Isi Dan Tujuan Keselamatan
12 July 2019

Tuhan Yesus mengatakan dalam Matius 5:18-19 bahwa hukum masih harus ada sampai langit dan bumi yang sekarang ini lenyap. Mengapa demikian? Sebab sebelum penghakiman terakhir, Taurat tidak mungkin ditiadakan atau dihilangkan, justru hukum (Taurat) ini yang menjadi landasan penghakiman kepada semua manusia. Selanjutnya, berdasarkan apa yang dikemukakan Tuhan Yesus dalam Matius 5:18-19, bahwa hukum Taurat menentukan posisi seseorang dalam Kerajaan Surga nanti. Orang yang mengajarkan Taurat dengan benar akan memeroleh hadiah, ada posisi yang baik atau tinggi dalam dunia yang akan datang. Tetapi bagi mereka yang tidak melakukan dan mengajarkan Taurat dengan baik, akan mendapat posisi yang rendah dalam Kerajaan Surga.

Pernyataan Tuhan Yesus di atas jelas memberi kesan seakan-akan Taurat menentukan keselamatan. Sekilas pernyataan ini bertentangan dengan keselamatan oleh anugerah, tetapi sebenarnya tidak. Hukum Taurat tidak ada artinya sama sekali kalau Tuhan Yesus tidak mati di kayu salib. Justru kematian Tuhan Yesus di kayu salib memberi fasilitas keselamatan yang memungkinkan seseorang berkemampuan melakukan hukum secara benar, bahkan menjadi sempurna seperti Bapa di surga. Kalau seseorang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus tetapi ternyata perbuatannya bertentangan dengan hukum Taurat (yang intinya adalah kasih), maka berarti ia tidak menerima keselamatan. Hukum saja dilanggarnya, apalagi menjadi sempurna seperti Bapa. Dalam hal ini betapa pentingnya hukum dalam kehidupan manusia, yang merupakan tangga pertama untuk memasuki tangga berikutnya, yaitu sempurna.

Di Matius 5:19 terdapat kalimat demikian: “… yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum torat akan menduduki tempat yang tinggi.” Kalimat ini tentu saja tidak ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang tidak menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi untuk mereka yang memiliki keselamatan (masuk proses dikembalikan kepada rancangan Allah semula). Sehingga mereka memiliki kehidupan yang luar biasa, yaitu melakukan hukum dan sempurna seperti Bapa. Itulah sebabnya orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan, bahkan melebihi tokoh agama mana pun (Mat. 5:20). Pada waktu Tuhan menyampaikan perkataan tersebut (Mat. 5:17-19) Tuhan Yesus masih menyembunyikan kemesiasan-Nya, berhubung orang-orang Yahudi memiliki konsep yang salah mengenai diri-Nya. Di situ Tuhan hanya mengisyaratkan bahwa orang yang mengajarkan yang baik dan benar adalah orang-orang yang akan memiliki kedudukan yang tinggi dalam Kerajaan Surga, yaitu mereka yang akan menerima kemuliaan bersama Kristus. Dengan kehidupan moral yang luar biasa inilah, orang percaya dapat menjadi terang dan garam dunia. Saksi yang efektif.

Isi dan tujuan keselamatan adalah mengerti apa yang diingini Bapa untuk dilakukan dengan tepat. Masalahnya adalah bagaimana seseorang bisa melakukan kehendak Bapa kalau tidak mengerti kehendak-Nya? Bagaimana seseorang bisa mengerti kehendak Bapa kalau tidak memiliki kecerdasan yang mempertajam kepekaan mengerti kehendak-Nya? Bagaimana seseorang bisa memiliki kecerdasan kalau tidak belajar kebenaran Firman Tuhan? Bagaimana seseorang bisa belajar kebenaran Firman Tuhan kalau tidak memiliki tekad atau niat untuk belajar? Akhirnya, semua kembali atau tergantung kepada masing-masing pribadi. Tekad atau niat ini bisa dibangkitkan oleh diri sendiri. Bukan Tuhan yang membangkitkannya. Sebab kalau niat bisa muncul karena Tuhan berarti manusia hanya seperti sebuah robot saja, dimana segala sesuatu dalam penentuan Tuhan. Kehendak bebas manusialah yang menentukan nasib atau keadaan kekalnya. Kalau seseorang benar-benar ingin memiliki kehidupan yang melakukan kehendak Allah dan tidak mencintai dunia, maka Tuhan akan menuntunnya untuk bertemu dengan kebenaran.

Kalau seseorang mengenal kebenaran, maka mata pengertiannya akan dicelikkan guna mengenali diri secara benar dengan ukuran kesucian yang Tuhan kehendaki. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Tuhan mengatakan bahwa “mata adalah pelita tubuh” (Mat. 6:22). Mata di sini adalah pengertian yang mendalam, yang sanggup memahami standar kesucian Tuhan. Kalau hanya untuk mengerti standar kesucian menurut hukum moral umum, maka tidak dibutuhkan “mata yang terang.” Pikiran biasa yang dimiliki orang pada umumnya sudah cukup untuk bisa mengerti hukum moral umum seperti Taurat bagi orang Israel. Tetapi pikiran biasa yang belum diterangi kebenaran tidak akan dapat mengerti standar kesucian Tuhan. Faktanya banyak orang Kristen hanya mengerti kebenaran sesuai dengan hukum moral umum; bukan kebenaran yang sesuai dengan kesucian Allah. Dari hal ini dapatlah dikonklusikan bahwa banyak orang kristen yang tidak mengenal kebenaran dan Firman-Nya tidak tinggal di dalam mereka. Ternyata mereka ke gereja hanya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai orang beragama, ada yang ke gereja hanya karena hendak menyelesaikan persoalan pemenuhan kebutuhan jasmani. Di pihak lain gereja tidak mengajarkan kebenaran dari Firman yang murni. Pengakuan dosa mereka hanya dosa-dosa moral umum, yang belum sesuai standar kesucian Tuhan.