Hidup Dalam Otoritas Tuhan
23 April 2018

Hidup beriman dalam Yesus Kristus berarti hidup dalam otoritas Tuhan. Dalam Matius 5:20, Tuhan menetapkan suatu syarat yang berat untuk mereka yang mau masuk Kerajaan Surga, yaitu harus memiliki hidup keberagamaan yang lebih dari ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Ini pernyataan yang mengejutkan. Bagaimana tidak, sebab ahli Taurat dan orang Farisi adalah tokoh-tokoh agama, yang pada waktu itu dianggap memiliki kesalehan lebih dari masyarakat umum. Dengan pernyataan Tuhan Yesus ini, orang percaya dituntut untuk memiliki target, yaitu hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Hidup keberagamaan dalam teks tersebut adalah dikaosune, yang artinya kebenaran yang bertalian dengan tingkah laku, baik yang nampak di luar maupun yang tidak kelihatan, yaitu sikap hati dan pola berpikirnya.

Ketika seseorang menjadi orang yang mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhan, maka ia harus mengakui otoritas-Nya. Mengakui otoritas Yesus berarti melakukan apa pun yang diperintahkan atau yang Dia kehendaki. Kehendak Tuhan Yesus adalah agar kita menjadi seorang yang luar biasa dalam kelakuan. Ini adalah tuntutan yang sangat berat. Tetapi inilah standar anak-anak Allah, sebab orang percaya haruslah mengenakan standar kehidupan Yesus sendiri. Di dalam pertintah untuk memiliki kebenaran yang melampaui ahli Taurat dan orang-orang Farisi, Tuhan memberi kesanggupan untuk melakukannya. Kesanggupan itu sama dengan kuasa (Yun. exousia), yaitu Roh Kudus yang dimateraikan, Injil dan penggarapan Allah melalui segala kejadian atau peristiwa hidup yang kita alami.

Demikianlah, kita dapat mengerti mengapa Tuhan memberi tuntutan yang sangat berat kepada seseorang yang mau memperoleh hidup kekal, sebab Tuhan menginginkan orang percaya untuk hidup dalam kualitas tinggi (Mat. 19:16-26). Dalam Matius 19:16-26 dikisahkan mengenai seseorang yang merindukan suatu kehidupan yang berkualitas, atau hidup kekal. Tuhan menetapkan suatu syarat untuk memperoleh hidup yang kekal tersebut, yaitu menjual segala milik, membagikannya kepada orang miskin dan mengikut Tuhan Yesus. Orang ini tidak bisa memenuhinya, dengan sedih ia meninggalkan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak mencegah kepergiannya. Tuhan tidak mau menahan orang yang memang tidak berniat untuk memperoleh keselamatan dalam Yesus Kristus. Dalam hal ini kita temukan, bahwa Tuhan tidak menolerir orang yang yang tidak sungguh-sungguh mau memenuhi tuntutan-Nya. Tuhan tidak mengurangi tuntutan-Nya.

Memang Tuhan penuh kasih, tetapi Tuhan adalah Tuhan yang memiliki otoritas dan ketegasan yang tidak bisa diatur oleh manusia. Kalau Tuhan berkata: “Kamu harus sempurna…”, maka kita tidak boleh menawar kehendak Tuhan tersebut dengan kehidupan yang kurang sempurna. Walau mungkin sampai mati kita tidak sempurna, tetapi kita harus mengusahakan kesempurnaan dengan sungguh-sungguh. Usaha untuk sempurna inilah bukti bahwa seseorang mengakui otoritas-Nya. Dan orang-orang seperti ini layak disebut umat-Nya. Oleh sebab itu mendengar kata “sempurna”, hendaknya kita tidak gentar. Kita harus memandang Tuhan dan lebih gentar terhadap Dia. Kalau seseorang memiliki kegentaran yang patut terhadap Allah, maka apa pun yang diperintahkan pasti dipenuhinya, artinya tidak ada hal yang besar. Sebab hanya Allah yang besar.

Hidup beriman dalam Yesus Kristus, berarti tunduk pada otoritas Tuhan tanpa batas. Hal ini telah ditunjukkan oleh Abraham sebagai bapa orang percaya. Ketika Elohim Yahwe menghendaki korban bakaran yang menggunakan anaknya sebagai korban bakaran, Abraham tidak membantah sama sekali. Abraham melakukannya dengan mantap tanpa ragu-ragu. Juga ketika sampai hari tuanya, Abraham tidak menemukan negeri yang dijanjikan, Abraham tetap bersiteguh tidak kembali ke Urkasdim. Sikap kepatuhan Abraham ini menunjukkan sikap hormatnya kepada Allah. Orang seperti ini pantas menjadi sahabat Allah.

Demikianlah mestinya kita yang memanggil Yesus sebagai Tuhan, maka kita harus tunduk kepada otoritas-Nya tanpa batas. Panggilan Tuhan atau Kurios terhadap diri Yesus, mengisyaratkan bahwa kita menjadi budak-Nya. Seorang budak tidak memiliki hak sama sekali atas dirinya. Majikan yang membeli dirinya itulah yang berhak atas diri budak tersebut sepenuhnya. Jadi kalau kita mengaku Yesus sebagai Tuhan, tetapi tidak hidup di dalam otoritas-Nya, berarti secara tidak langsung kita hendak menipu Tuhan dan menipu diri sendiri. Orang-orang seperti ini pasti ditolak oleh Tuhan. Mereka memanggil nama Yesus, tetapi tidak melakukan kehendak Bapa. Kehendak Bapa adalah agar orang percaya memiliki kebenaran melebihi ahli Taurat dan orang Farisi. Itulah sebabnya dikatakana dalam Firman Tuhan bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa.