HARGA YANG DIPATOK
21 April 2018

Hidup beriman dalam Yesus Kristus berarti memiliki fokus yang berbeda dengan manusia di sekitar. Sekarang ini adalah zaman anugerah atau zaman penggenapan. Pada zaman ini, fokus hidup manusia, khususnya umat pilihan, tidak lagi kepada pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi harus terfokus pada roti dari surga, yaitu diri Yesus sendiri. Terfokus kepada roti dari surga artinya bagaimana mengenakan hidup Yesus, sehingga segala sesuatu yang kita lakukan benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan Yesus. Dengan melakukan hal ini seseorang menemukan kesenangan atau kebahagiaan hidup yang tiada tara, yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Sebenarnya, kehidupan manusia hanya dapat dipuaskan dengan sempurna ketika ia melakukan kehendak Bapa. Tetapi hal ini tidak akan dapat dimengerti oleh mereka yang tidak berjuang untuk menemukan kebenaran dan tidak berusaha mengenakan kehidupan Yesus. Oleh sebab itu setiap orang percaya harus benar-benar meneladani kehidupan Yesus, yaitu melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Hal ini harus menjadi agenda satu-satunya dalam hidup ini. Hal ini harus dipandang, karena memang demikian, sebagai satu-satunya kebahagiaan. Jika orang percaya tidak membiasakan hal ini, maka sampai mati tidak pernah mengerti bagaimana mengalami dan menikmati Tuhan sebagai kebahagiaan.

Orang Yahudi meminta roti, tetapi tidak bersedia mengerjakan pekerjaan yang Bapa kehendaki, yaitu percaya kepada Yesus (Yoh. 6:36, Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya). Tidak percaya di sini artinya tidak berani makan daging dan minum darah Yesus, yang sama dengan mengenakan hidup-Nya. Mereka hanya mengingini roti fana atau berkat jasmani, tetapi tidak menyambut keselamatan, yaitu bagaimana dikembalikan ke rancangan Allah semula. Hal ini sama seperti banyak orang Kristen yang mengaku percaya kepada Yesus dan menginginkan hidup kekal, tetapi tidak memenuhi syarat untuk memperoleh hidup kekal tersebut. Keselamatan hanya oleh anugerah bukan berarti manusia tidak perlu memberi respon. Respon yang harus dimiliki atau dilakukan seseorang tidaklah cukup dengan aktivitas nalar atau pikiran, yaitu percaya. Tetapi harus dengan tindakan sesuai dengan pengertian kata “percaya” itu sendiri, yang dari bahasa aslinya, yaitu pisteuo, berarti menyerahkan diri kepada obyek yang dipercayai.

Banyak orang Kristen seperti pembeli yang mau membeli suatu barang dengan harga yang dibandrol sendiri atau ditentukan sendiri. Mestinya pemiliki baranglah yang berhak membandrol barang tersebut, bukan pembelinya. Kalau Tuhan Yesus berkata: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh. 6:29), maka tentu percaya yang dimaksud oleh Tuhan Yesus adalah percaya menurut versi Tuhan, bukan versi siapa pun. Biasanya orang memahami iman dalam ayat ini sebagai “keyakinan dalam pikiran”. Keyakinan dalam pikiran tidak akan membawa dampak dalam perilaku kehidupan sama sekali, seperti yang kita saksikan dalam kehidupan banyak orang Kristen hari ini. Iman dalam kehidupan jemaat Roma adalah iman dalam tindakan yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain.

Kalau ada seorang pegawai toko menentukan harga barang yang tidak sesuai dengan kebijaksanaan dan keinginan pemiliki toko, berarti pegawai tersebut menipu. Pegawai toko juga tidak boleh membiarkan pembeli yang menentukan harga. Sebenarnya barang tersebut tidak bisa dimiliki oleh siapa pun, pemilik barang tersebut telah berkorban sedemikian rupa sehingga barang tersebut bisa dimiliki orang lain. Ini berarti suatu anugerah. Tetapi anugerah tidak bisa diterima tanpa barter (Flp. 3:7-9; Luk. 14:25-33). Tidak sedikit pendeta yang memberi harga sendiri terhadap keselamatan yang harus diresponi secara benar. Lebih celaka lagi, kalau seorang pendeta memiliki konsep sendiri mengenai keselamatan.

Seorang pendeta tidak boleh menjadi seperti seorang pegawai toko obat yang memalsu obat dengan menawarkan harga murah atas obat tersebut, berhubung obat yang asli harganya sangat tinggi. Padahal obat asli bisa dimiliki oleh orang lain, tapi itu pun disebabkan karena pemiliknya berkorban dengan pengorbanan yang sangat tinggi. Kalau pemiliknya tidak berkorban, maka tidak ada orang yang dapat memiliki obat tersebut. Tetapi pada umumnya orang tidak sanggup membeli, sebab hanya memiliki uang separuh dari harga obat tersebut. Tetapi kalau semua orang diberikan, maka pemilik obat akan memampukan membeli. Hal ini sama dengan seorang raja yang mau berperang dengan 10.000 pasukan, padahal musuhnya 20.000. Serahkan dulu yang 10.000 maka Tuhan akan memampukan untuk menang (Luk. 14:25-33). Kalau yang 10.000 tidak diserahkan seluruhnya, bagaimana bisa menang?