De Facto
07 September 2020

Play Audio Version

Secara de jure atau secara hukum, salib Kristus telah membebaskan kita dari segala dosa yang kita lakukan. Hal ini memberi peluang bagi orang percaya untuk diperdamaikan dengan Allah. Tetapi kenyataannya—secara de facto—manusia harus berjuang mengubah diri dengan fasilitas keselamatan yang Allah berikan, yaitu Roh Kudus yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran (Yoh. 16:13), Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan (Rm. 1:16-17), dan proses pembentukan Allah melalui setiap peristiwa yang kita alami (Rm. 8:28). Fasilitas keselamatan ini disediakan agar orang percaya bisa mencapai kehidupan yang diperdamaikan dengan Allah. Semua ini dimulai dari pihak Allah, bukan inisiatif kita, melainkan inisiatif Allah. Tetapi fasilitas keselamatan tidak bekerja sendiri mengubah orang percaya. Harus ada usaha dari pihak orang percaya untuk mewujudkan perdamaian itu. Orang percaya harus merespons anugerah Allah dengan tindakan.

Kalau orang mengaku percaya dan menerima Yesus sebagai jalan pendamaian tetapi tidak berusaha mengubah diri untuk mengenakan kodrat ilahi, maka ia tidak menemukan kehidupan yang diperdamaikan Allah itu. Ia tidak menjadi manusia sesuai rancangan Allah. Hanya manusia yang sesuai dengan rancangan Allah yang dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah. Karena manusia yang dikehendaki Allah itu segambar dan serupa dengan Dia. Jadi, sebenarnya orang yang tidak diperdamaikan itu menjauh dari Allah, orang itu bisa hilang sampai tidak menemukan dirinya sendiri. Sebab, dia tidak menjadi manusia orisinil seperti yang Allah kehendaki. Jadi, ketika seseorang berusaha untuk memiliki kekudusan seperti yang Allah kehendaki, ia sedang menemukan manusia yang Allah inginkan itu. Kalau tidak, maka ia tidak pernah menemukan dirinya sendiri.

Satu aspek, Yesus menjadi jalan, artinya melalui salib Ia memikul semua dosa untuk mendamaikan kita dengan Allah. Ini dimensi pasif dari keselamatan yang kita peroleh. Tetapi aspek lain, Yesus berkata, “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Menjadi murid berarti belajar, dididik supaya mengalami perubahan—bukan hanya secara moral umum, melainkan menjadi serupa dengan Yesus—untuk bisa berkodrat ilahi. Perubahan kodrat inilah yang dapat membangun persekutuan dengan Allah, yang adalah maksud pendamaian itu. Keadaan hidup kita yang berkodrat ilahi dapat memiliki hubungan yang harmoni dengan Allah. Kalau kita tidak mencapai kesucian yang Allah kehendaki, kita tidak akan bisa harmoni dengan Allah. Suci bukan hanya berarti tidak berbuat dosa, melainkan kehidupan yang dalam seluruh tindakannya selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Oleh sebab itu, kata “jalan” dalam ucapan Yesus “Akulah jalan,” harus dilihat dari dimensi yang lengkap. Di luar jasa kita, Yesus menyediakan jalan untuk berdamai dengan Allah. Tetapi untuk mewujudkan perdamaian di dalam hidup kita, kita harus aktif. Jalan yang Yesus katakan adalah diri-Nya sendiri sebagai “jalan itu,” yang kita harus “jalani” bukan hanya dipercayai. Jadi, agar orang percaya sungguh-sungguh memiliki perdamaian dengan Allah, ia harus menginvestasikan seluruh hidupnya tanpa batas. Menjalani jalan itu, yaitu memiliki kehidupan seperti yang Yesus jalani. Ini bukan sesuatu yang mudah. Tetapi anugerah Allah tidak berhenti sampai bukit Golgota, Allah berkenan menggarap kita agar kita bisa mengenakan kodrat ilahi.

Keaktifan orang percaya dalam menerima penggarapan Allah melalui Roh Kudus di dalam hidupnya guna perubahan kodrat, sangat penting. Sejatinya, itulah yang harus menjadi satu-satunya isi hidup kita. Jadi, kalau kita menjadi orang percaya, isi hidup kita memang hanya untuk itu. Kita harus berani berkomitmen terlebih dahulu, walaupun kita belum mencapai keadaan ideal yang Allah kehendaki. Kita harus berani berkomitmen untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela, serta meninggalkan percintaan dunia. Komitmen ini langkah awal yang akan mengawali proses perubahan untuk mengenakan kodrat ilahi atau serupa dengan Yesus. Yesus sebagai jalan, bukan hanya untuk dipercayai atau diakui, melainkan harus dijalani. Karena “percaya” adalah tindakan, bukan sekadar aktivitas pikiran. Percaya bukan hanya keyakinan dalam nalar, melainkan tindakan mengikuti jejak hidup Yesus.

Jadi, perbedaan kita dengan orang non-Kristen bukan hanya pada pengakuan, dimana mereka tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sedangkan kita bukan hanya memiliki pengakuan melainkan juga tindakan mengenakan hidup-Nya atau mengikuti jejak-Nya. Kalau hanya sebuah pengakuan di mulut, tidak ada nilainya sama sekali kalau tidak disertai dengan tindakan. Itulah sebabnya, Yakobus dalam suratnya mengatakan: “iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh.” Tapi ironis sekali, banyak orang Kristen merasa dengan memiliki keyakinan di dalam nalar berarti sudah memiliki nilai keselamatan secara utuh. Nilai kekristenan kita adalah ketika kita beriman yang diwujudkan dalam tindakan bertindak. Orang yang beriman dengan benar, pasti semakin hari akan semakin menjadi seperti Yesus. Kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, hati yang bersih, tidak ada dendam, tidak ada kebencian, tidak ada kesombongan, tidak ada keangkuhan, atau maksud-maksud jahat lainnya.