Harga Yang Harus Dibayar
02 October 2019

Dalam Doa Bapa Kami terdapat panggilan untuk dipenuhi. Kalau dalam Doa Bapa Kami terdapat kalimat “datanglah Kerajaan-Mu”, bukan berarti tanpa doa tersebut Kerajaan Allah tidak dapat hadir, melainkan kalimat tersebut memuat panggilan agar orang percaya mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah atau pemerintahan Allah dalam kehidupannya setiap hari. Oleh sebab itu, kalau seseorang mengatakan “datanglah Kerajaan-Mu,” maka ia harus secara konsekuen dan konsisten mewujudkan kehadiran Kerajaan Allah dalam kehidupannya. Inilah keunikan doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Secara umum, kalimat doa biasanya berupa permintaan; demikian pula karakter kalimat dalam Doa Bapa Kami terkesan seperti sebuah permohonan, tetapi sebenarnya maksud kalimat dalam Doa Bapa Kami adalah sebuah komitmen untuk melakukan apa yang diucapkan. Jadi, seakan-akan dalam Doa Bapa Kami, orang percaya menyatakan kesediaan untuk melakukan apa yang diminta. Seperti misalnya kalimat “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,” kalimat doa ini bukan berarti orang percaya meminta Tuhan mengirimkan makanan dari langit, tetapi orang percaya harus bekerja mencari nafkah dari tenaganya sendiri. Tentu saja Tuhan menyediakan semua fasilitas yang memungkinkan manusia memperoleh nafkahnya.

Contoh lain misalnya dalam Doa Bapa Kami terdapat kalimat “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” kalimat ini bukan berarti mengindikasikan bahwa tanpa permintaan tersebut kehendak Allah tidak akan terjadi di bumi seperti di surga. Kalimat tersebut bermaksud menunjukkan bahwa orang percaya dipanggil untuk melakukan kehendak Allah secara mutlak, sehingga suasana Kerajaan Allah dimana semua ciptaan tunduk kepada Allah juga terwujud dalam kehidupan orang percaya di bumi. Dalam hal ini, sekaligus hendak dikemukakan agar orang percaya tidak melakukan permberontakan atau pembangkangan kepada Allah seperti yang dilakukan Lusifer di surga. Dengan demikian, setiap kalimat dalam Doa Bapa Kami mengandung konsekuensi bila diucapkan, sebab di dalamnya terdapat kewajiban yang harus dipenuhi. Hal ini memberi isyarat bahwa ada harga yang harus dibayar bagi mereka yang mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami. Ironinya, banyak orang Kristen mengucapkan Doa Bapa Kami tanpa menyadari harga yang harus dibayar. Bertahun-tahun mereka mengucapkan Doa Bapa Kami tanpa membayar kewajiban yang harus dipenuhi. Dalam hal ini, seakan-akan Allah cukup dipuaskan jika umat hanya mengucapkan Doa Bapa Kami.

Pola doa seperti yang dijelaskan di atas menunjukkan mekanisme hubungan antara Allah yang disembah dengan umat yang menyembah. Allah adalah sesembahan yang tidak hanya menjawab permintaan umat, tetapi Allah adalah Pribadi Agung yang berstrata sebagai Bapa sekaligus Majikan yang harus dilayani. Allah ada bukan untuk manusia, tetapi manusia diadakan untuk Allah. Hal ini memenuhi yang dikatakan di dalam Roma 11:36 yang berbunyi: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Dengan demikian, Doa Bapa Kami membawa orang percaya kepada kesadaran terhadap supremasi atau keunggulan Allah dan kekuasaan-Nya yang tanpa batas menyubordinasi atau membawahi manusia sebagai ciptaan-Nya; manusia memang diciptakan hanya untuk Penciptanya. Satu-satunya hak yang sekaligus merupakan kewajiban manusia kepada Allah adalah mengabdi kepada Allah tanpa batas. Pola doa seperti ini tidak ditemukan dalam keyakinan atau agama mana pun.

Dengan kalimat “datanglah kerajaan-Mu”, jelas sekali orang percaya dipanggil untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah di dalam kehidupan ini. Hal ini bukan berarti Allah tidak sanggup mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan-Nya di dalam kehidupan manusia. Allah tentu saja sanggup mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan-Nya dalam kehidupan manusia, tetapi jika Allah melakukan hal ini maka manusia tidak menjadi makhluk yang agung. Manusia memiliki kehendak bebas yang harus digunakan untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Dengan demikian, Kerajaan Allah menjadi bagian dalam hidup manusia atau manusia adalah bagian dari Kerajaan Allah dengan sukarela tanpa paksaan. Tentu saja, mestinya manusia dengan sukacita menikmati hidup di dalam pemerintahan Allah. Dengan keadaan ini, hubungan antara Allah dan umat menjadi sangat dinamis. Suasana Kerajaan Allah menjadi indah tanpa ada unsur paksaan di dalamnya.

Panggilan untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah adalah tanggung jawab yang harus diterima sebagai anugerah yang menjadikan manusia bermartabat lebih dari ciptaan Allah yang lain; lebih dari hewan. Panggilan untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah harus menjadi sukacita dalam kehidupan setiap hari, seakan-akan dan memang demikian adanya, bahwa itulah satu-satunya kesukaan jiwa manusia. Dengan demikian, mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah menjadi satu-satunya agenda dalam kehidupan ini, baik di bumi maupun di dunia yang akan datang.