Dimensi Yang Berbeda
22 May 2020

Play Audio Version

Persoalan penting yang harus dikemukakan dalam bahasan buku ini adalah mengenai kedaulatan dan kemahatahuan Allah. Betapa berbahayanya ajaran yang mengatakan bahwa Allah sudah menentukan segala sesuatu secara sepihak dalam kedaulatan-Nya yang tidak terbatas. Sebagai manusia, kita tidak boleh dan memang tidak bisa memahami keberadaan Allah yang ada di luar waktu dan di luar semua dimensi kita. Sebagai manusia, kita tidak mungkin dapat memahami Allah sepenuhnya. Dalam etika “ber-Tuhan,” seharusnya kita tidak mencoba memasuki wilayah Allah yang tidak akan dapat kita mengerti. Kita tidak boleh menyentuh bagian Allah yang tidak terselami oleh ciptaan, karena memang Dia berdimensi berbeda dengan ciptaan. Kita harus menempatkan diri sebagai ciptaan yang terikat pada dimensi ruang dan waktu. Kita hanya di wilayah yang menjadi bagian kita.

Dalam sejarah gereja, banyak teolog sudah mempersoalkan pernyataan Alkitab mengenai pemilihan dan penentuan Allah berkenaan dengan keselamatan. Ayat-ayat tersebut antara lain Efesus 1:4-5,11; Yohanes 6:37, 39; 15:16; Kisah Para Rasul 13:48; 2 Tesalonika 2:13; Roma 8:29-30; 9:6-26; dan lain-lain. Ada teolog-teolog yang mengajarkan bahwa Allah sudah memilih dan menentukan orang yang pasti menerima anugerah untuk diselamatkan. Sejatinya, pandangan ini tidak tepat. Untuk menemukan makna orisinal dari ayat-ayat tersebut, kita tidak boleh tersandera oleh suatu premis yang sudah ada, sehingga pengertian terhadap ayat-ayat tersebut sudah didasarkan pada premis tersebut. Untuk mendapatkan makna orisinal dari ayat-ayat di atas, kita harus sungguh-sungguh melihat konteks ayat itu, direlasikan dengan ayat, pasal, karakter atau sifat kitab, latar belakang, bahasa asli, dan lain sebagainya. Jika dalam menganalisa ayat-ayat tersebut seseorang tidak disandera oleh suatu premis tertentu, ia akan memperoleh kebenaran yang Alkitabiah, yaitu makna orisinal dari ayat-ayat Alkitab, dan menemukan bahwa ajaran yang mengatakan bahwa Allah sudah memilih dan menentukan orang yang pasti menerima anugerah untuk diselamatkan, adalah ajaran yang salah.

Pemilihan dan penentuan orang yang selamat, tidak boleh diartikan sebagai langkah Allah Bapa tanpa pertimbangan apa pun dan tanpa respons manusia; menunjuk siapa yang selamat masuk surga dan yang lain berarti masuk neraka. Dalam hal ini, Allah tidak akan memilih dan menentukan tanpa tatanan dalam diri Allah yang sempurna. Kita dapat mengetahui, memang Allah menentukan orang-orang yang diberi kesempatan mendengar Injil, tapi bukan berarti pasti selamat. Adapun yang ditentukan adalah standar atau target yang harus dicapai orang-orang tersebut. Kalau Paulus menyatakan bahwa Tuhan sudah memilih dan menentukan orang yang akan selamat sejak semula bahkan sebelum dunia dijadikan, karena sebagai orang-orang yang telah merespons anugerah Allah dan telah menjadi anak-anak-Nya, orang percaya harus yakin dan mengerti dari penghayatan hidup bahwa kitalah yang dipilih dan ditentukan sebelum dunia dijadikan untuk memiliki kesempatan menerima anugerah keselamatan, yaitu menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.

Pengajaran yang mengatakan bahwa Allah sudah memilih dan menentukan orang yang pasti menerima anugerah untuk diselamatkan, menempatkan diri seakan-akan bisa menjangkau “keberadaan Allah yang melampaui segala sesuatu.” Pengajaran tersebut menciptakan pemikiran yang tidak logis, dan menggambarkan Allah sebagai “Pribadi” misterius yang aneh. Apakah Allah memang menentukan seseorang selamat atau tidak? Tentu hal ini ada di luar wilayah pengertian kita. Kapasitas keberadaan Allah yang tidak terbatas, tidak akan dapat dimengerti oleh pikiran manusia.

Kalimat “yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm. 8:28-29) bukan berarti ada yang ditentukan untuk pasti selamat masuk surga, melainkan menunjuk kepada sekelompok manusia yang diberi kesempatan mendengar Injil. Hal ini tergantung prerogative Allah. Adapun apakah seseorang digarap oleh Allah untuk mengalami keselamatan, tergantung respons masing-masing individu. Respons tersebut ditunjukkan dengan “mengasihi Allah” (Rm. 8:28-29). Berbicara mengenai “mengasihi,” menunjuk sikap hati. Sikap hati adalah bagian terdalam dalam diri manusia yang ada di wilayah kedaulatan manusia itu sendiri. Orang yang tidak mengasihi Allah, tidak akan digarap Allah untuk menerima kebaikan, yaitu untuk menjadi serupa dengan Yesus. Dalam hal ini, kehendak bebas manusia bermain.

Pengajaran yang mencoba merumuskan bahwa Allah menentukan orang-orang tertentu selamat masuk surga, menunjukkan seolah-olah manusia bisa berpikir setara dengan Allah. Kita harus menghindarkan diri dari usaha untuk berada di posisi setara dengan Allah. Kalau manusia mencoba berdiri di posisi Allah, maka akan berasumsi bahwa Allah dalam kedaulatan-Nya telah memilih dan menentukan siapa yang selamat dan yang tidak. Kita harus berdiri di posisi di mana kita harus berada, sebagai ciptaan (manusia). Berdiri pada “posisi” manusia, akan membuat kita lebih menyadari tanggung jawab kita sebagai ciptaan secara patut, sehingga sebagai manusia, kita dapat menunaikan bagian yang harus kita penuhi dengan rela dan sukacita atau secara proporsional. Dengan demikian, kita dapat memiliki perjuangan dan tanggung jawab dalam keselamatan.