Dosa Manusia Pada Zaman Anugerah
13 June 2019

Pada zaman anugerah, bagi umat Yahudi maupun non-Yahudi (Ing. gentile) dosa berarti penolakan terhadap Injil. Kalau seseorang mengenal atau mendengar Injil tetapi menolaknya, maka itu berarti dosa bagi mereka. Sebaik apa pun seseorang, jika mendengar Injil tetapi menolak -dalam pengertian bersikap antipati- maka ia tidak akan memiliki atau memeroleh pengampunan dosa sama sekali. Kematian Tuhan Yesus Kristus tidak berarti sama sekali bagi mereka. Orang-orang ini termasuk kelompok manusia yang menolak Tuhan Yesus.

Pengertian “menolak” disini adalah memusuhi Yesus Kristus dalam bentuk membenci dan mendatangkan kesulitan bagi orang Kristen. Walaupun mereka sudah mendengar Injil atau mendengar mengenai berita Anak Allah, tetapi mereka bersikap “melawan” sampai tingkat penghinaan kepada Anak Allah. Mereka adalah kelompok orang yang membenci Kristus dan menghambat sampai merusak pekerjaan Tuhan. Dalam hal ini keselamatan manusia sangat tergantung dari responnya terhadap Injil semata-mata.

Diungkapkan dalam Injil bahwa bangsa-bangsa yang tidak mendengar Injil adalah bangsa-bangsa yang hidup dalam kegelapan (Mat. 4:15-16). Kegelapan ini dimengerti sebagai “tidak ada terang”. Ini berarti bahwa banyak orang yang hidup dalam standar yang Tuhan kehendaki. Pengertian “terang” disini adalah terang menurut ukuran Injil (Yoh. 1:1-5). Terang yang dimaksud oleh Yohanes menunjuk kehidupan yang berkualitas sangat tinggi, yaitu kehidupan manusia yang dikembalikan kepada rancangan Allah semula. Oleh karena kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia telah kehilangan terang yang ideal, oleh sebab itu Tuhan Yesus datang sebagai terang (Yoh. 1:4,5,9, 8:12; 1Yoh. 2:8; dan lain-lain). Terang inilah yang ditawarkan kepada manusia, supaya manusia menerima-Nya. Ini disebut zaman anugerah atau zaman penggenapan. Belum pernah ada masa yang luar biasa seperti masa Injil diberitakan, dimana manusia dapat menemukan “terang yang sesungguhnya” (Yoh 1:9).

Jadi, dosa dizaman Perjanjian Baru pada intinya adalah penolakan terhadap terang itu atau penolakan terhadap Yesus yang mengajarkan dan memberi hidup kekal (hidup yang berkualitas). Dengan penolakan tersebut maka seseorang memilih kegelapan atau bersekutu dengan kuasa kegelapan. Kedatangan Tuhan Yesus Kristus ke dunia merupakan tanda dan momentum yang memaksa manusia untuk memilih kepada siapa mereka hendak berpihak (Luk. 11:15-23). Dalam teks ini Tuhan Yesus tegas berkata:Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan (Luk. 11:23).

Bagi mereka yang menolak Tuhan Yesus, berarti mereka berpihak kepada kuasa kegelapan. Mereka menyaksikan dan mengalami bagaimana kuasa Allah dinyatakan, yaitu dengan pengusiran setan dan berbagai mukjizat. Tetapi mereka yang menolak Tuhan Yesus maka berarti mereka di pihak kuasa kegelapan (Luk. 11:20). Kalau mereka tidak melihatatau tidak pernah mendengar Injil secara memadai,mereka tidak berdosa; tetapi kalau mereka melihat (mendengar Injil secara memadai), tetapi tidak percaya, maka kekallah dosa mereka (Yoh. 9:41).Penolakan mereka dalam ekspresi nyata, yaitu memusuhi Tuhan Yesus dan menuduh Tuhan Yesus menggunakan kuasa penghulu setan (Beelzebul). Mereka menganggap Tuhan Yesus sesat dan pantas dimusuhi, ajaran dan pengikut-Nya pantas diberantas.

Berbicara mengenai keadaan seseorang yang “tidak percaya,” ternyata tindakan ini bukan hanya dilakukan oleh orang non-Kristen, tetapi juga tidak sedikit orang Kristen yang belum percaya dengan benar. Mereka pun belum melakukan tindakan dengan benar yang dimaksud dengan “menerima Tuhan Yesus.” Tidak heran kalau kelakuan mereka tidak lebih baik dari orang-orang non-Kristen.Memang lebih baik tidak mendengar Injil daripada mendengar Injil tetapi menolak-Nya. Menolak ini bisa dilakukan oleh mereka orang-orang non-Kristen tetapi juga oleh orang Kristen sendiri yang tidak atau belum menerima Yesus secara benar. Mereka termasuk kelompok orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus secara benar.

Dalam Yohanes 15:22 dan 15:24 memuat pernyataan yang sangat jelas bahwa kedatangan dan karya Yesus merupakan dasar pertimbangan terhadap dosa. Jelaslah di sini bahwa dosa yang dipermasalahkan adalah sikap mereka terhadap Yesus, terhadap karya-Nya di kayu salib. Oleh sebab itu sebaik apa pun kelakuan seseorang apabila menolak Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka binasalah dia (Yoh. 3:16-18).Di pihak lain, walaupun mereka Kristen, tetapi kalau hidup tidak sesuai dengan kehendak Allah berarti menjadikan dirinya sebagai musuh salib (Flp. 3:17-19). Dan mereka yang mengasihi dunia (walaupun Kristen) menjadikan dirinya musuh Allah (Yak. 4:4). Itulah sebabnya dalam Perjanjian Baru kata dosa yang hampir selalu digunakan adalah hamartia yang artinya meleset. Kata hamartia tidak memiliki unsur kejahatan, tetapi pada intinya tidak tepat seperti yang Allah kehendaki adalah meleset atau dosa (hamartia).