Dimensi Kehidupan Orang Percaya
26 May 2020

Play Audio Version

Jika cara pandang seseorang mengenai keselamatan hanya dalam satu dimensi, pasti tidak ada perjuangan yang proporsional untuk mengalami dan memiliki keselamatan. Banyak orang Kristen yang memandang keselamatan hanya dalam satu dimensi, bahwa Yesus telah mati di kayu salib bagi manusia dua ribu tahun yang lalu, menebus dosa umat pilihan. Mereka memandang bahwa pengurbanan Yesus sudah menjadi jaminan bagi orang Kristen, kalau mereka pasti selamat masuk surga, yaitu bagi mereka yang memercayai fakta sejarah itu dan mengakui status Yesus sebagai Juruselamat. Mereka merasa sudah menjadi anak-anak Allah yang sah dengan segala hak-haknya, yaitu berkat-berkat jasmani dan pemeliharaan Allah, kemudian nanti kalau mati, boleh meyakini pasti masuk surga. Inilah yang dipandang sebagai kasih karunia. Cara berpikir ini salah.

Pengertian pembenaran yang mereka pahami tidak lengkap dan kurang akurat. Mereka berkeyakinan bahwa Yesus telah mati di kayu salib sebagai usaha membenarkan orang percaya, sekali untuk selamanya, dan sudah tuntas sempurna. Pembenaran telah menempatkan manusia sebagai orang yang benar di hadapan Allah Bapa, dimana orang Kristen sudah diakui sebagai anak-anak Allah yang sah oleh pembenaran tersebut. Orang percaya tidak perlu lagi melakukan perjuangan untuk mengalami dan memiliki keselamatan, sebab mereka meyakini telah memiliki keselamatan. Bila ada usaha-usaha seperti perjuangan untuk mengalami dan memiliki keselamatan, dianggap sebagai kebodohan atau dipandang penyimpangan dari prinsip sola gratia (hanya oleh anugerah). Cara berpikir ini sudah mengakar selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, sehingga mereka tidak menemukan kemurnian kebenaran yang Yesus dan para rasul ajarkan. Kekristenan seperti ini hanya menciptakan keberagamaan seperti agama-agama pada umumnya, bukan jalan hidup yang Allah kehendaki, yaitu kehidupan Yesus yang harus dikenakan.

Menurut mereka, dosa-dosa telah diampuni sekali untuk selamanya, sehingga tidak perlu lagi terlalu mempersoalkan masalah dosa. Darah Yesus sudah menghapus dosa, berarti masalah dosa sudah selesai. Kalaupun mereka meminta ampun atas kesalahan-kesalahan, kesalahan yang mereka pahami hanyalah pelanggaran terhadap hukum atau moral secara umum. Mereka tidak memerhatikan masalah kodrat dosa yang harus diganti dengan kodrat ilahi. Hal ini menyebabkan mereka tidak memiliki perjuangan “masuk jalan sempit,” atau mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar, guna mengalami perubahan kodrat. Kekristenan seperti ini adalah kekristenan yang tidak benar, itu bukan jalan keselamatan yang diajarkan oleh Injil.

Sebenarnya, keselamatan juga harus dilihat dari dimensi sekarang, dimana orang percaya yang memercayai fakta sejarah pengurbanan Yesus dan mengaku Yesus sebagai Juruselamat harus mengalami proses perubahan, guna mencapai maksud keselamatan itu diberikan. Keselamatan diberikan agar manusia berdosa bukan saja menerima pengampunan dosa, melainkan juga mengalami proses perubahan, bukan hanya tidak lagi melakukan pelanggaran terhadap hukum moral umum, melainkan juga menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Perubahan seperti ini tidak ada dalam agama mana pun. Kematian Yesus di kayu salib memikul dosa-dosa kita sekali untuk selamanya, tetapi kodrat dosa yang melekat dalam diri kita tidak hilang dengan sendirinya. Kodrat dosa di dalam diri kita harus diselesaikan melalui proses pemuridan atau pendewasaan sepanjang umur hidup ini. Proses perubahan ini terjadi melalui didikan Bapa di dalam kehidupan orang percaya (Ibr. 12), agar orang Kristen tidak hanya menjadi anak-anak gampang (Yun. Nothos) atau anak yang tidak sah, tetapi menjadi anak-anak yang sah atau pangeran (Yun. Huios). Dalam hal ini, pengesahan sebagai anak-anak Allah menuntut peran individu orang percaya.

Pembenaran oleh darah Yesus membuat kita dibenarkan di hadapan Allah Bapa. Allah tidak melihat dosa atau kesalahan yang telah, sedang, dan bisa kita lakukan lagi. Kita dianggap benar oleh darah Yesus yang menghapus dosa kita atau salib yang memikul dosa kita. Bapa memberikan Roh Kudus sebagai meterai yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Tetapi, orang percaya bukan hanya diharapkan berkeadaan “dianggap benar” (dibenarkan), melainkan orang percaya harus sungguh-sungguh bisa berkeadaan benar sesuai dengan standar yang Allah kehendaki. Standar yang Allah kehendaki adalah sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48) atau serupa dengan Yesus (Rm. 8:28-29). Sehingga, orang percaya bisa berkeadaan berkodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:7-10).

Dengan demikian, menjadi orang percaya berarti membawa diri kepada perjuangan yang sangat berat, lebih berat dari perjuangan orang yang tidak menjadi umat pilihan. Menjadi orang Kristen bukan berarti memiliki kemudahan hidup, baik di bumi ini dengan jaminan berkat-berkat jasmani dan nanti kalau mati pasti diterima masuk ke dalam surga. Cara pandang yang salah ini menciptakan kehidupan Kristen yang lumpuh, tanpa perjuangan untuk memenuhi panggilan sebagai orang percaya menjadi sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus.