Diselamatkan Oleh Hidup-Nya
14 September 2020

Play Audio Version

Dalam Roma 5:10 firman Tuhan mengatakan, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” Apa yang dimaksud dengan kalimat “lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!”? Untuk memahami ayat ini, kita harus membaca seluruh pasal 5 dan pasal berikutnya (pasal 6). Kalimat “lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” dalam teks aslinya adalah pollo mallon katallagentes sothesometha en te zoe autou (πολλῷ μᾶλλον καταλλαγέντες σωθησόμεθα ἐν τῇ ζωῇ αὐτοῦ). Pollo artinya much, many (banyak). Pallon artinya more, rather (lebih). Katallagentes artinya to be reconciled (diperdamaikan). Sothesometha artinya diselamatkan (to be saved). En te zoe autou berarti by His life (oleh hidup-Nya).

Dalam Vulgata yaitu Alkitab bahasa Latin, diterjemahkan: salvi erimus in vita ipsius. Apa arti kalimat “kita diselamatkan oleh hidup-Nya?” Kalimat “diselamatkan oleh hidup-Nya” berarti oleh kebangkitan Yesus, orang percaya dapat memeroleh kehidupan. “Kehidupan” di sini artinya kehidupan yang sesuai dengan maksud kehidupan itu dirancang oleh Allah. Kita “diselamatkan oleh hidup Yesus” mengandung pengertian bahwa oleh kesalehan, ketaatan, atau kesucian Yesus, kita dapat memiliki kehidupan seperti yang dijalani oleh Dia. Untuk ini, perlu dijelaskan bahwa kebangkitan Yesus terjadi karena ketaatan-Nya kepada Allah Bapa. Kalau Yesus tidak taat sampai mati, Ia tidak akan pernah mengalami kebangkitan, artinya Ia tetap dalam kubur kematian, berarti tidak hidup. Karena kesalehan, kesucian, atau ketaatan-Nya kepada Allah, Ia memperoleh kebangkitan-Nya (Ibr. 5:7-9). Kebangkitan-Nya adalah kemenangan yang menyediakan fasilitas keselamatan, agar orang yang percaya kepada-Nya memiliki kuasa agar dapat memiliki kehidupan yang sempurna seperti Dia.

Yesus harus memperjuangkan kebangkitan-Nya atau hidup-Nya. Ini bukan sesuatu yang mudah, karena Allah tidak menskenario perjuangan Yesus sampai kepada kemenangan secara otomatis berdasarkan skrip atau naskah drama. Dalam hal ini, kehidupan Yesus adalah kehidupan yang penuh perjuangan, bukan sandiwara. Hal ini sejajar dengan proses kehidupan keselamatan kita, bukan diskenario oleh Allah, melainkan perjuangan yang harus kita jalani—yaitu mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12-13). Maksud penjelasan ini adalah bahwa kehidupan Yesus yang menjadi penyebab kita memiliki keselamatan, harus menjadi kehidupan kita juga. Jadi, orang percaya bukan hanya diperdamaikan secara status, melainkan juga benar-benar dalam perdamaian yang harmoni dengan Allah. Itulah sebabnya, kita harus memiliki perjuangan untuk memiliki keadaan yang benar-benar bisa berdamai dengan Allah.

Untuk memiliki keadaan yang benar-benar berdamai dengan Allah, orang percaya harus memiliki hidup seperti kehidupan yang dijalani oleh Yesus. Itulah sebabnya dikatakan dalam firman Tuhan bahwa kita diselamatkan oleh hidup-Nya. Kalau Yesus tidak berhasil memiliki kehidupan yang sempurna, Ia tidak dapat menjadi pokok keselamatan; artinya tidak dapat menggubah dan menjadi teladan hidup yang sesuai dengan rancangan Allah (Ibr. 5:7-9). Dengan keberhasilan Yesus mencapai kehidupan sesuai rancangan Allah, maka Ia dapat menjadi “Yang Sulung di antara banyak saudara.” Adam pertama gagal menjadi pokok keselamatan, tetapi Yesuslah yang menjadi pokok keselamatan bagi mereka yang taat kepada-Nya. Kalimat “yang taat kepada-Nya” menunjukkan hanya orang-orang yang meneladani hidup-Nya yang dapat mencapai kesempurnaan seperti Dia, sehingga bisa berdamai dengan Allah secara ideal.

Supaya pengertian mengenai kebenaran ini menjadi lebih kokoh dan teguh, maka kita harus memerhatikan seluruh pasal Roma 5. Dalam Roma 5:1-5 tertulis: “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Dari ayat ini, sangat jelas terlihat bahwa jemaat Roma memiliki kualitas kehidupan rohani yang sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari tulisan Paulus, seperti: “bermegah juga dalam kesengsaraan kita,” “kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,” “ketekunan menimbulkan tahan uji,” dan “tahan uji menimbulkan pengharapan.” Ini berarti jemaat Roma adalah jemaat yang tekun menderita bersama dengan Kristus, tetap setia dalam kesucian atau ketaatan, dan menunjukkan hidupnya pada pengharapan kekekalan atau bertemu dengan Yesus. Mereka adalah orang-orang yang mengasihi Allah oleh Roh Kudus. Orang Kristen yang tidak memiliki kualitas hidup seperti ini tidak mungkin memiliki perdamaian dengan Allah secara benar.