Diparkir Di Dunia
24 August 2018

Ketika seseorang mengikut Tuhan Yesus, maka sebenarnya ia tidak bisa lagi hidup wajar. Mengapa? Sebab fokus dan orientasi hidupnya bukan menjadi sedikit berubah, tetapi harus berubah total. Dalam Lukas 5:36-39, Tuhan Yesus memaparkan sebuah perumpamaan mengenai mengoyakkan secarik kain dari baju baru untuk menambal baju tua yang robek. Hal itu merupakan tindakan yang bodoh, sebab baju yang lama malah bisa terkoyak. Mestinya baju yang tua dibuang saja dan digantikan baju yang baru. Tetapi ini bukan sesuatu yang mudah, sebab baju yang lama sudah terbiasa nyaman dipakai. Dalam perumpamaan ini, baju baru bisa menunjuk Injil. Orang percaya tidak boleh hanya mengambil beberapa hal saja dalam Injil yang dipandang tidak menganggu “kenyamanan hidupnya”, sementara itu masih tetap mengenakan cara berpikir dan gaya hidupnya yang lama. Hal ini terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen. Penyebabnya bisa dua kemungkinan: Pertama, tidak mengerti Injil yang murni yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Kedua, walaupun mengerti Injil yang benar, tetapi memang tidak bersedia mengenakannya.

Tuhan juga mengatakan mengenai anggur baru yang harus disimpan di kirbat (kantung kulit) yang baru. Kalau disimpan di kantung kulit lama, akan mengoyak kantung kulit lama itu. Kebenaran Injil yang diajarkan Tuhan Yesus sangat kuat luar biasa untuk mengubah. Kalau seseorang tidak memiliki hati yang siap menerimanya, maka sia-sialah kebenaran itu disampaikan, tetap akan terbuang sia-sia. Inilah yang terjadi dalam kehidupan di antara kita, walaupun mendengar Firman yang benar tetapi tidak berubah, sebab memang hatinya sudah melekat dengan dunia ini. Ia tidak sanggup memahami Firman tersebut secara utuh atau lengkap, apalagi mengenakannya dalam hidup ini.

Seiring dengan hal tersebut, Tuhan Yesus juga menyinggung mengenai orang yang terbiasa minum anggur yang tua, dan merasa tidak enak kalau minum anggur yang baru. Semua ini menggambarkan betapa tidak mudahnya mengubah cara berpikir dan gaya hidup yang sudah dijalani dalam waktu lama. Dari hal ini kita memperoleh pelajaran rohani bahwa kuasa kegelapan berusaha memarkir selama mungkin orang Kristen dalam cara berpikir dan gaya hidup anak dunia, sampai tidak mau atau bahkan sampai tidak bisa berubah lagi.

Mengapa mengikut Tuhan Yesus tidak bisa lagi hidup wajar? Sebab mengikut Tuhan Yesus berarti hidup dengan cara berpikir dan gaya hidup-Nya. Inilah yang dimaksudkan oleh Paulus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Ini berarti seluruh cara berpikir dan gaya hidup orang percaya harus benar-benar berubah secara radikal dan drastis. Untuk menunjukkan ekstremnya hidup dalam Tuhan Yesus ini, Alkitab menggunakan istilah “dilahirkan dari atas atau dilahirkan baru”. Hal ini menunjukkan bahwa mengikut Tuhan Yesus harus benar-benar berkeadaan baru.

Menyedihkan, banyak orang menganggap kalau seseorang sudah ke gereja menjadi manusia yang bermoral baik, apalagi menjadi aktivis gereja, maka ia sudah dianggap telah lahir baru. Pada umumnya orang-orang Kristen yang sudah pergi ke gereja merasa bahwa dirinya sudah lahir baru. Hal ini sebenarnya sebuah penyesatan yang memarkir jemaat masih di dunia, tetapi meyakini diri sudah berparkir di surga. Mereka merasa sudah menjadi umat Allah dan berhak serta layak masuk rumah Bapa, padahal pada umumnya mereka belum melakukan kehendak Bapa. Betapa berbahaya keadaan banyak orang Kristen tersebut. Hanya orang yang melakukan kehendak Bapa yang tidak tertolak oleh Tuhan.

Seharusnya bagi seorang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, maka hidupnya sudah berakhir. Ia menghentikan perahu hidupnya di satu pelabuhan, yaitu Tuhan Yesus. Inilah yang dimaksud dengan kelegaan atau perhentian yang Tuhan Yesus ajarkan (Mat. 11:28-29). Kelegaan dalam teks aslinya adalah anapauso yang sama dengan perhentian. Dalam hal ini kita memang harus belajar dari Tuhan Yesus untuk dapat memperoleh atau mengalami perhentian tersebut. Terkait dengan hal ini Tuhan Yesus berkata: Belajarlah kepada-Ku. Tanpa belajar dengan sungguh-sungguh seseorang tidak pernah mengenal dan mengalami perhentian tersebut. Jadi, ternyata untuk memiliki kelegaan atau perhentian di dalam Tuhan, seseorang harus mengalami pertumbuhan rohani yang benar. Semakin seseorang dewasa rohani, maka semakin dapat merasakan dan mengalamai kelegaan dalam Tuhan yang sejati.