Karunia Sulung Roh
24 September 2018

Sesungguhnya, semua manusia adalah anak-anak Allah, sebab roh manusia adalah roh yang berasal dari Allah Bapa. Itulah sebabnya Allah Bapa disebut sebagai Bapa segala roh (Ibr. 12:9). Kebenaran ini dinyatakan oleh tulisan Yakobus: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!” (Yak 4:5). Roh yang dimaksud di sini bukanlah Roh Allah, tetapi roh manusia. Oleh karena roh manusia adalah roh dari Allah, maka Allah menghendaki roh manusia kembali kepada-Nya. Sebenarnya pergumulan Adam adalah pergumulan untuk mengesahkan diri sebagai anak Allah secara permanen. Secara permanen artinya Adam mencapai suatu level karakter Ilahi yang ideal seperti yang dikehendaki oleh Bapa dan tidak pernah akan berubah lagi atau tidak akan jatuh lagi. Tetapi ternyata Adam gagal. Tuhan Yesus memberi teladan bagaimana menjadi anak-anak Allah.

Tuhan Yesus adalah manusia pertama yang berhasil mencapai kehidupan sebagai anak Allah yang ideal atau sempurna. Dialah model manusia yang diinginkan oleh Allah. Keberhasilan-Nya sebagai manusia seperti yang dikehendaki oleh Bapa, menempatkan Diri-Nya sebagai pokok keselamatan bagi mereka yang taat kepada-Nya (Ibr. 5:9). Pokok keselamatan dalam teks aslinya adalah aitios (αἴτιος). Aitios bisa berarti author, he person who originated or gave existence to anything (seorang yang menciptakan sesuatu). Kata aitios juga bisa berarti penggubah (composer). Dengan kemenangan-Nya, maka Tuhan Yesus dapat menggubah manusia berdosa menjadi anak-anak Allah. Tuhan Yesus sendiri telah belajar dan berhasil. Dalam hal ini, untuk mencapai kesempurnaan, Tuhan Yesus tidak menerimanya secara otomatis oleh anugerah, tetapi hasil dari perjuangan-Nya. Umat pilihan adalah orang yang diperkenan mencapai level itu. Inilah yang dimaksud Paulus bahwa kita memiliki karunia sulung roh (Rm. 8:23).

Bagaimana sebenarnya seseorang pantas disebut sebagai anak-anak Allah? Dalam Roma 8:14 Alkitab mencatat bahwa semua orang, yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. Jadi, orang yang tidak dipimpin oleh Roh Allah berarti bukan anak Allah. Kata “dipimpin” dalam teks aslinya adalah agontai (ἄγονται), dari akar kata ago (ἄγω), yang selain berarti memimpin (to lead) juga berarti “dibawa” (to bring; to carry) atau dimotori (to drive). Hal ini hanya terjadi dalam kehidupan umat pilihan. Kita adalah orang-orang yang sungguh beruntung, karena kita menjadi orang yang terpilih untuk bisa hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Melalui proses pendewasaan kita dapat menjadi anak yang sah.

Dalam Ibrani 12:8 terdapat kata “anak gampang”. Dalam teks asli Alkitab kata anak gampang di sini adalah “nothos’ (νόθος), yang artinya anak yang tidak resmi (Ing. illegitimate son). Kata ini juga bisa berarti anak haram (Ing. bastard). Dalam Yunani selain ada kata nothos juga ada kata huios (υἱός), yang artinya anak dalam arti anak yang resmi atau anak yang sungguh-sungguh memiliki pertalian keluarga atau anak yang sah (Ing. kinship). Kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Yesus yang adalah Anak Allah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

Orang Kristen yang berkodrat Ilahi disebut huios,
sedangkan orang Kristen yang tidak berkodrat Ilahi sama dengan nothos.

Tujuan keselamatan pada intinya adalah menjadikan anak manusia berubah sehingga berkeadaan sebagai anak Allah, yaitu berkodrat Ilahi. Dengan berkeadaan sebagai anak Allah maka seseorang barulah mendapat legalitas atau pengesahan status sebagai anak Allah. Dengan demikian seseorang dikatakan berstatus sebagai anak Allah kalau berkeadaan sebagai anak Allah. Berkeadaan sebagai anak Allah yangberkodrat Ilahi maksudnya memiliki ciri-ciri nyata dalam kehidupan ini yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Dalam hal ini paling tidak ada 5 ciri seorang yang berkeadaan sebagai anak Allah.

  • Pertama, kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela.
  • Kedua, tidak memiliki perasaan takut menghadapi segala keadaan.
  • Ketiga, tidak memandang dunia sebagai keindahan.
  • Keempat, merindukan rumah Bapa.
  • Kelima, berjuang tanpa batas melakukan kehendak Bapa dalam pelayanan penyelamatan jiwa-jiwa.

Masing-masing butir ini memuat pengertian yang luas dan mendalam. Tanpa ciri-ciri ini seseorang tidak pantas menyandang statusnya sebagai anak Allah.

Pengesahan sebagai anak yang sah ditentukan oleh apakah seseorang
mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau berkodrat Ilahi atau tidak.

Mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau mengenakan kodrat Ilahi artinya memiliki karakter seperti Bapa, sehingga dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan Bapa. Dengan hal ini hendaknya seseorang tidak mudah mengaku sebagai anak Allah yang sah dan merasa layak masuk ke dalam Kerajaan Surga hanya karena menjadi orang Kristen dan merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Percaya bukanlah sesuatu hal yang sederhana. Harus dipahami dengan benar bahwa percaya bukan saja pengaminan akali atau persetujuan pikiran, percaya adalah tindakan selalu melakukan apa pun yang dikehendaki oleh Bapa.