Hanya Satu yang Menarik
07 January 2021

Play Audio

Jika kita mau memiliki hidup kekristenan yang benar, mestinya hanya ada satu yang menarik dalam hidup kita, yaitu Tuhan. Itulah sebabnya, mau tidak mau kita akan memfokuskan diri kita hanya untuk Tuhan. Kalau kita bekerja, kita berkarier, kita melakukan segala sesuatu, kita melakukannya hanya untuk satu kepentingan ini, satu interest ini, yaitu Tuhan. Tuhan tidak kelihatan, Ia tidak mudah disentuh, dialami, dan dirasakan, tetapi bisa. Kita tidak akan pernah menyesal kalau memiliki satu interest ini. Karena ini berarti kita memiliki harta yang tiada ternilai. Hal inilah yang akan membuat kita takut berbuat dosa. Hal ini juga yang membuat kita tidak terikat dengan materi dunia (uang, harta, kekayaan). Hal ini akan membuat hidup kita menjadi simpel, tidak kompleks. Tetapi, memang dibutuhkan keberanian. Lebih dari sekadar fanatisme. Lebih dari ekstrem, bahkan. Jadi, ekstrem sekali; fanatik sekali.

Kalau kita membaca Alkitab, kita menemukan tokoh-tokoh yang ekstrem sekali terkait dengan hal ini—artinya mengenai Tuhan ini. Abraham rela meninggalkan Ur-Kasdim, esktrem; Yusuf rela tidak menyentuh nyonya Potifar walaupun harus masuk penjara; Sadrakh, Mesakh, Abednego, Daniel tidak menyentuh makanan yang haram walaupun itu akan sangat merugikan mereka. Bahkan, Daniel rela masuk gua singa demi percayanya kepada Elohim Yahweh. Sadrakh, Mesakh, Abednego rela masuk ke dalam dapur api demi imannya kepada Elohim Yahweh. Dan yang luar biasa, pasti tentu yang paling hebat adalah Tuhan kita, Yesus Kristus, yang rela dalam segala hal disamakan dengan manusia, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai satu hal yang harus Ia pertahankan atau mau Dia capai. Ini adalah contoh-contoh dari kehidupan orang yang tidak memiliki interest apa pun, kecuali Tuhan.

Dan kita harus punya interest itu. Satu-satunya interest kita adalah Tuhan. Sebab, seperti yang dikatakan dalam Ibrani 11:6, orang yang mencari Allah itu harus yakin bahwa Allah itu ada, dan Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Kata “sungguh-sungguh mencari Dia,” dapat kita ganti dengan kalimat yang tidak berubah maknanya: “yang sungguh-sungguh hanya punya interest kepada-Nya; hanya memiliki interest kepada-Nya.” Seseorang yang belajar teologi bisa memiliki interest terhadap ilmu teologi, tapi ia tidak interest terhadap Allah. Maka, jangan kita menjadi orang Kristen yang hanya menangkap pengetahuan tentang Allah yang hanya diimpartasikan, ditularkan oleh seorang teolog, tapi tidak menerima impartasi atau penularan hati yang memiliki interest terhadap Allah. Jadi, ada teolog yang interest terhadap pengetahuan teologi, tapi tidak interest terhadap pribadi Allah. Ironis, ada banyak sekali yang seperti ini.

Interest kepada Tuhan itu mulia sekali. Kalau sampai kita bisa interest kepada Tuhan saja atau ketertarikannya hanya tertuju kepada Tuhan saja, maka kita menjadi orang yang lebih beruntung dari anak dari seorang konglomerat, atau sang konglomerat itu sendiri, atau seorang pejabat tinggi negara; siapa pun. Hal ini tergantung kita, apakah kita mau mengarahkan interest kita kepada Tuhan, atau masih banyak interest yang lain. Banyak orang yang karena telah memberikan ruangan hatinya bagi dunia ini, ia tidak mampu memiliki interest yang bulat, interest yang utuh kepada Tuhan. Ia tidak mampu. Kalaupun seandainya dia mau, tidak bisa lagi karena ruangan hatinya telah dipenuhi oleh keinginan dunia dan ia menikmatinya, apakah itu uang, harta, mobil, perhiasan, arloji, dan lain sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang celaka sekali. Orang-orang seperti ini nanti akan sangat menyesal ketika menutup mata, ternyata interest-nya yang ditujukan kepada sesuatu atau seseorang—bukan kepada Tuhan—mendatangkan celaka bagi dirinya.

Allah yang Mahamulia, Mahaagung, Allah yang layak menjadi satu-satunya objek interest kita, bukan yang lain. Kita harus berani mengatakan: “kebutuhanku dan kepentinganku hanya Tuhan saja.” Dan kalau orang benar-benar interest-nya hanya Tuhan, maka orang itu akan sungguh-sungguh berjuang untuk menjadi kudus seperti Allah kudus. Ia tidak akan berani hidup di dalam dosa. Ia tidak akan berani menyentuh hal yang bisa melukai dan menyakiti hati Allah. Orang yang interest-nya Tuhan saja, sampai pada titik tertentu tidak akan bisa menarik interest itu dari Tuhan. Ia hanya bisa mencintai Tuhan saja, dan tidak bisa mencintai yang lain. Titik tidak balik yang positif seperti ini barulah bisa membuat seseorang benar-benar mengalami kelahiran baru. Orang-orang yang seperti ini yang bisa disebut sebagai anak-anak Allah. Orang-orang seperti inilah yang layak menjadi mempelai Tuhan.

Jadi, tidak mudah bagi seseorang untuk bisa mengalami kelahiran baru. Tidak mudah bagi seseorang untuk menjadi anak-anak Allah. Jadi, bukan secara ajaib orang bisa lahir baru atau karena mendengar khotbah lalu mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kemudian lahir baru, bukan demikian. Percaya Yesus Kristus, lalu jadi anak-anak Allah. Tidak demikian. Ia harus bertumbuh terus sampai pada titik dimana dia tidak memiliki interest terhadap apa pun dan siapa pun, sebab interest-nya hanya Tuhan dan tentu saja juga Kerajaan-Nya. Alami ini dalam hidup kita!