Karir Kekal
25 September 2020

Play Audio Version

Dunia yang semakin fasik ini sangat kuat mencenderungkan manusia untuk lebih mudah menjadi rusak daripada menjadi baik. Terkait dengan hal ini, Firman Tuhan mengatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu. Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Ef. 5:14-17). Melakukan kehendak Allah adalah karier yang menghasilkan kekekalan yang indah dan mulia.

Betapa tidak seimbangnya cara berpikir—atau betapa bodohnya—manusia yang menjadikan sesuatu sebagai segalanya, sementara sesuatu yang dijadikan segala tersebut bersifat temporal atau sementara atau fana; sementara kesadaran seseorang bersifat kekal. Inilah yang disebut sebagai manusia yang tidak berakal. Kepada manusia seperti ini, Yesus berkata, “Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (Luk. 12:20-21). Dalam kenyataannya, orang-orang seperti “orang kaya” dalam Lukas 12 ini dipandang cerdas oleh dunia, tetapi di mata Allah adalah bodoh. Kebodohan di kekekalan artinya dalam kebinasaan abadi.

Kata “bodoh” dalam teks ini adalah aphron (ἄφρων) yang artinya selain foolish, senseless, silly (bodoh, tolol), tetapi kata ini juga berarti ceroboh (careless), tidak menyadari (ignorant). Konteks dalam Injil Lukas 12:20 adalah mengenai orang kaya yang terus-menerus mengumpulkan harta di bumi tetapi “neglect” (mengabaikan) terhadap kekekalan (Luk. 12:15-21). Itulah sebabnya Paulus mengatakan, “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Ef. 5:15-17).

Yesus tidak memberi peluang sedikit pun untuk kita memikirkan hal-hal yang fana. Kalaupun kita berkarier, hal itu hanya sebagai jembatan atau sarana untuk mengabdi kepada “Tuhan” yang menjadi segalanya dalam hidup kita. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus mengikat persahabatan dengan mempergunakan mamon (Luk. 16:9). Mamon bukanlah sahabat, tetapi sarana untuk membangun hubungan dengan Allah yang benar. Banyak orang Kristen bersikap terbalik, mereka bersahabat dengan dunia dan menggunakan Tuhan sebagai alat untuk meraihnya. Persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak. 4:4). Kata “persahabatan” dalam teks aslinya adalah philos (φίλος). Kata yang sama yang digunakan dalam Lukas 16:9. Oleh sebab itu, kita harus berani menanggalkan segala keinginan untuk menikmati dunia ini. Jangan menjadi orang seperti yang dilakukan anak-anak dunia yang tidak berjuang menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Bagi mereka, karier adalah segalanya dalam hidup ini. Bagi orang percaya, Tuhan adalah segalanya dalam hidup ini. Hanya orang yang menjadikan Tuhan segalanya dapat hidup dalam perdamaian dengan Dia.

Ketika seseorang menjadi umat pilihan, maka ia harus terus belajar menempatkan Tuhan sebagai pusat. Pusat di sini sama artinya dengan tujuan, arti atau makna ,dan nilai. Menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan sama artinya menjadikan sebagai tujuan, arti atau makna dan nilai kehidupan ini, bukan harta. Tanpa Tuhan, berarti hidup ini tidak mempunyai tujuan, tidak berarti, dan tidak bermakna, serta tidak bernilai sama sekali. Menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan, artinya bahwa hidup ini hanya untuk memuaskan hati Tuhan dan melakukan kehendak-Nya semata-mata. Tidak ada sesuatu apa pun yang menjadi pusat kehidupan ini. Inilah tujuan menciptakan manusia.

Manusia yang materialisme menempatkan harta sebagai pusat kehidupan. Seorang yang gila hormat menempatkan kehormatan sebagai pusat kehidupannya. Seorang yang terobsesi menjadi orang terkenal menempatkan popularitas sebagai pusat kehidupan. Seorang yang mendewakan kecantikan menjadikan kecantikan sebagai pusat kehidupan. Seorang yang mendewakan gelar menempatkan pendidikan sebagai pusat kehidupannya. Orang beragama menjadikan hukum dan ritual sebagai pusat kehidupannya. Hal terakhir inilah yang akan menjadi pusat renungan kita.

Orang yang menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupannya akan berkata seperti Tuhan Yesus berkata: Makanan-Ku melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Inilah yang namanya hidup bagi Tuhan. Inti dari hidup bagi Tuhan adalah berusaha mengerti kehendak Tuhan dan melakukan kehendak-Nya itu. Hidup seperti ini adalah kehidupan orang yang kehilangan nyawanya (Mat. 10:39). Ia tidak memiliki keinginan apa pun dalan hidup ini kecuali melakukan kehendak Bapa. Segala sesuatu yang diingini dan dilakukan untuk kepentingan Tuhan semata-mata. Tidak ada orang yang lebih kaya dari orang-orang seperti ini. Inilah yang dimaksud dengan mengumpulkan harta di surga.