Hakikat Kerja
12 August 2019

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan oleh Allah yang memiliki keberadaan seperti Allah sendiri, segambar dengan Allah (Imago Dei). Salah satu hakikat yang dimiliki Allah adalah bahwa Allah adalah Allah yang bekerja. Allah bukanlah Allah yang tidak berkehendak, bukan Allah yang diam tanpa karya. Ia adalah Allah yang aktif berkarya dan bekerja. Demikianlah sebagaimana Allah adalah Allah yang bekerja, maka manusia adalah manusia yang bekerja. Kerja merupakan unsur hakikat manusia yang dijadikan menurut gambar Allah (The nature of man is a worker). Pandangan ini mempunyai arti yang sangat penting bagi etika kerja dan bagi etos kerja. Berangkat dari pandangan ini dibangunnyalah konsep etos kerja menurut kacamata Kristen dan dapatlah kita memiliki pijakan untuk menolak segala bentuk konsep etos kerja dan etika kerja menurut agama-agama dan filsafat pada umumnya.

Oleh karena kerja adalah suatu unsur hakikat manusia, maka kerja itu juga merupakan perintah Allah. Allah dapat memerintahkan manusia untuk bekerja sebab manusia memiliki potensi dan kodrat demikian. Manusia adalah pekerja, maka bumi ini diciptakan Tuhan dalam keadaan yang “harus masih diteruskan”. Manusia menerima mandat dari Tuhan untuk mengelola bumi ini (Kej. 2:15). Ini bukan berarti Allah tidak mampu menyelesaikan atau meneruskan pekerjaan-Nya. Di sini Allah melibatkan manusia sebagai pekerja untuk bekerja mengelola hasil karya-Nya. Bila tidak demikian, yaitu diadakannya peluang untuk bekerja, maka berarti Allah membunuh hakikat manusia itu sendiri.

Oleh karena manusia yang diciptakan Allah adalah seorang pekerja, maka kerja tentu mempunyai tempat di dalam rencana Allah yang agung. Dunia ini diciptakan dalam keadaan yang belum dikerjakan, memerlukan tangan manusia yang harus mengelolanya (Kej. 1:27-28; 2:5). Oleh sebab itu hendaknya kita tidak boleh berpikir dan membayangkan bahwa ketika Adam dan Hawa di Eden mereka hanya makan minum tanpa kerja. Ketika manusia memberi nama binatang, yaitu tatkala Allah membawa semua binatang untuk dinamai oleh manusia, Alkitab membuktikan bahwa di Eden pun manusia sudah mulai bekerja (Kej. 2:19-20). Perintah kepada manusia di dalam Kejadian 2:15 untuk mengelola bumi merupakan bukti nyata bahwa manusia sudah berkarya sejak di dalam Eden. Inilah yang membedakan manusia dari hewan atau makhluk lain. Hewan atau makhluk lain bergerak hidup hanya sekadar memenuhi siklus kehidupan sesuai dengan habitatnya. Tetapi manusia bekerja dengan kerelaan, kesadaran, dan kesengajaan sebagai pengabdian kepada Tuhan, sebagai kawan sekerja Allah yang sehakikat dengan-Nya dalam kerja.

Sekalipun manusia sudah jatuh di dalam dosa, tetapi perintah untuk kerja ini tidak pernah dibatalkan Tuhan. Hukum yang ke-8 yang berbunyi: “Jangan mencuri”, adalah salah satu signal yang jelas bahwa manusia bukan saja dipanggil untuk menghargai milik orang lain, tetapi ia juga harus bekerja mencari “milik” dan nafkah dari keringat dan tenaganya sendiri. Oleh sebab itu barangsiapa tidak mau bekerja padahal ia mampu bekerja, maka ia telah melanggar perintah-Nya dan berbuat dosa kepada Tuhan serta menyangkali hakikatnya sendiri. Seorang yang menolak bekerja berarti tidak menerima dirinya sebagai manusia dengan kebesarannya sebagai manusia yang berhakikat seperti Tuhan, yaitu “oknum yang bekerja”.

Dalam hal ini kita dapat memperoleh kesimpulan lain bahwa kemalasan adalah suatu dosa. Oleh karenanya dalam Amsal, Salomo menasihatkan agar kita belajar dari semut. Semut yang rajin dan giat bekerja rupanya dapat menjadi ilustrasi untuk menunjukkan bahwa manusia harus rajin dan giat bekerja (Ams. 6:6; 30:25). Dalam hal ini kita patut belajar ketekunan dan kerajinan bekerja dari semut. Semut dalam konteks ini dapat menjadi lambang pekerja yang tekun dan giat. Jadi bagi manusia, kemalasan adalah suatu kejahatan besar dalam masyarakat. Sebab seorang pemalas mengingkari perintah kerja dan melanggar hak atas kerja yang dikaruniakan kepadanya. Untuk hal ini, pendidikan bertanggung jawab membentuk manusia agar gemar dan mampu bekerja sesuai dengan bidang masing-masing. Dengan ketekunan yang tinggi, maka kita akan semakin ahli atau cakap di bidang kita bekerja.

Dewasa ini ada gereja-gereja menganjurkan untuk mengklaim janji Tuhan untuk berkat-berkat rohani, doa pemulihan ekonomi, pemutusan kutuk-kutuk kemiskinan, yang semuanya itu sebagai usaha untuk mengalami pemulihan ekonomi. Sebenarnya ini sebuah penipuan. Mereka seperti sebuah pekerja jual jasa. Hukum tabur tuai tidak bisa dibatalkan dengan doa. Allah tidak mungkin mengkhianati Alkitab-Nya. Doa tidak bisa membatalkan hukum yang digariskan-Nya, yaitu hukum tabur tuai.