Dosa Batiniah
27 January 2017

Sangat penting untuk dipahami bahwa dosa bukan hanya menunjuk terhadap tindakan lahiriah manusia, tetapi dosa juga bersifat batiniah. Dalam Alkitab sangat jelas ditunjukkan perhatian Tuhan Yesus terhadap praktik kehidupan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka sangat dikecam oleh Tuhan Yesus (Mat. 23). Kecaman Tuhan Yesus terhadap mereka berakar pada pola hidup keagamaan mereka yang sangat legalistis dan formalitas. Sedemikian legalistis dan formalitasnya sehingga mereka jatuh ke dalam kemunafikan yang sangat dibenci oleh Allah.

Dalam Roma 1:29-31, digambarkan dengan baik gabungan antara dosa lahiriah dan batiniah. Beberapa hal dalam daftar ini dapat dibuktikan secara obyektif, seperti pembunuhan, perselisihan dan suka mengumpat adalah dosa yang bersifat lahiriah. Tetapi yang lain seperti kedengkian, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang dan tidak mengenal belas kasihan termasuk dosa yang bersifat bathiniah, sikap dan bukan tindakan, walaupun hal itu tentu saja terlihat dari tindakan-tindakan. Banyak ayat lain yang menunjuk hal ini. Jelaslah bahwa tidak ada perbedaan yang mendasar di antara berbagai jenis dosa, mulai dari tindakan kriminal seperti pembunuhan, sampai kepada sikap hati, seperti rasa iri atau benci. Di sini dosa ditafsirkan secara jauh lebih luas jangkauannya dari pada istilah-istilah secara hukum. Sifat dosa secara batiniah tidak selalu mudah diketahui oleh manusia, tetapi Allah mengetahui dan menghakimi gerak batin itu sama seperti Ia mengetahui dan menghakimi perbuatan-perbuatan lahiriah. Oleh karenanya dalam Alkitab berkali-kali ditulis bahwa Tuhan adalah Tuhan yang menguji batin atau hati manusia (Mzm. 139, Yer. 17:10, 20:12, Why. 2:23). Tuhan bukan saja memperhatikan apa yang kelihatan tetapi juga yang tidak kelihatan (1Sam. 16:7).

Dalam Lukas 18:9-14 ditunjukkan suatu perumpamaan yang memuat sindiran yang ditujukan terhadap sikap hidup orang Farisi yang selama itu dipandang sebagai manusia suci yang berstandar moral tinggi. Pemungut cukai dibenarkan, tetapi sebaliknya orang Farisi tidak. Di sini jelaslah bahwa Tuhan meneliti sikap hati seseorang lebih dari fakta lahiriahnya. Kesombongan yang bertakhta di hati orang Farisi telah menghapus segala kebaikan lahiriahnya. Tetapi sebaliknya, kerendahan hati dan pertobatan pemungut cukai menghapus segala kebejatan yang nampak pada fakta lahiriahnya.

Dalam Matius 5 Tuhan Yesus menguraikan tenatang “golden rule” yang diperuntukkan bagi warga Kerajaan Surga. Dari beberapa contoh yang dikemukakan Tuhan Yesus, kita menemukan tekanan Tuhan padahal batiniah: Menurut dunia konsep membunuh kalau seseorang menghabisi nyawa orang lain, tetapi hukum yang diberlakukan bagi anak Tuhan adalah kalau seseorang membenci saudaranya ia adalah seorang pembunuh. Dalam Matius 5:21-22, kemarahan yang memuat kebencian dan kecaman yang bermuatan kebencian dikategorikan sejajar dengan pembunuhan. Dalam 1 Yohanes 3:15 Firman Tuhan berkata: seorang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh. Larangan membunuh bukan saja berorientasi pada pembunuhan secara lahiriah atau badan. Pembunuhan bisa terjadi ketika seseorang membenci sesamanya. Dalam hal ini penghakiman untuk orang percaya menggunakan ukuran yang berbeda. Tetapi hal ini menjadi adil, sebab orang yang sempurna diperkenan masuk anggota keluarga Kerajaan.

Menurut Perjanjian Baru -dari ucapan Tuhan Yesus sendiri- sikap hati yang negatif pun sudah berkategorial pembunuhan di mata Allah (Mat. 5:21-26; 1Yoh. 3:15). Tidak mengasihi sesama atau membenci sesama adalah tindakan pembunuhan di mata Allah. Tuhan memberikan hukum ini untuk umat Perjanjian Baru, warga Kerajaan Surga yang memiliki Roh Kudus yang memungkinkan seesorang untuk melakukan hukum ini dengan benar dan sempurna. Harus diakui bahwa sebelum pembunuhan jasmaniah terjadi pada umumnya selalu diawali dengan sikap hati yang negatif terhadap sesamanya. Kemarahan, dendam, sakit hati dan perasaan negatif lain adalah pemicu sebuah pembunuhan badan. Tuhan memanggil kita untuk membuang segala perasaan negatif yang merupakan dosa di mata Allah, walau belum merupakan tindakan yang kelihatan di mata sesama (Ef. 4:26; Kol. 3:8).