Dipimpin Oleh Roh
27 August 2019

Untuk menjadi anak-anak Allah yang sah, seseorang harus memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus. Ini adalah tatanan Allah. Firman Tuhan jelas sekali mengatakan bahwa orang-orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak-anak Allah. Kata “dipimpin” dalam teks aslinya adalah ago (ἄγω), yang artinya dipimpin dengan berpegangan tangan atau berjalan bersama menuju suatu arah tujuan tertentu. Membutuhkan atau menuntut kesediaan seseorang untuk mengubah seluruh cara berpikir dan arah hidupnya agar dapat berjalan seiring dengan Roh Kudus. Pimpinan Roh Kudus bukanlah pemaksaan. Kalau seseorang bersedia dipimpin, maka ia akan hidup dalam pimpinan; tetapi kalau seseorang menolak pimpinan-Nya, maka Roh Kudus akan undur. Dalam hal ini harus dipahami bahwa Roh Kudus tidak memaksa seseorang untuk hidup dalam pimpinan-Nya.

Setiap orang percaya harus hidup dalam pimpinan Roh. Hidup menurut Roh seperti hutang yang harus dibayar. Setiap orang percaya harus membayarnya. Hidup dalam pimpinan Roh bukan sesuatu yang otomatis bisa berlangsung. Orang percaya harus menggunakan kehendak bebasnya untuk dipimpin Roh Kudus. Itulah sebab Firman Tuhan berkata: “Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup” (Rm. 8:12-13). Dari pernyataan ini jelas bahwa hidup menurut Roh adalah panggilan yang harus dipenuhi. Dikatakan bahwa orang percaya adalah “seperti orang berhutang” untuk hidup menurut Roh berarti ini suatu keharusan yang tidak bisa tidak harus dipenuhi. Inilah tatanan Allah yang tidak boleh dan memang tidak dapat dihindari.

Dalam Roma 8:14 Firman Tuhan menunjukkan bahwa orang yang sah sebagai anak-anak Allah adalah orang-orang yang hidup dalam pimpinan Roh (Roh Allah). Kualifikasi ini tidak bisa digantikan dengan yang lain. Orang yang hidup dalam pimpinan Roh adalah orang-orang yang selalu melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak Allah. Hanya orang yang memiliki cara berpikir Allah yang dapat melakukan hal ini. Itulah sebabnya dalam Roma 12:2, Firman Tuhan mengatakan agar orang percaya tidak serupa dengan dunia ini. Orang percaya harus berusaha mengerti kehendak Allah sampai tingkat sempurna.

Hal ini merupakan pergumulan inti orang percaya. Dengan menjadi orang percaya, berarti kita berhutang untuk hidup menurut Roh, bukan menurut daging. Menurut daging artinya menuruti diri sendiri atau hidup dalam kewajaran manusia lain hidup. Mereka memikirkan hal-hal dari daging atau dunia ini; mereka tidak berpikir mengenai kehidupan di balik kuburnya. Banyak orang Kristen masih berkondisi seperti ini. Adapun hidup menurut Roh artinya hanya bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Tentu saja orang-orang yang hidup menurut pimpinan Roh tidak lagi hidup menuruti keinginannya sendiri, tetapi mengarahkan diri kepada kehendak dan rencana Tuhan, serta memfokuskan diri pada kehidupan yang akan datang, yaitu Kerajaan Surga. Jika orang percaya bisa melakukan hal ini, betapa hebat kualitas hidup yang dimilikinya. Hal inilah yang mengesahkan dan menunjukkan bahwa dirinya adalah anak-anak Allah.

Orang percaya yang menolak hidup menurut Roh atau dalam pimpinan Roh -sehingga masih memikirkan hal-hal yang dari daging- berarti masih hidup dalam “roh perbudakan”. Jadi jelaslah, apakah seseorang masih hidup dalam roh perbudakan atau sudah hidup dalam pimpinan Roh tergantung masing-masing individu. Jemaat Roma adalah jemaat yang luar biasa. Mereka berani menentang aniaya yang hebat terhadap mereka dari pihak pemerintah Romawi. Mereka berani kehilangan apa pun juga demi iman mereka. Inilah orang-orang yang telah memikirkan hal-hal dari Roh, bukan dari daging. Itulah sebabnya tanpa ragu-ragu Paulus mengatakan kepada mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih dari orang-orang yang menang. Orang-orang yang menang maksudnya adalah orang-orang Roma yang lebih menang dari hal kekayaan, kedudukan, kehormatan, dan lain sebagainya.

Orang-orang percaya di Roma adalah anak-anak Allah yang bermartabat lebih dari semua orang-orang yang hebat menurut ukuran dunia. Anak-anak Allah memiliki keagungan lebih dari manusia pada umumnya, dalam moral dan karakter di segala aspeknya atau hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Tidak banyak orang bisa mencapai level ini, sebab memang sangat sulit. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai jalan sempit; sedikit orang yang bisa masuk. Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang terpilih.