Hidup Karena Percaya
22 July 2018

Orang percaya diajar untuk menaruh atau meletakkan seluruh pengharapannya bukan pada kehidupan hari ini, tetapi kehidupan yang akan datang. Itulah sebabnya, Paulus juga bisa mengatakan: — sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat — (2Kor. 5:7). Fokus hidup orang percaya bukan pada kehidupan hari ini, tetapi pada kehidupan di dunia lain, di langit baru dan bumi yang baru. Dengan demikian, penderitaan yang mereka alami tidak menjadi sesuatu yang menyakitkan, sampai membuat mereka menyangkali imannya. Justru penderitaan yang mereka alami, merupakan nilai lebih dalam kehidupan ini, yang membuat mereka menjadi mulia atau terhormat. 

Pengharapan memperoleh kemuliaan di balik kehidupan tersebut, membuat mereka menjadi teguh dan kokoh dalam menghadapi segala tantangan yang begitu berat. Hal ini berbeda dengan orang-orang Kristen duniawi, yang tidak menaruh pengharapannya kepada kehidupan yang akan datang; mereka tidak akan sanggup menghadapi tantangan seperti yang dialami gereja mula-mula. Maka tidak heran sekarang pun di zaman ini, orang-orang Kristen seperti itu tidak sanggup menghadapi serbuan pengaruh materialisme dan berbagai godaan untuk berbuat dosa. 

Dalam Roma 10:10 (ayat sebelumnya) telah dijelaskan bahwa orang percaya menghadapi tantangan atau musuh dalam bentuk kekuatan dari kekaisaran Romawi, yang menyiksa dan menganiaya mereka secara fisik. Tetapi orang percaya pada waktu itu, tetap kuat dan benar-benar dapat mengalahkan pergumulan mereka dalam aniaya tersebut dengan kesetiaan yang tinggi kepada Tuhan Yesus, sehingga mereka dapat setia sampai mati. Orang-orang Kristen tersebut tidak takut menderita, tidak takut menjadi miskin, dan terhina oleh kekuatan Roma. 

Dengan keteguhan hati melawan tantangan, orang-orang Kristen tersebut barulah menjadi pemenang dan dapat dikatakan sebagai pemenang. Pemenang di sini maksudnya adalah orang percaya dapat menanggulangi tantangan dalam bentuk aniaya dan berbagai penderitaan, tanpa mengorbankan iman mereka, sebaliknya mereka malah menjadi semakin sempurna atau iman mereka semakin murni. Dengan demikian aniaya yang mereka harus alami, menjadi berkat kekal bagi mereka. Penderitaan karena nama Yesus membuat mereka berhenti berbuat dosa (1Ptr. 4:1) dan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:17).

Demikian pula seharusnya dengan orang percaya pada zaman sekarang. Orang percaya hari ini menghadapi tantangan atau musuh bukan dalam bentuk aniaya fisik, tetapi kekuatan materialisme dan godaan atau bujukan berbuat dosa. Orang percaya harus menang melawan tantangan pada zaman ini. Untuk bisa menang, maka:
• Orang percaya seharusnya tidak takut menjadi miskin, tidak takut dianggap tidak mulia atau tidak terhormat karena tidak memiliki barang-barang dunia fana.
• Orang percaya seharusnya tidak takut menjadi orang yang tidak memiliki kebahagiaan dari dunia ini.
• Orang percaya harus berani tidak menjadi kaya demi kebenaran dan kesucian hidup
• Orang percaya harus berani tidak menikmati dunia dengan segala kesenangannya.
• Orang percaya harus berani menolak dosa, walaupun ia merasakan ada sesuatu yang hilang di dalam daging dan jiwanya.
Dengan demikian orang percaya bisa menjadi pemenang dan dapat dikatakan sebagai pemenang. 

Akhir-akhir ini banyak orang Kristen dengan mudah mengklaim bahwa mereka adalah umat pemenang. Mereka sebenarnya tidak tahu yang dimaksud dengan menjadi umat pememang itu. Dalam ketidaktahuan atau dalam kebodohan mereka menyatakan hal tersebut. Kalau hal ini berlangsung berlarut-larut, maka orang Kristen membiasakan diri menyatakan sesuatu yang tidak dipahaminya. Hal ini membangun kebiasaan memiliki iman fantasi. Iman fantasi ini, menciptakan iman khayalan yang membuat seseorang tidak mengenal dirinya sendiri dengan benar. Betapa mengerikan keadaan ini, kalau suatu hari ternyata mereka tidak dikenal oleh Tuhan, padahal mereka dengan sangat yakin pasti masuk surga.

Selanjutnya, begitu yakinnya Paulus dengan keberadaan orang percaya yang unggul tersebut, sehingga ia mengatakan bahwa berkat keselamatan ini teruntuk juga bagi semua orang, baik orang Yahudi maupun orang Yunani (Rm. 10:13). Dari pernyataan Paulus ini, dikesankan bahwa keberadaan orang percaya yang menderita adalah keadaan yang mulia dan unggul. Itulah sebabnya Paulus menginginkan banyak orang juga bisa memiliki keselamatan. Walaupun untuk itu mereka juga harus berani berkeadaan seperti dirinya dan orang-orang Kristen Roma yang menderita aniaya.