Hidup Dalam Penyembahan Yang Benar
21 November 2019

Banyak orang Kristen secara harfiah menjadikan ayat-ayat Perjanjian Lama sebagai standar hidupnya. Mereka menganggap standar hidup umat Perjanjian Lama, yaitu bangsa Israel, bisa dikenakan oleh orang percaya kepada Tuhan Yesus. Banyak gereja mengajarkan pengajaran yang berlandaskan ayat-ayat Perjanjian Lama yang diterapkan untuk umat Perjanjian Baru. Pola ibadah Perjanjian Lama dikemas dalam model baru, tetapi esensinya tetap sama, yaitu “pola keberagamaan” Israel kuno. Dalam liturgi, mereka merasa sudah menyembah Tuhan dengan nyanyian, padahal dalam konsep Perjanjian Baru yang diajarkan Tuhan Yesus, menyembah Allah bukanlah demikian. Tuhan tidak memerhatikan “penampilan lahiriah,” tetapi isi perjalanan hidup seseorang setiap hari. Umat Perjanjian Baru harus menyelenggarakan hidup mereka sesuai dengan apa yang diajarkan Tuhan Yesus, yaitu menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Dalam kekristenan, yang penting adalah bagaimana seseorang mengisi hari hidupnya sesuai dengan gaya hidup Tuhan Yesus.

Orang yang menyembah Allah memiliki kesediaan untuk dengan rela dan rendah hati mengasihi serta mengabdi kepada-Nya. Menyembah Allah dalam roh dan kebenaran menunjuk pada sikap batin atau sikap hati yang diwujudnyatakan dalam perilaku di sepanjang waktu dan di mana pun berada, bukan sekadar menyelenggarakan liturgi dalam gereja. Dalam menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, Allah menghendaki ibadah yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Ini berarti bahwa ruang ibadah orang percaya meliputi segenap wilayah hidup dan segenap waktunya. Ini adalah ibadah yang tidak terikat oleh sistem dan aturan yang baku. Ini bukan berarti bahwa liturgi yang diselenggarakan itu tidak perlu ketertiban. Tuhan hendak menunjukkan bahwa liturgi orang percaya bukanlah seremonial seperti agama-agama pada umumnya. Untuk itu, setiap orang percaya harus menjadi pribadi yang bertingkah laku sesuai dengan kehendak Allah sebagai Bapa.

Dengan demikian, ibadah bukan hanya soal liturgi, upacara dan ritual, melainkan juga meliputi segenap perilaku dan cara hidup setiap hari di mana pun orang percaya berada. Mereka mengemas liturgi, misa, atau kebaktian seindah-indahnya karena mereka merasa bahwa liturgi adalah sarana penting atau utama untuk menjumpai dan menyenangkan Allah. Proses pendewasaan ke arah kesempurnaan untuk membentuk sikap batin telah digantikan dengan liturgi dan ajaran yang lebih menekankan kepada peraturan moral yang kurang menyentuh sikap batin. Gereja Seakan-akan adalah satu-satunya ruangan penting dan utama untuk menjumpai dan bertemu dengan Tuhan. Dalam kekristenan terdapat unsur kuat adanya proses pendewasaan ke arah kesempurnaan dengan penekanan kepada hal-hal yang bersifat batiniah.

Tuhan Yesus mengajarkan suatu kehidupan tentang “bagaimana bersekutu dengan Allah sebagai Bapa” yang tidak berunsur agama seperti pada umumnya. Roh Allah diam di dalam diri orang percaya. Ini merupakan suatu masa baru dalam kehidupan umat manusia yang belum pernah terjadi, selain pada zaman sebelum manusia pertama jatuh dalam dosa. Manusia diperkenankan “berjalan dengan Allah.” Inilah sebenarnya inti Injil itu. Kabar baik dalam Injil terletak kepada kemungkinan dan kesempatan manusia dapat berjalan dengan Allah, sebagai Bapa. Di tengah hiruk pikuk kehidupan manusia yang membelakangi Tuhan, orang percaya diperkenankan untuk berjalan dengan Allah sebagai anak-anak-Nya. Ini suatu hal yang sangat luar biasa.

Ritual agama boleh dikenakan dalam menjalin hubungan dengan Tuhan. Namun, ritual ini tidak lagi dapat dipertahankan, sebab menurut Tuhan Yesus, ada saatnya orang tidak menyembah Allah di Yerusalem atau di Gunung Gerizim, tetapi di dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Orang-orang Samaria tidak diperkenankan berbakti di Bait Suci Yerusalem, sehingga mereka membuat tempat dan ritual keagamaan di Gunung Gerizim. Hal ini menunjukkan bahwa mereka berpikir bahwa Allah hanya dapat dijangkau melalui ritual agama. Inilah pola keberagamaan yang tidak diajarkan oleh Tuhan Yesus. Dalam hal ini, yang penting adalah bagaimana memahami Injil Kerajaan Surga sebab pemahaman ini akan sangat menentukan apakah seseorang dapat berjalan dengan Allah atau tidak. Oleh sebab itu, yang harus digumuli adalah apa yang diajarkan Tuhan Yesus dan gaya hidup-Nya agar orang percaya bisa mengenakannya dalam kehidupan ini secara konkret. Semakin seseorang mendalami kekayaan yang murni dari Injil dan konsekuen untuk mengenakannya dalam kehidupan, ia dimungkinkan berjalan dengan Allah dalam persekutuan yang eksklusif.