Fantasi Dalam Gereja
22 June 2020

Play Audio Version

Banyak orang berpikir bahwa di gereja, orang Kristen dapat atau pasti akan bisa bertemu dengan Allah. Hal ini sebenarnya akibat pengaruh agama-agama lain, dimana mereka lebih meyakini bahwa ilah atau dewa berada di tempat-tempat suci yang khusus. Di tempat-tempat khusus tersebut, mereka biasanya mengadakan ritual upacara agama atau seremonial agama. Dengan konsep ini, banyak orang Kristen berpikir bahwa Tuhan lebih bisa ditemukan di gereja daripada di tempat lain. Paling tidak, di gereja Tuhan lebih mudah ditemui, sebab Ia suka berada di gereja. Itulah sebabnya, ada larangan bicara keras-keras di gereja walaupun tidak ada orang sedang berdoa atau mengadakan kebaktian, tidak boleh mengenakan pakaian sembarangan, tidak boleh makan dan minum bukan karena demi kebersihan melainkan demi kesakralan. Ada pula gereja yang mewajibkan seseorang yang berdiri di mimbar harus membuka sepatu, bukan karena demi kebersihan gereja melainkan menganggap bahwa area di sekitar mimbar ada kehadiran Allah secara khusus. Hal ini membuat seseorang secara kejiwaan, kalau berdoa di gereja lebih merasakan kehadiran Allah. Karenanya, kalau berdoa di gereja, emosi atau perasaannya mudah terbangkitkan.

Apakah benar, kalau seseorang ke gereja pasti mengalami perjumpaaan dengan Allah? Kalau benar-benar mengalami perjumpaan dengan Allah, mestinya ada perubahan dalam perilaku; menjadi lebih saleh, lebih suci, atau paling tidak bermoral lebih baik dibanding dengan mereka yang tidak pergi ke gereja. Perjumpaan dengan Allah mestinya membuat seseorang tidak memiliki kejahatan. Tetapi fakta yang tidak dapat dibantah, banyak orang Kristen yang ke gereja, tetapi tidak lebih baik dari orang yang tidak bergereja. Ada orang-orang Kristen ke gereja, bahkan pengurus gereja, yang kelakuannya lebih buruk daripada orang yang ada di luar gereja. Inilah yang membuat kepercayaan kepada gereja menjadi merosot, bahkan sampai tidak memiliki kepercayaan sama sekali kepada gereja sebagai simbol kehadiran Allah di dunia. Hal ini juga menjadi alasan pembenaran orang-orang tidak bergereja.

Orang yang ke gereja belum tentu mengalami perjumpaan dengan Allah secara benar. Perjumpaan dengan Allah tidak hanya diwakili oleh liturgi atau tata cara ibadah. Perjumpaan dengan Allah adalah perjumpaan dalam segala keadaan dan dalam persoalan hidup yang dialami oleh seseorang. Apakah dengan mengikuti liturgi atau acara kebaktian hari Minggu berarti sudah bertemu Tuhan? Jika demikian, apa bedanya dengan agama-agama yang menawarkan ritual seremonial untuk berurusan dengan mereka yang disembah di tempat-tempat tertentu yang khusus, yang diyakini tempat ilah atau dewa mereka berdomisili? Liturgi yang menjadi alasan sudah bertemu dengan Tuhan justru membodohi jemaat, sehingga jemaat sudah merasa puas menjadi orang Kristen yang rajin ke gereja. Kekristenan adalah jalan hidup, yaitu bagaimana menjalani hidup kekristenan dalam persekutuan dengan Tuhan tiada henti, dan ibadah yang sesungguhnya adalah seluruh perbuatan kita setiap hari.

Di gereja, banyak orang hanya bertemu dengan liturgi gereja (tata cara ibadah) yang telah diwariskan oleh para pendahulu sesuai dengan aliran atau denominasinya. Liturgi bukanlah cara untuk menjumpai Allah. Liturgi adalah bahasa orang beragama, bukan bahasa orang ber-Tuhan. Ber-Tuhan yang benar sesuai dengan format yang Yesus ajarkan adalah menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:34). Liturgi bisa menjadi sarana berinteraksi dengan Allah kalau memang dalam kehidupan sehari-hari telah berinteraksi secara riil atau konkret. Jika tidak, mengikuti liturgi di gereja malah menambah dosa, karena pasti berlaku munafik, menipu diri sendiri, dan mencoba menipu Tuhan.

Penjelasan ini bukan bermaksud hendak mengemukakan bahwa pergi ke gereja itu tidak perlu, tetapi yang terutama harus dipenuhi adalah perjumpaan dengan Allah dalam segala keadaan dan persoalan hidup yang dialami. Dalam liturgi, seseorang menyatakan pengakuan sesuai dengan kehidupan iman yang dijalani. Kalau tidak ada kehidupan iman yang dijalani, maka liturgi menjadi sandiwara. Liturgi kekristenan yang sejati berlangsung sepanjang waktu hidup yang dijalani di dalam seluruh perbuatan serta perilaku. Perbuatan yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah adalah liturgi kehidupan yang mutlak harus dialami. Dengan kehidupan seperti itu, seseorang baru benar-benar bisa mengalami perjumpaan dengan Allah. Ketika bertelut berdoa, benar-benar bisa berdialog dengan Allah. Gereja menjadi tempat seseorang menyaksikan dan mengucapkan pengakuan atau kredo sebagai warna kehidupannya setiap hari. Orang-orang yang tidak memiliki kehidupan seperti ini berarti orang Kristen palsu, hidup dalam kemunafikan. Mereka tidak mengalami perjumpaan dengan Allah. Mereka berteologi hanya fantasi dalam pikiran. Doa-doa yang diucapkan, ditujukan kepada Allah yang ada di dalam pikiran atau fantasi mereka, bukan Allah yang dengan-Nya mereka berjalan setiap hari.