Dimulai Dari Hari Ini
10 January 2019

Pemikiran manusia pada umumnya adalah bahwa hidup ini sudah dimulai, sedang dijalani dan akan berakhir di kematian. Tetapi bagi orang percaya berbeda, yaitu bahwa hidup ini baru dimulai, tidak akan berakhir sebab akan berkelanjutan terus sampai kekekalan. Bagi orang percaya, kematian bukanlah akhir perjalanan kehidupan, tetapi sebuah jembatan menuju kehidupan yanglebih baik, meneruskan kehidupan hari ini. Tentu saja bagaimana dua kelompok manusia tersebut dalam mengisi hari hidup ini sangat berbeda. Bagi orang yang berpikir bahwa hidup sudah dimulai, sedang dijalani dan berakhir di kematian, akan berusaha bagaimana meraih sebanyak-banyaknya apa yang disediakan oleh dunia. Mereka hidup hanya untuk kesenangan diri sendiri. Tidak sedikit mereka yang meraih keuntungan di atas penderitaan orang lain. Segala sesuatu diukur dengan bagaimana menikmati kesenangan hari ini.

Orang percaya yang berpikiran bahwa hidup baru dimulai dan akan terus berkelanjutan sampai kekekalan, akan berusaha bagaimana memiliki kehidupan yang benar-benar berkenan di hadapan Tuhan. Fokus hidupnya bukan dunia hari ini, tetapi kehidupan dibalik kubur, sehingga berusaha untuk tidak terikat oleh segala keindahan yang ada di dunia hari ini, di bumi. Sebagai manusia, tentu kita membutuhkan kenyamanan hidup dengan segala kenikmatannya, termasuk menikmati semua yang Allah Bapa dan Tuhan Yesus ciptakan, tetapi orang percaya yang benar menunda semua kenyamanan dan kenikmatan tersebut di langit baru dan bumi yang baru. Tentu dengan keyakinan bahwa bumi sekarang ini bukan satu-satunya kesempatan untuk menikmati kehidupan. Kehidupan yang sesungguhnya justru nanti di balik kehidupan hari ini.

Orang yang merasa bahwa kehidupan sudah dimulai, sedang berlangsung dan akan berakhir di kematian, berusaha optimis menyongsong hari esok di bumi ini. Walau kenyataannya dunia ini semakin memburuk, tetapi mereka berusaha untuk optimis bahwa dunia mendatang di bumi sekarang ini akan lebih bisa dinikmati. Tidak heran kalau orang Kristen yang berpikiran demikian, jika berurusan dengan Tuhan akanselalu berdoa meminta agar Tuhan memberkati hidup mereka agar mereka sukses dalam karir, sukses dalam bisnis, dan lain sebagainya supaya bisa hidup bahagia di bumi. Biasanya orang Kristen seperti ini menganut Teologi Kemakmuran. Penekanan dalam pelayanan di dalam gereja-gereja ini adalah mukjizat. Mereka juga percaya adanya transformasi kehidupan yang menciptakan keadaan ekonomi, politik, dan berbagai bidang menjadi lebih baik. Doa yang dinaikkan adalah pola Doa Yabes. Orang-orang Kristen seperti ini merasa dituai oleh Tuhan, padahal mereka telah dituai oleh dunia.

Orang percaya yang benar bersikap pesimis terhadap hari esok di bumi ini, sebab Tuhan dan rasul-rasul-Nya sendiri menyatakan bahwa dunia tidak akan bertambah baik (Mat. 24:12-13; 2Tim. 3:1-5; 2Ptr. 3:1-5; dan lain sebagainya). Orang percaya yang benar memiliki sikap optimis hanya di kehidupan yang akan datang, yaitu di langit baru dan bumi yang baru.Kerinduannya yang kuat adalah kedatangan Tuhan Yesus kedua kali.Itulah sebabnya dalam berurusan dengan Tuhan fokusnya adalah bagaimana menjadi “perawan suci” yang dilayakkan sebagai mempelai Kristus yang berkenan. Teologi yang dikenakan adalah kehidupanYesus, yaitu teologi salib; sebab berkat bagi umat Perjanjian Lama adalah kemakmuran, tetapi berkat bagi umat Perjanjian Baru adalah penderitaan. Transformasi yang harus terjadi atau berlangsung dalam kehidupan bukanlah aspek-aspek lahiriah seperti ekonomi, politik, dan sosial, tetapi manusia batiniah dalam kehidupan setiap individu yang diperbaharui dari hari ke hari (Rm.12:2; 2Kor.4:16-18). Doa yang tetap dipertahankan dan diamalkan bukanlah Doa Yabes, tetapi Doa Bapa kami. Dengan cara hidup demikian seseorang terus mengalami proses menjadi serupa dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa, sehingga dituai oleh Tuhan.

Orang Kristen yang merasa bahwa kehidupan sudah dimulai, sedang berlangsung, dan akan berakhir di kematian, tentu saja berharap tidak masuk neraka. Dengan merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus, mereka merasa berhak masuk surga. Mereka juga ke gereja dan menyatakan mencintai Tuhan Yesus serta memuji serta menyembah Dia. Tetapi sebenarnya hati mereka masih mencintai dunia ini. Ciri dari gereja-gereja seperti ini adalah selalu menekankan persembahan uang, persepuluhan, persembahan buah sulung, dan lain sebagainya. Mereka menjanjikan jemaat menjadi “kepala” bukan “ekor”, jemaat diberkati lebih berlimpah-limpah kalau memberi persembahan uang ke gereja. Mereka mencoba memuaskan hati Tuhan dengan pujian dan penyembahan secara liturgi. Padahal menyembah Allah haruslah dalam Roh dan kebenaran, artinya bagaimana memiliki kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Sungguh sangat disayangkan, kegiatan mereka yang sangat energik di dalam gereja berujung pada kepentingan kebesaran organisasi dan kelimpahan materi para pemimpin. Malang sekali, Yesus yang mereka pahami bukanlah Yesus yang diajarkan di dalam Injil, tetapi “yesus yang lain”. Orang percaya harus sangat berhati-hati dan waspada terhadap penyimpangan ini.