Cara Memberi Persembahan
26 May 2018

Cara memberi persembahan di dalam banyak gereja, bermacam-macam. Tetapi cara konservatif yang umum dalam gereja-gereja biasanya menggunakan kantong kolekte dan kotak persembahan. Kantong kolekte biasanya diedarkan, sedangkan kotak kolekte biasanya diletakkan di pintu masuk gereja atau ada pula yang menaruhnya di depan jemaat, di samping atau di depan mimbar. Jemaat Kristen di dunia sudah tidak asing dengan kantong kolekte. Sejak menjadi orang Kristen, mereka sudah terbiasa melihat kantong kolekte dalam gereja. Ada gereja yang memiliki bermacam-macam warna kantong kolekte, sesuai dengan peruntukan uang kolekte tersebut.

Ada gereja yang mendoakan kantong kolekte kosong sebelum mengedarkannya kepada jemaat. Tetapi ada pula gereja yang mendoakan kantong kolekte setelah jemaat memberi persembahan. Maksud hal ini sebenarnya tidak jelas. Tetapi biasanya jemaat tidak mempersoalkannya. Kalau ditanyakan, biasanya dengan mudah orang atau pendeta menjawabnya, bahwa hal itu patut dilakukan sebelum memberi persembahan. Jadi, jawabannya adalah demi kepatutan. Biasanya mereka berdoa agar Tuhan memberkati persembahan tersebut,supaya digunakan sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi faktanya tidak ada pertanggungjawaban setelah berdoa untuk persembahan. Jemaatpun tidak mempersoalkannya. Hal ini sebenarnya menjadi tanggung jawab yang berat bagi gereja, dalam hal ini pendeta dan stafnya dalam mengelola uang jemaat.

Biasanya berdoa untuk persembahan juga disertai dengan doa bagi mereka yang memberi persembahan. Tidaklah salah mendoakan mereka yang memberi persembahan. Tetapi harus diingat, bahwa berkat Tuhan dicurahkan kepada kehidupan seseorang bukan sekadar karena melayangkan beberapa lembar uang ke dalam kantong kolekte. Kiranya kita dapat menghindarkan jemaat dari pandangan yang salah mengenai Tuhan. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang murahan, yang dapat “disuap” dengan beberapa lembar uang untuk kolekte, kemudian jemaat diberkati secara finansial dengan berlimpah. Berkat Tuhan diberikan kepada orang percaya sesuai dengan kepercayaan Tuhan atas pribadi-pribadi tersebut dan kelayakan mereka menjadi orang yang diberkati oleh Tuhan.

Ada pula gereja yang sebelum mempersembahkan persembahannya mengangkat amplop ke atas untuk diberkati. Hal ini juga sebenarnya tidak jelas maksudnya. Tetapi yang pasti bisa terjadi, mereka yang tidak memberi persembahan, bisa dipermalukan karena tidak membawa persembahan. Lebih memalukan lagi bagi yang tidak memberi persembahan, kalau persembahan harus dibawa ke kotak persembahan di depan mimbar. Mereka harus berjalan berurut untuk memberi persembahan, maka sangat tidak mungkin tidak diketahui siapa yang tidak memberi persembahan. Cara-cara ini bisa merupakan intimidasi bagi yang tidak memberi persembahan. Tentu saja hal ini merupakan pendidikan yang buruk bagi jemaat. Apakah kalau amplop berisi uang tidak diangkat dan tidak didoakan berarti persembahannya tidak diperkenan atau tidak diberkati oleh Tuhan?Kita harus jujur dan cerdas untuk memperkarakan dengan serius serta rendah hati, tindakan-tindakan dalam persembahan tersebut.

Dewasa ini beberapa gereja sudah mulai memasang mesin EDC untuk supaya jemaat dapat memberikan persembahan. Mesin EDC adalah sebuah alat untuk menerima pembayaran yang menghubungkan rekening si pemberi atau si pembayar dengan rekening si penerima. Dengan alat ini, dana si pemberi atau si pembayar dapat seketika itu juga (real time) berpindah ke rekening si penerima. Biasanya alat ini ada di pusat perbelanjaan, POM bensin, toko, resto, café dan lain sebagainya. Sekarang ada gereja-gereja yang sudah mulai memasang mesin EDC ini untuk sarana jemaat memberi persembahan.

Terkait dengan sub tema ini, perlu dipersoalkan: apakah salah kalau gereja menyediakan mesin EDC (Electronic Data Capture)? Jawabnya adalah tergantung motivasi menggunakan mesin EDC tersebut. Kalau motivasinya supaya persembahan bisa lebih banyak, dan jika hal ini didorong oleh nafsu serakah -karena gereja dalam hal ini pendeta dan stafnya hendak memancing jemaat supaya terpacu memberi persembahan uang lebih banyak- tentu sangat salah dan merupakan dosa. Tetapi kalau memasang mesin EDC tersebut demi kemudahan atau kepraktisan, tidaklah bisa dikatakan salah. Motivasi mengadakan mesin EDC guna sarana persembahan sangat harus diperhatikan, supaya kita tidak berdosa kepada Tuhan.

Oleh sebab itu, jemaat harus diajar bagaimana hidup sesuai dengan kehendak Allah. Segala sesuatu yang dimiliki jemaat adalah milik Tuhan. Memberi persembahan, baik melalui uang cash atau melalui mesin EDC, ATM atau melalui transfer adalah sama saja. Dalam hal ini, yang penting adalah sikap hati jemaat dalam memberi persembahan dan sikap para pelayan Tuhan dalam menyediakan sarana bagi jemaat dalam memberi persembahan.