Di Bawah Pengaruh Kuasa Gelap
15 November 2020

Play Audio Version

Pada kenyataannya, sekarang ini banyak orang Kristen yang sebenarnya ada dalam pengaruh kuasa gelap, tetapi tidak menyadarinya sama sekali. Hal ini khususnya terjadi atas mereka yang bisa berbicara mengenai Tuhan atau mengenal teologi. Mereka seperti Petrus yang ada dalam pengaruh Iblis, tetapi tidak menyadari keadaannya, bahkan menganggap apa yang mereka pikirkan itu berasal dari Allah (Mat. 16:21-23). Hal ini akan tampak dari perilakunya yang berbeda dengan yang dikenakan oleh Yesus. Kehidupan Yesus haruslah menjadi standar norma bagi orang-orang percaya. Itulah kekristenan yang sejati. Tentu saja kehidupan seperti Yesus ditandai dengan roh yang lemah lembut dan tenteram, tidak menyakiti atau melukai orang lain, serta membawa keteduhan bagi orang lain. Kehidupan seperti ini bisa dirasakan oleh sesama.

Kalau mereka tidak mencintai Tuhan lebih dari dunia, maka mereka tidak akan pernah menyadari pengaruh kuasa gelap atas kehidupan mereka. Mereka bukan saja tidak menyadari penyesatan tersebut, tetapi ironisnya, mereka malah menuduh orang lain sesat dan bidat. Bukan hal yang mengherankan jika di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi atau seminari sering terjadi pertikaian antardosen, menyerang dosen lain di ruang kuliah, memperebutkan kedudukan sebagai pimpinan, pelanggaran moral, penggelapan uang, dan lain sebagainya. Tentu semua itu tidak kelihatan secara terang-terangan, karena seorang yang cerdas di kalangan akademisi bisa membungkus kebenciannya dengan penampilan yang kelihatannya santun, intelek, dan bernuansa akademis. Tetapi sebenarnya, perilaku mereka tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak intelek dan yang tidak ada dalam lingkungan akademis.

Dalam kecerdikannya, Iblis membuat banyak teolog berpikir bahwa kalau mereka sudah dapat merumuskan masalah-masalah doktrinal, maka berarti mereka telah menaklukkan penyesatan, yang sama dengan mengalahkan Iblis. Bagi mereka, penyesatan hanya dikaitkan denga doktrin. Mereka tidak mendeteksi sama sekali pengaruh kuasa gelap di dalam kehidupan mereka. Konsep mereka mengenai pengaruh kuasa gelap hanya dalam bentuk kerasukan secara harfiah atau dalam bentuk perbuatan melanggar norma. Mereka sangat cakap membicarakan hal mengenai Allah dan merasa bahwa kalau mereka membicarakan mengenai Allah atau berteologi, maka berarti juga telah menghadirkan Allah dalam hidup mereka; atau mereka merasa Allah berpihak pada mereka. Tentu saja hal itu membuat mereka berpikir bahwa mereka tidak ada dalam pengaruh kuasa gelap. Tanpa disadari, dalam pikiran mereka ada kuasa gelap yang bekerja aktif menyerang orang percaya dan menyesatkan, atau berusaha menjatuhkannya.

Sebagaimana Allah seakan-akan senyap, demikian pula kuasa gelap juga senyap. Tetapi, sebenarnya kuasa gelap bekerja dengan sangat aktif untuk dapat membinasakan sebanyak mungkin manusia agar keselamatan yang Allah sediakan tidak terwujud dalam kehidupan manusia. Banyak teolog tidak menyadari manuver kuasa gelap ini, sebab mereka hanya sibuk merumuskan doktrin-doktrin, mempercakapkan, dan gaduh dalam perdebatan-perdebatan dengan sesama teolog Kristen lain, serta berapologetika dengan mereka yang beragama lain. Mereka menjadi lebih sesat ketika merasa bahwa saat mereka berteologi dengan menyerang ajaran orang lain yang mereka pandang sesat dan berapologetika terhadap orang-orang non-Kristen. Mereka merasa sedang membela Tuhan dan melakukan pelayanan yang benar, yang berkenan di hadapan Allah. Mereka sering mengesankan bahwa diri mereka adalah pahlawan-pahlawan iman yang membela kekristenan, padahal mereka tidak bisa membela dirinya sendiri di hadapan Allah, artinya tidak melakukan apa yang berkenan di hadapan Allah. Ini berarti mereka gagal mengasihi dirinya sendiri. Bagaimana bisa mengasihi sesama kalau tidak mengasihi diri sendiri? Bagaimana mereka bisa melayani Tuhan kalau mereka belum bisa mengasihi diri sendiri secara benar?

Mereka tidak sungguh-sungguh berusaha untuk menjadi manusia yang dewasa menurut Tuhan. Mereka tidak mengerti atau memang tidak mau mengerti bahwa lebih dari sekadar berlogika atau menalar Allah dalam berteologi, mestinya mereka harus berjuang untuk dapat “selesai dengan dirinya sendiri.” Orang yang belum “selesai dengan dirinya sendiri” memiliki banyak pangkalan atau tempat berpijak untuk Iblis. Orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri adalah orang-orang yang masih mau menikmati pujian, mudah tersinggung dan harga diri yang mau diangkat, menunjukkan kekuasaan dan keberaniannya, memandang fasilitas dunia sebagai pelengkap kesenangan, menyukai kedudukan di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi atau seminari, atau kedudukan di lingkungan gereja dan masyarakat. Ini adalah kodrat dosa yang mestinya disalibkan (Gal. 5:24-25). Mereka menganggap bahwa hal tersebut adalah kewajaran, sehingga mereka mengelaborasi hidup dengan usaha mencapai hal-hal tersebut. Ini berarti, pada dasarnya kehidupan mereka sama seperti dunia, hanya bedanya, mereka bisa berteologi Kristen.