Indipendensi Dalam Proses Perubahan Kodrat
21 September 2018

Peran inidividu dalam meresponi penggarapan Allah guna berkodrat Ilahi disebut independensi. Indipendensi artinya keadaan dimana seseorang tidak dikendalikan oleh pihak lain dalam bertindak mengambil keputusan dan pilihan. Terkait dengan kehendak bebas, berarti seseorang tidak terikat oleh siapa pun dalam mengambil keputusan karena tidak ada pihak lain yang mengendalikan dan menentukannya. Dengan demikian, sesungguhnya setiap orang dapat menentukan apakah memberi diri diubah menjadi seorang yang berkodrat Ilahi atau tetap berkodrat manusia. Dalam hal ini, bukan Tuhan yang menentukan seseorang dipastikan berkodrat Ilahi dan yang lain tidak. Tetapi tergantung kepada masing-masing individu, bagaimana ia meresponi penggarapan Allah.

Manusia memiliki pikiran dan perasaan yang dapat menciptakan atau membangun suatu keinginan. Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa manusia dapat memiliki pikiran dan perasaan, sehingga dapat membangun atau menciptakan keinginan dari dirinya sendiri. Justru pikiran dan perasaan diadakan oleh Allah, memampukan setiap individu memiliki kehendak dari diri sendirinya. Pikiran dan perasaan dapat memproduksi kehendak atau keinginan apa saja. Dalam hal ini, betapa berbahayanya kalau seseorang mengumbar keinginan, sebab hal ini bisa membinasakan seseorang. Orang percaya harus bisa menyangkal diri, artinya mengendalikan hasrat atau keinginan, sehingga hanya mengingini apa yang dikehendaki oleh Allah.

Keinginan dan hasrat dalam diri seseorang menentukan kodrat orang tersebut.

Kalau keinginan seseorang adalah dunia ini, maka ia berkodrat dunia atau berkodrat manusia; tetapi kalau seseorang mengingini melakukan kehendak Allah saja, makaia berkodrat Ilahi.

Allah juga memiliki indipendensi, sehingga Allah berdaulat. Kedaulatan Allah tidak menghilangkan kedaulatan manusia. Kedaulatan Allah tidak terletak padatindakannya menentukan segala sesuatu berdasarkan keputusan dan pilihan-Nya, tetapi terletak pada tindakan-Nya menegakkan keadilan dari hukum atau tatanan-Nya. Seperti misalnya hukum-Nya adalah apa yang ditabur seseorang itu juga akan dituainya. Allah dalam kedaulatan-Nya menegakkan hukum itu. Ia tidak akan menyangkali hakikat-Nya yang memberi kehendak bebas kepada makhluk ciptaan-Nya, termasuk manusia. Kedaulatan Allah bukan pada tindakan-Nya yang secara sewenang-wenang menentukan sekelompok orang dapat mengalami Kelahiran Baru dan yang lain tidak.

Kedaulatan-Nya terletak pada integritas-Nya yang kokoh
dalam menegakkan tatanan-Nya
tanpa bisa dipengaruhin oleh apapun dan siapapun.

Manusia diberi independensi atau kedaulatan dalam areanya. Memang demikian kenyataannya, bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah, di dalamnya termasuk independensinya. Dalam beberapa kesempatan Tuhan Yesus sudah mengingatkan Yudas agar tidak melakukan kesalahan, tetapi Yudas tetap memilih untuk menjual Gurunya. Akhirnya, Tuhan Yesus membiarkan apa yang akan dilakukan oleh Yudas. Jika Tuhan sudah mengingatkan seseorang dan ia berkeras dalam niatnya, maka Tuhan akan membiarkan ia berbuat apa yang hendak dilakukannya. Dalam hal ini Tuhan menghargai independensi seseorang. Semua kejadian dan kisah yang lain -yang dapat kita peroleh baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru- menunjukkan bahwa Tuhan menghargai independensi atau kemandirian manusia.

Independensi akan menciptakan sebuah kepartneran atau kemitraan yang proporsional antara Tuhan dan manusia. Bukan sebuah mekanisme hubungan yang dinaskahkan, sehingga semua berjalan seperti mesin tanpa perasaan yang wajar atau seperti sebuah sandiwara. Firman yang memerintahkan agar manusia mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan, menunjukkan dengan jelas bahwa manusia independen. Manusia harus mengendalikan perasaan, pikiran dan kehendaknya agar dapat dengan rela mengasihi Tuhan secara proporsional dan natural (Mat. 22:37-40). Dengan kemitraan yang dibangun dari independensi masing-masing pihak, maka kemitraannya menjadi berkualitas. Tidak ada unsur pemaksaan dan tidak kaku. Dengan demikian,

Independensi adalah pilar utama untuk menciptakan
sebuah kemitraan yang ideal dengan Allah.

Tentu saja selama manusia bisa mengimbangi keagungan Pribadi dan kesucian-Nya. Dalam hal ini manusia bisa memberi diri digarap oleh Allah melalui Roh Kudus untuk berkodrat Ilahi atau menolaknya, sehingga tidak pernah berkodrat Ilahi. Jika demikian berarti rancangan Allah semula tidak terealisir dalam kehidupan orang tersebut.

Di Perjanjian Baru -yaitu di zaman anugerah- Allah memberikan kasih karunia yang memungkinkan umat pilihan bisa berkodrat Ilahi atau dikembalikan ke rancangan semula. Namun demikian, walaupun Tuhan memberikan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya, tetapi Roh Kudus tidak akan memaksakan kehendak-Nya. Orang percaya harus memiliki kesediaan untuk hidup dalam penggarapan Allah agar dapat berkodrat Ilahi. Jika tidak, maka Roh Kudus bisa didukakan, sampai bisa tingkat menghujat Roh Kudus (Ef. 4:30). Jika sampai menghujat Roh Kudus, maka berarti seseorang gagal memiliki kodrat Ilahi.