orang percaya, betapa rusaknya kehidupan ini. Keadilan Allah haruslah keadilan versi untuk semua, yaitu keadilan yang dikenakan oleh Allah, yang juga harus dikenakan semua manusia.

Allah pasti bertindak dengan adil, benar, dan tidak akan pernah berbuat sesuatu yang salah. Pemilihan Allah atas Yakub pasti berdasarkan tatanan atau hukum di dalam diri Allah yang sempurna (tidak bercela). Kalau Allah membenci Esau dan mengasihi Yakub, memang Esau tidak berhak dan tidak layak menjadi nenek moyang umat pilihan, dan itupun dalam konteks pembicaraan mengenai tindakan bangsa Israel yang tidak menghormati Allah, sehingga Allah harus memberi teguran kepada mereka.

Ketika Allah mengatakan membenci Esau dan mengasihi Yakub, hal itu harus dimengerti dalam konteks ketika bangsa Israel tidak bersikap pantas kepada Allah (Mal. 1). Dari pernyataan ini, Allah hendak menunjukkan bahwa Allah membenci sikap tidak hormat bangsa itu terhadap Elohim Yahwe. Dalam hal ini diingatkan, bahwa Allah tidak membenci Esau sejak dalam kandungan. Ketika Allah berkata bahwa yang muda akan menjadi tuan bagi yang tua, Allah hanya menubuatkan, berhubung orang tua Esau dan Yakub mempertanyakan mengapa dua anak dalam kandungan berdesak-desakan. Jangan sampai ada orang Kristen berpikir bahwa Allah membenci seseorang tanpa alasan.

Supaya tidak salah memahami tulisan Paulus dalam Roma 9:14 perlu diingatkan, bahwa pemilihan atas Yakub tidak paralel dengan pemilihan individu untuk menjadi umat yang diselamatkan. Roma 9:4 konteksnya hanya pemilihan suatu bangsa, yaitu bangsa Israel, bukan pemilihan individu untuk menjadi umatpilihan. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa Esau tidak pernah menjadi hamba bagi Yakub, tetapi secara komunitas, keturunan Esau yaitu bangsa Edom tidak menjadi bangsa yang diberkati oleh Tuhan. Dengan demikian, sangatlah keliru kalau pemilihan Yakub sebagai ahli waris dan penolakan Allah atas Esau disejajarkan atau menjadi tipologi dari pemilihan keselamatan atas individu.

Mengenai keselamatan atas setiap individu bukan berdasarkan perbuatan (Taurat), tetapi berdasarkan iman atas orang-orang yang dipilih Allah memiliki kesempatan untuk meresponi keselamatan tersebut. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk ini. Hanya orang-orang yang terpilih yang memiliki kesempatan ini. Orang yang diberi kesempatan untuk memiliki keselamatan inilah orang yang terpilih tersebut (Rm. 8:28-29; Ef. 1:4-5). Keselamatan berdasarkan iman, bukan berarti hanya meyakini dengan pikiran atau nalar bahwa Yesus adalah Juruselamat, tetapi penurutan terhadap kehendak Allah dalam bentuk tindakan secara konkret atau nyata.