Hidup Secara Luar Biasa
24 April 2018

Hidup beriman dalam Tuhan Yesus berarti hidup secara luar biasa. Tuhan berkata bahwa kita harus sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Perjuangan untuk menjadi sempurna seperti Bapa adalah perjuangan yang tidak akan berhenti sampai seseorang menutup mata. Tuhan Yesus mengatakan “harus” sempurna, ini berarti bahwa menjadi sempurna bagi anak-anak Tuhan tidak boleh ditawar lagi. Gereja tidak boleh memberi kesan bahwa orang percaya boleh kurang sempurna, berhubung adanya kelemahan dan kekurangan manusia. Kesempurnaan inilah yang membuat seseorang memiliki standar moral lebih dari tokoh-tokoh agama manapun (Mat. 5:20). Ini berlaku bagi setiap orang percaya, bukan hanya bagi rohaniwan Kristen. Oleh sebab itu setiap orang Kristen harus berusaha mencapainya dengan segala kemampuan yang Tuhan anugerahkan.

Semua itu merupakan suatu syarat yang harus dipenuhi dan tidak boleh dihindari bagi orang yang mau menjadikan Yesus sebagai Tuhan, sebab mengakui Yesus sebagai Tuhan berarti mengakui otoritas-Nya. Syarat ini bukan berarti sebuah jasa atau penentu keselamatan. Penentu keselamatan adalah korban Tuhan Yesus di kayu salib, yang merupakan jalan keselamatan satu-satunya yang diberikan dengan cuma-cuma, bukan hasil perbuatan baik (Ef. 2:8-9). Dalam hal ini kita harus dapat membedakan antara menerima keselamatan sebagai anugerah dan meresponi anugerah itu dengan mengakui ororitas-Nya untuk hidup secara luar biasa.

Kalau kita berpikir bahwa usaha untuk sempurna dapat merusak doktrin teologia keselamatan oleh anugerah (Ef. 2:8), maka itu suatu pandangan yang sangat keliru. Usaha untuk menjadi sempurna bukan usaha untuk meraih keselamatan, tetapi sebagai respon terhadap anugerah yang Tuhan sediakan. Harus diingat, bahwa Tuhan menghendaki agar orang percaya hidup dalam kebaikan yang Bapa sediakan (Ef. 2:10). Tentu kebaikan yang dimaksud adalah kebaikan standar Tuhan Yesus Kristus. Kesempurnaan yang dikehendaki oleh Tuhan adalah mengenakan pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus (Flp. 2:5-7). Orang yang sungguh-sungguh telah menerima keselamatan atau sedang mengerjakan keselamatan, pasti berusaha untuk sempurna (Flp. 2:12). Tuhan Yesus dijadikan model manusia sempurna seperti yang Bapa kehendaki. Oleh sebab itu, kebaikan dan kesempurnaan Yesus bukan hanya dikagumi, tetapi juga diteladani. Dalam perjalanan pertumbuhan rohani seseorang yang sungguh-sungguh mengusahakan kesempurnaan, tidak bisa tidak ia pasti menampilkan kehidupan Yesus.

Segala usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmani tidak boleh mengurangi usaha untuk mencapai kesempurnaan dalam Tuhan. Kalau seseorang menganggap bahwa mengusahakan kebutuhan jasmani lebih penting dari mengusahakan kesempurnaan seperti Bapa, maka itu berarti ia mentuhankan perut dan berkategori duniawi (Flp. 3: 12-19). Pernyataan ini terkesan berlebihan dan menekan. Tetapi inilah kenyataannya, bahwa orang percaya memang harus sempurna dalam seluruh kegiatan hidupnya. Untuk ini seseorang harus menanggalkan beban dan dosa (Ibr. 12:1). Beban artinya keterikatan dengan dunia ini. Ini sama dengan percintaan dunia. Dosa yang dimaksud di sini adalah keterikatan seseorang dengan keinginan daging atau hasrat dosa dalam dirinya.

Kesempurnaan dalam Tuhan artinya iman yang sempurna seperti Yesus, yang ditandai dengan ketaatan-Nya kepada Bapa di surga (Ibr. 12:2-5). Kenyataan yang dapat dibuktikan hari ini, banyak orang yang mengusahakan pemenuhan kebutuhan jasmani lebih dari mengusahakan diri untuk sempurna seperti Bapa. Mengusahakan untuk sempurna bukan berarti mengurangi waktu kerja, bukan berarti harus menjadi aktivis gereja atau bahkan menjadi pendeta. Mengusahakan diri untuk sempurna berarti selalu dalam sikap berjaga, bahwa kita sedang belajar melakukan segala sesuatu tepat seperti yang Bapa kehendaki. Di sinilah kita belajar untuk memenuhi apa yang dikatakan Firman Tuhan, yaitu jika kita makan atau jika kita minum, atau jika kita melakukan sesuatu yang lain, kita harus melakukan semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Pergumulan pelatihan melakukan kehendak Tuhan dengan benar, justru pada waktu seseorang ada di kantor, toko, tempat kerja, pergaulan di tengah-tengah keluarga dan masyarakat.

Kesempurnaan bukan hanya ditemukan pada waktu seseorang melakukan kegiatan di lingkungan gereja. Justru proses pembelajarannya lebih efektif dan kondusif pada waktu ada seseorang berada di luar lingkaran kegiatan gerejani. Di lingkungan gereja seseorang mudah tercegah untuk melakukan tindakan yang ceroboh. Seseorang menjadi lebih berhati-hati ketika ada di lingkungan gereja. Di gereja seseorang berhadapan dengan saudara-saudara seiman, terlebih lagi berhadapan dengan rohaniwan. Hal ini mencegah seseorang berbuat suatu kesalahan. Tetapi ketika ada di luar gereja, ada banyak faktor yang dapat mendorong orang Kristen untuk berbuat dosa dan lingkungan yang mengkondisi untuk berbuat salah. Di sini seseorang teruji apakah tetap hidup dalam otoritas Tuhan atau tidak.