Dosa Diizinkan Masuk
06 August 2019

Fakta yang tidak dapat disangkal bahwa pada umumnya manusia berinisiatif melakukan tindakan dari diri sendiri, baik yang melanggar larangan Allah atau menurutinya. Dengan demikian manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukan. Allah tidak ikut mengambil bagian dalam kesalahan yang dilakukan manusia atau kebaikan yang dilakukan manusia. Allah berdiri di luar sebagai Hakim, Allah bukan pelakunya dan tidak menjadi penyebab suatu kesalahan atau kebaikan. Kalau Allah ikut terlibat dalam tindakan manusia, maka Allah tidak bisa berdiri sebagai Hakim. Hakim harus berada di luar tindakan yang dihakimi. Kalau Allah ikut terlibat dalam kejatuhan manusia, maka Allah tidak seharusnya menghalau atau mengusir manusia dari Eden (Kej. 24).

Kalau Allah ikut terlibat dalam pengambilan keputusan, maka Allah harus ikut memikul akibatnya bersama dengan manusia. Betapa jahatnya sosok “allah” yang menetapkan suatu kejadian dimana di dalamnya manusia harus melakukan suatu perbuatan. Kemudian menghakimi dan menghukum manusia tersebut, menyatakan bersalah dan menghukumnya. Semua terjadi seperti sebuah sandiwara. Padahal, hukuman yang diberikan adalah api kekal dimana manusia terpisah dari Allah selamanya. Betapa kejamnya “allah” seperti ini. Konsep mengenai Allah seperti ini merupakan penistaan terhadap Allah yang agung dan mulia. Allah yang benar, tidaklah demikian.

Fakta bahwa manusia diberi kehendak bebas nampak dalam fakta bahwa ada pihak yang diizinkan oleh Allah untuk mencobai atau membujuk manusia supaya melanggar firman Allah. Dalam hal ini sulit dikatakan bahwa Allah tidak mengizinkan dosa masuk dalam kehidupan. Dosa di sini maksudnya adalah kemungkinan manusia tidak mencapai standar kesucian Allah, di mana manusia bisa kehilangan kemuliaan Allah. Allah memang mengizinkan dosa masuk dalam kehidupan, tetapi Allah tidak menetapkan -apalagi mengupayakan- agar dosa dilakukan oleh manusia. Dosa masuk dalam kehidupan manusia karena keputusan manusia itu sendiri. Jika ada pertanyaan mengapa Allah mengizinkan dosa bisa masuk? Jawabnya adalah: itulah konsekuensi manusia memiliki kehendak bebas.

Dalam Kejadian 2 -di balik peringatan Allah kepada manusia untuk tidak makan buah yang dilarang, yaitu buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat- ada semacam perjanjian atau aturan main antara Allah dengan manusia dan pihak ketiga yang tidak kelihatan, yaitu si jahat. Allah memberi kehendak bebas kepada manusia untuk digunakan dengan bijaksana. Manusia memiliki kedaulatan dan kemandirian atau independensi. Manusia bisa memetik buah yang dilarang dan makan buah tersebut, atau bisa tidak menyentuhnya. Di satu pihak Elohim memberi kebebasan kepada manusia; dan di pihak lain, Dia tidak melarang Iblis mencobai atau membujuk manusia.

Dalam hal di atas ini Allah seperti menggelar sebuah gelanggang pertandingan, bukan panggung sandiwara. Dalam gelanggang tersebut ada pihak-pihak yang terlibat, yaitu Elohim Yahweh sendiri, Iblis, dan manusia. Allah membiarkan semua berlangsung dengan fair. Tidak ada rekayasa atau sebuah pengaturan yang dipaksakan. Dalam gelanggang tersebut Allah dalam kedaulatan-Nya menetapkan aturannya. Semua harus tunduk pada aturan yang ditetapkan oleh Allah, bahkan diri Allah sendiri. Aturan itu ada di dalam diri Allah sebagai hakim dan penyelenggara kehidupan ini. Masing-masing pihak memiliki kedaulatan atau independensi, baik manusia, malaikat, Iblis, dan Allah sendiri. Dalam hal ini Allah masuk ke dalam dimensi waktu dan pergumulan ciptaan-Nya.

Dengan memandang kehidupan dari perspektif yang benar, yaitu bahwa manusia hidup dalam tanggung jawab memikul kehendak bebas dalam dirinya, maka seseorang bisa menempatkan diri sebagai makhluk ciptaan pada proporsi yang tepat di hadapan Allah, juga keterkaitannya dengan kuasa jahat atau Iblis. Kita juga bisa menempatkan Allah pada tempat yang benar, selain kita juga bisa memahami di mana tempat kuasa jahat atau Iblis. Selanjutnya, tanggung jawab hidup bisa tampil secara wajar.

Dengan pemahaman dari perspektif yang benar tersebut, orang percaya dapat memperlakukan dan menyelenggarakan hidup ini dengan benar, serta berusaha menjadi makhluk seperti yang dikehendaki oleh Sang Pencipta. Orang percaya dapat mengerti dan menerima bahwa manusia tidak hanya menjadi obyek bagi Allah, tetapi juga subyek sekutu dan kawan sekerja Allah, sesuai dengan rancangan Elohim semula. Tetapi kalau seseorang ceroboh dalam hidup ini, bukan tidak mungkin ia dapat menempatkan diri sebagai seteru Allah. Dalam hal ini menjadi sekutu atau seteru Allah bukanlah penetapan Allah, tetapi buah dari kehendak bebas seseorang. Di sini kita menemukan kehormatan manusia yang diberikan oleh Allah, bahwa manusia memiliki hak menentukan takdir atau keadaannya sendiri (Kej. 4:6-7; Gal. 6:7).