Iman dalam Tindakan
27 September 2020

Play Audio Version

Kalimat “kerjakan keselamatanmu” dalam teks aslinya adalah κατεργάζεσθε (katergazeste), dari akar kata katergazomai (κατεργάζομαι), yang artinya as thoroughly working at something, accomplish, commit, as achieving an effect, produce, make completely ready, prevail, overcome (dengan sungguh-sungguh mengerjakan sesuatu, mencapai, berkomitmen, menghasilkan, membuat, membuat benar-benar siap, menang, mengatasi). Kata ini jelas menunjukkan harus ada usaha kita untuk mencapai sesuatu sesuai dengan maksud keselamatan itu diberikan.

Memang Allah yang mengerjakan di dalam kita, tetapi kata “Allah mengerjakan” tidak bermaksud Allah mengambil alih tanggung jawab kita. Dalam teks aslinya adalah energein, energon (ἐνεργεῖν) dari akar kata energeo, (ἐνεργέω) yang artinya be at work, operate, become effective (mengerjakan atau ada di dalam suatu kegiatan atau pekerjaan, beroperasi, menjadikan efektif). Sebenarnya, baik kata “katergazeste” maupun “energon” memiliki kata dasar yang sama yaitu ergon atau erga. Katergazste dari dua kata: kata, ergazomai (κατά, ἐργάζομαι), sedangkan dari dari dua kata yaitu en, ergon (ἐν, ἔργον) yang artinya membuat efektif atau bisa diartikan sebagai be vigorous in pursuit of an objective (menjadi kuat dalam mengejar tujuan).

Seberapa Allah menjadi efektif dalam hidup seseorang, tergantung dari bagaimana kita merespons anugerah yang Allah sediakan. Supaya menjadi efektif, maka manusia harus berani menanggalkan semua beban dan dosa. Beban artinya keterikatan dengan dunia dan dosa. Beban merupakan keterikatan diri kita dengan segala keinginan yang tidak sesuai dengan kesucian Allah. Hal ini menyangkut keinginan daging. Orang yang memiliki keinginan yang tidak sesuai dengan keinginan Allah, tidak dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah.

Dalam hal ini, tidak mungkin kita bisa menjadi orang Kristen tanpa melakukan barter. Yesus berkata bahwa kita harus melepaskan diri dari segala milik, barulah bisa diubah atau menjadi murid-Nya (Luk. 14:33). Harus ada kesediaan dari diri kita untuk melepaskan segala sesuatu yang kita nilai berharga di dalam hidup kita untuk memeroleh Kristus. Paulus dalam Filipi 3:7-9 mengatakan, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Selanjutnya Paulus juga mengatakan, “… dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan” (Flp. 3:9).

Kalimat “kebenaran berdasarkan kepercayaan,” bukan berarti hanya dengan pikiran percaya atau yakin bahwa Yesus adalah Juruselamat maka seseorang dapat mengalami keselamatan. Kebenaran berdasarkan kepercayaan, artinya kehidupan yang benar karena penurutan terhadap kehendak Allah. Iman bukanlah sekadar keyakinan di dalam pikiran. Iman adalah tindakan dalam penurutan kepada seluruh kehendak Allah. Kalau seandainya Paulus hidup pada zaman sekarang, dan mengajarkan bahwa “seseorang harus melepaskan segala sesuatu untuk memeroleh Kristus,” maka tidak sedikit teolog akan mengecam dia. Mereka akan mengatakan, “Paulus, kamu sesat. Keselamatan dapat diperoleh bukan karena perbuatan baik, tetapi karena iman. Kamu mengajarkan anugerah plus. Keselamatan itu diberikan cuma-cuma, istilahnya solagratia. Kamu pasti pengikut Armenius, seorang armenian.” Paulus akan menjawab bahwa dirinya pengikut Yesus dari Nazaret, yang mengajarkan harus melepaskan segala sesuatu baru bisa menjadi murid-Nya.

Paulus akan mengutip ucapan Yesus dalam Matius 13:44-46 tertulis: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.

Teolog-teolog tersebut akan berkata lagi kepada Paulus, “Tidakkah kamu ketahui di Kitab Roma tertulis ‘kita dibenarkan hanya oleh iman seperti Abraham dibenarkan oleh iman bukan oleh perbuatan?’ Selanjutnya Paulus akan menjawab, “Kitab Roma saya yang tulis, Abraham dibenarkan oleh iman, tetapi tahukah kamu apa itu iman? Iman adalah kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus. Kepercayaan itu bukan ada di dalam pikiranmu, bukan pada susunan sistematika teologimu, melainkan pada tindakanmu yang mengikuti jejak Tuhan Yesus. Itulah sebabnya, aku berani berkata ikutilah teladanku, dan orang-orang yang dapat menjadi teladanmu”. Iman yang hanya ada di dalam pikiran tidak membuat seseorang dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah. Tetapi orang yang imannya adalah perbuatan akan hidup dalam perdamaian dengan Allah.