Hidup Yang Tragis
01 January 2019

Kehidupan manusia yang tidak lagi sesuai dengan rancangan Allah adalah kehidupan yang tragis. Mengapa demikian? Pertama,karena manusia harus mengalami kematian. Apa pun prestasi yang dapat dicapai oleh manusia akhirnya akanada ujungnya atau berakhir.Berapapun kekayaan yang dimiliki seseorang juga akan lenyap. Kecantikan maupun penampilan gagah bagaimanapun ada ujung akhirnya. Cinta persaudaraan antar sesama, persahabatan, ikatan keluarga juga akan berakhir. Kedua, karena karakter manusia yang rusak tidak memungkinkan manusia dapat menikmati ciptaan Tuhan secara proporsional atau secara maksimal. Ketiga, segala sesuatu akan berakhir.Inilah yang membuat hidup menjadi tragis.Itulah sebabnya Tuhan menuntun orang percaya di jalan kebenaran agar dapat memiliki kehidupan di dunia lain yang sempurna, yaitu di langit baru dan bumi yang baru. Dunia yang tidak sama dengan dunia yang dihuni manusia hari ini.

Oleh sebab itu, hendaknya orang percaya tidak berupaya membangun Firdaus di bumi ini. Kalau seseorang masih berkeras hati membangun Firdaus di bumi ini, maka pasti tidak akan pernah dapat mengikuti jalan Tuhan yang diajarkan oleh Tuhan di dalam Injil. Segala sesuatu yang diajarkan oleh Tuhan di dalam Injil mempersiapkan umat pilihan untuk mewarisi Kerajaan yang akan datang, Kerajaan di mana Tuhan Yesus Kristus menjadi Rajanya. Orang percaya harus bertumbuh menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, serta menderita bersama-sama dengan Yesus agar dilayakkan mewarisi Kerajaan tersebut bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Sesungguhnya inilah sebenarnya isi Kekristenan.

Kekristenan sama sekali tidak mengarahkan manusia kepada pemenuhan kebutuhan jasmani. Kekristenan sama sekali tidak mengarahkan manusia untuk menikmati hidup dibumi ini seperti manusia pada umumnya. Kekristenan mengarahkan setiap individu yang menerima Yesus sebagai Tuhan untuk mengalami perubahan cara berpikir dan perubahan gaya hidup, dimana target yang harus dicapai adalah sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Sehingga orang percaya dapat dimuliakan bersama sama denganTuhan Yesusdi dalam Kerajaan yang akan datang nanti, yaitu Kerajaan yang Allah Bapa telah sediakan baik bagi Yesus Tuhan maupun bagi orang percaya yang menderita bersama-sama dengan Dia.Jadi, betapa rusaknya Kekristenan seseorang kalau Kekristenan dijadikan sarana untuk pemenuhan kebutuhan Jasmani.

Kalau melihat kehidupan bangsa Israel, jelas sekali orientasi hidup mereka adalah berkat jasmani. Orientasi hidup bangsa Israel adalah perkara-perkara yang bersifat materi; seperti tanah yang subur, negeri yang berlimpah susu dan madu, kejayaan lahiriah, kemuliaan duniawi. Nuansa seperti ini tidak boleh dihadirkan dalam kehidupan orang percaya. Kekristenan tidaklah demikian. Kekristenan mengarahkan orang percaya untuk mencapai kesempurnaan hidup seperti Bapa atau keserupaan dengan Yesus. Semua itu dimaksudkan agar orang percaya dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.

Hidup ini benar-benar tragis sebab pada akhirnya semua yang dicapai manusia di dalam hidup ini harus dilepaskan. Orang-orang yang dikasihi dan yang mengasihi harus ditinggalkan atau meninggalkan. Betapa menyedihkan pada waktu seseorang harus melepaskan orang yang dia cintai, yaitu ketika masuk ke dalam peti mati atau masuk ke dalam liang kubur. Benar-benar sangat tragis. Semua kepuasan hidup dan semua kesenangan akan lenyap seperti uap, dan pasti akan layu seperti bunga rumput pagi yang pada pagi hari merekah indah dan elok, tetapi pada sore harinya telah layu dan dibuang.

Kalau datang ke sebuah kuburan atau tempat pemakaman, maka dapat dihayati betapa fananya hidup manusia. Membaca nama-nama orang yang telah meninggal, yang selagi masih hidup adalah orang-orang hebat, sekarang menjadi tidak ada artinya sama sekali. Betapa menyedihkan. Orang percaya bisa bersyukur karena mengenal jalan Tuhan yang mempersiapkan orang percaya memasuki kehidupan yang lebih baik, yaitu kehidupan kekal di langit baru bumi baru. Oleh sebab itu sesuai dengan Firman Tuhan dalam Kolose 3:1-4 orang percaya harus mencari perkara-perkara yang di atas, bukan yang dibumi. Pikiran harus ditujukan kepada perkara-perkara yang di atas, bukan yang dibumi.