Ke Tingkat Yang Lebih Tinggi
22 April 2017

Sebenarnya jiwa manusia penuh dengan perbendaharaan yang busuk yang tidak berpotensi membangun diri menjadi manusia yang dikehendaki oleh Allah. Sebaliknya berpotensi menjauhkan manusia dari keadaan memiliki gambar diri yang sesuai dengan kehendak dan rancangan Allah. Perbendaharaan itu antara lain: keserakahan, kesombongan atau hasrat dihormati, kebencian, ambisi memerintah orang lain atau mau berkuasa, tidak mau menerima orang lain sebagaimana adanya dan lain sebagainya. Inilah yang membuat gambar diri manusia semakin jauh dari gambar diri ideal yang harus dicapai oleh setiap individu. Perbendaharaan jiwa yang busuk tersebut juga merupakan penyakit jiwa yang tidak mudah disembuhkan.

Banyak orang merasa sudah sembuh dari hal-hal itu, tetapi sebenarnya belum. Karena kecerdasan dan kelicikan hati seseorang, maka manifestasi dari kebusukan jiwanya tidak mudah dikenali, bahkan oleh dirinya sendiri. Pendidikan budi pekerti, pengembangan kepribadian dan berbagai ajaran etika sering hanya memoles bagian luarnya, tetapi tidak memperbaharui sampai ke kedalaman. Pada dasarnya orang-orang seperti itu belum hidup baru dalam Tuhan seperti yang dikemukakan dalam 2 Korintus 5:17. Kepada orang-orang seperti itu Tuhan menyatakan bahwa mereka tidak dikenal atau tidak dapat dinikmati oleh Tuhan (Mat. 7:21-23). Mereka berkeadaan jauh dari standar kesucian atau kebenaran Tuhan.

Bagaimana seseorang bisa mengenali, bahwa dirinya masih berkeadaan jauh dari standar kesucian atau kebenaran Tuhan? Ia harus memiliki kesungguhan untuk mencapai standar hidup yang luar biasa. Ia tidak boleh merasa puas dengan kebaikan yang telah ia capai. Ia harus selalu bertanya: Apakah ada yang lebih baik dari apa yang sudah kucapai hari ini? Seperti pertanyaan orang muda yang kaya dalam Matius 19:20: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Hanya orang yang haus dan lapar akan kebenaran yang akan dipuaskan (Mat. 5:6). Orang yang selalu ingin mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam kesucian Tuhan dan yang sungguh-sungguh berusaha yang akan memperoleh jawaban. Bagaimana seseorang dapat dinaikkan ke tingkat yang lebih tinggi kalau ia sendiri tidak memiliki keinginan dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapainya (Luk. 13:23-24)?

Banyak orang yang tidak memiliki kerinduan untuk mencapai tingkat kesucian atau kebenaran yang lebih tinggi disebabkan karena menganggap hal tersebut tidak terlalu penting. Bagi mereka segala kesenangan hidup lebih berarti dan membahagiakan. Tanpa disadari, mereka merendahkan nilai-nilai kesucian dan kebenaran Tuhan serta mencampakkannya seperti sampah. Orang yang merendahkan nilai-nilai kesucian Tuhan adalah orang yang pada dasarnya menghina Tuhan sendiri. Keadaan ini membangun gambar diri yang sangat buruk, sebuah gambar diri yang fasik dan jauh dari yang dikehendaki dan dirancang oleh Allah.

Pada dasarnya mereka menghina Tuhan. Tetapi mereka tidak merasa demikian, sebab mereka masih melakukan kegiatan gereja dan dihargai oleh sesamanya sebagai orang baik. Inilah orang-orang yang tidak mendahulukan Kerajaan Surga, walaupun mereka adalah orang-orang yang aktif dalam kegiatan gereja. Kerinduan untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam kesucian harus berangkat dari diri sendiri. Hal ini tidak bisa dipaksakan. Ini adalah pilihan. Bila seseorang menunda memilih hal ini, maka ia tidak akan memiliki kerinduan tersebut untuk selamanya. Ia menyia-nyiakan hidupnya.

Semakin menjadi pribadi yang bertumbuh dalam kesucian Tuhan, maka semakin nyata bangunan gambar diri sesuai dengan kehendak dan rancangan Allah. Dalam hal ini sangat jelas bahwa terbangunnya gambar diri seseorang adalah terbangunnya kesucian yang berstandar Allah terperagakan dalam kehidupan seseorang. Orang seperti ini memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah. Ia bukan saja tahu apa yang baik menurut ukuran umum, tetapi ia juga mengerti apa yang baik menurut pikiran dan perasaan Allah. Tentu saja hal ini akan membawa seseorang bisa berpikir, berucap dan bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Jika dipersoalkan sampai seberapa jauh kesucian hidup dapat dicapai? Jawabannya adalah “bisa tidak terbatas”. Seandainya seseorang memiliki waktu umur hidupnya 1.000 tahun di bumi, maka waktu 1.000 tahun itu pun tidak cukup untuk menjangkau kesucian dan semua kebenaran Tuhan yang tersedia bagi manusia. Itulah sebabnya sangat mungkin perkembangan kesucian dan kebenaran Tuhan dalam hidup seseorang berlanjut terus nanti di langit baru dan bumi yang baru. Tetapi hal ini hanya dialami oleh orang-orang yang selama hidup di dunia menghargai kesucian dan kebenaran Tuhan.