Iman Fantasi
26 June 2020

Play Audio Version

Banyak orang Kristen merasa bahwa dirinya telah dibenarkan oleh iman di hadapan Allah, hanya karena mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Iman hanya dipahami sekadar pengaminan akali atau persetujuan pikiran, padahal iman adalah tindakan. Tindakan tidak cukup dirumuskan dengan kata-kata dan disusun sebagai sistematika teologi. Hendaknya, kita tidak merasa sudah percaya kepada Yesus hanya karena dapat membuat tulisan dalam format-format definisi kalimat akademis yang dinalar, mengenai apa yang dimaksud dengan “percaya” atau “beriman” dalam lembar-lembar karya ilmiah. Format-format definisi kalimat akademis yang dinalar dalam berbagai pokok ajaran sering dipandang sebagai solusi untuk menjalani hidup kekristenan. Seakan-akan dengan memahami pengajaran-pengajaran tersebut, seseorang dapat membangun kehidupan Kristiani sesuai dengan standar Alkitab. Padahal, sering kali pengajaran-pengajaran tersebut hanya untuk mengisi pikiran tanpa memiliki implikasi yang jelas. Hal ini juga disebabkan karena nuansa teologi lebih cenderung pada keyakinan dalam pikiran, bukan pada tindakan yang harus dilakukan.

Banyak orang Kristen hanya mendapatkan penjelasan mengenai iman dari bangunan berpikir para teolog yang dibesarkan dalam tembok akademis. Hal ini membangun pemikiran bahwa dengan memahami teologi, seseorang sudah dapat menjalani hidup kekristenannya dengan benar. Dalam gereja, banyak ajaran yang secara logika memang dapat membangun penalaran yang sistematis mengenai pokok-pokok ajaran Alkitab yang diakui sebagai kebenaran dan dapat dipertanggungjawabkan pula secara akademis. Tetapi pada kenyataannya, penjabaran mereka tidak memiliki “implikasi konkret” yang membangkitkan kehidupan keberimanan yang benar. Inilah yang membuat gereja-gereja di Eropa menjadi mati. Inilah kekristenan yang hanya memiliki Allah dalam fantasi.

Seseorang bisa berkata bahwa dirinya beriman kepada Allah, tetapi apakah Allah merasa dan mengakui iman tersebut? Bisa terjadi, seseorang merasa sudah beriman padahal Allah menilai bahwa orang tersebut belum melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah. “Beriman” yang sama dengan “percaya” dalam teks asli Yunaninya adalah pisteuo yang artinya “menyerahkan diri.” Tindakan Abraham di sepanjang perjalanan hidupnya adalah bentuk iman yang Allah kehendaki. Dalam hal ini, iman bukanlah sekadar aktivitas pikiran. Jika demikian, betapa banyak orang Kristen hari ini yang sebenarnya belum beriman. Bisa dimengerti mengapa Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak. 2:14-26). Iman yang dimaksud Yakobus adalah “keyakinan di dalam pikiran.” Keyakinan di dalam pikiran harus disertai dengan tindakan konkret, yaitu penurutan terhadap kehendak Allah. Itulah sebabnya, kalau seseorang tidak melakukan kehendak Bapa atau tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, berarti tidak beriman, maka ia tidak dikenal oleh Tuhan (Mat. 7:21-23).

Firman Tuhan mengatakan “orang benar akan dibenarkan oleh iman.” Tentu saja “iman” yang dimaksud (Kitab Roma) di situ adalah iman seperti yang diperagakan oleh Abraham, sebab penjelasan Paulus mengenai iman dihubungkan dengan kehidupan Abraham. Oleh sebab itu, untuk mengerti iman yang dimaksud oleh Alkitab, kita harus memerhatikan kehidupan Abraham, sehingga kita memiliki pengertian “iman” yang benar. Dan selanjutnya, kita harus memiliki langkah-langkah kehidupan seperti Abraham dalam penurutan terhadap kehendak Allah (Rm. 4:8-13). Kalau dikatakan bahwa kita dibenarkan oleh iman, itu berarti tindakan-tindakan kita harus dalam penurutan terhadap kehendak Allah, yaitu mengikut jejak Yesus yang menempatkan kita sebagai orang yang diakui percaya kepada Tuhan. Jadi, kalau hanya mengakui status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, belum berarti percaya kepada-Nya.

Pernyataan Alkitab bahwa kita “dibenarkan bukan karena perbuatan” berarti seseorang tidak dapat dianggap benar hanya karena melakukan hukum (Taurat), tetapi harus percaya kepada Yesus Kristus yang telah mati di kayu salib menebus dosa manusia. Percaya di sini bukanlah sekadar “persetujuan pikiran” atau “pengaminan akali,” melainkan tindakan dalam penurutan kepada Allah yang dinyatakan dalam tindakan mengikut jejak-Nya atau hidup serupa dengan Dia; memiliki pikiran dan perasaan Yesus.

Kalau iman dipahami sekadar aktivitas nalar atau pikiran yang dirangkai dalam sistematika teologi semata-mata, maka tidak perlu dikembangtumbuhkan, tidak perlu dikerjakan (Yoh. 6:28-9; Flp. 2:12-13). Iman yang benar membawa seseorang hidup dalam pergumulan untuk mewujudkan iman tersebut. Banyak teolog dan orang Kristen yang merasa telah memiliki iman, hanya karena mengakui status Yesus dan bisa menjelaskan mengenai seluk beluk iman dalam rangkaian format-format definisi kalimat akademis yang dinalar saja. Itulah sebabnya, mereka tidak mengalami Tuhan secara nyata. Iman mereka hanyalah iman fantasi. Mereka memandang pengajaran teologi mereka adalah yang terbaik dan mampu menyelamatkan manusia, padahal teologi mereka hanya membangun keberagamaan dengan liturginya, tetapi tidak menyelamatkan—artinya tidak mengubah orang berubah kodrat. Teolog-teolog seperti ini tanpa sadar sebenarnya telah menyesatkan umat.