Cara Berpikir Yang Berbeda
25 April 2018

Hidup beriman dalam Yesus Kristus berarti berpola pikir yang berbeda, sehingga bergaya hidup yang tidak sama dengan dunia ini. Dengan demikian, orang percaya harus selalu mengalami proses pembaharuan pikiran. Proses pembaharuan pikiran ini akan membuat gaya hidup seorang anak Tuhan semakin berbeda dengan gaya hidup anak-anak dunia. Kenyataan ini tidak mungkin dapat dihindari. Kalau gaya hidup seorang Kristen tidak berubah seperti yang dipolakan oleh Tuhan, maka ia bukanlah orang Kristen sejati, tetapi orang Kristen palsu. Demikianlah dikatakan dalam kitab suci, bahwa gandum bercampur dengan lalang tumbuh bersama. Sekarang Tuhan tidak mengadakan pemisahan, tetapi nanti di akhir zaman, barulah Tuhan mengadakan pemisahan. Gaya hidup yang dipola Tuhan adalah gaya hidup sesuai dengan Injil Kerajaan Surga. Inilah yang Paulus maksudkan sebagai hidup yang berpadanan dengan Injil (Flp. 1:27). Kehidupan yang berpola Tuhan adalah kehidupan yang semakin seperti Yesus. Kehidupan seperti Yesus adalah kehidupan seseorang, yang dalam hidup ini hanya melakukan kehendak Bapa, berperilaku mulia, dan hidup memperjuangkan pelebaran Kerajaan Allah. Pelebaran Kerajaan Allah artinya bagaimana Injil bisa didengar oleh sebanyak mungkin orang dan mendewasakan mereka.

Perubahan tersebut membuat seseorang tidak menemukan sahabat yang bisa sehati di luar orang percaya. Dengan demikian, ia akan merasa kesepian, sebab pola hidup manusia di sekitarnya makin berbeda dari apa yang dihayati atau dimengertinya mengenai kehidupan. Kesepian seperti ini justru membuat kehidupan rohaninya semakin sehat, sebab ia dibawa kepada suatu kesadaran bahwa ada rongga kosong dalam dirinya yang tidak dapat diisi oleh siapa pun dan apa pun kecuali oleh Tuhan sendiri. Kalau ia merasa bahwa dunia sekitarnya semakin berbeda, sebenarnya yang berubah bukanlah orang lain atau dunia sekitarnya, tetapi dirinya sendirilah yang semakin berubah.

Hal inilah yang membuat seorang anak Tuhan yang bertumbuh secara benar di dalam Tuhan, tidak bisa lagi akrab dengan teman-teman lamanya yang tidak mengenal kebenaran. Bahkan kadang-kadang dengan saudara dan keluarga dekat sendiri ia merasa asing. Jadi kalau seseorang masih bisa akrab dengan orang yang tidak takut Tuhan, sangat besar kemungkinan ia belum bertumbuh secara benar di hadapan Tuhan. Kesepian seperti ini adalah kesepian kudus yang mendorong seseorang makin mencari Tuhan dan bersekutu dengan saudara seiman yang “se-roh”. Baginya, ke gereja bukan lagi kewajiban tetapi kebutuhan, sebab di sana ia menemukan orang-orang yang bisa diajak sehati.

Perubahan-perubahan oleh kuasa Firman atas seseorang akan membuat seseorang tidak merasa nyaman hidup di bumi ini. Ia melihat ketragisan hidup ini. Namun demikian, ia tetap bisa menikmati semua berkat yang Tuhan sediakan. Selanjutnya, ia makin menghayati apa artinya bahwa dunia ini bukan rumahnya. Dunia ini adalah tempat persinggahan sementara. Inilah yang harus terus menerus diajarkan kepada jemaat Tuhan, bahwa Tuhan memilih kita untuk meninggalkan dunia ini, sama seperti Abraham diperintahkan untuk meninggalkan Urkasdim. Apakah pola hidup ini membuat seorang anak Tuhan nampak tidak wajar? Tuhan tidak mengajarkan kita hidup secara tidak wajar di mata manusia. Wajar dengan pengertian, bahwa kita tidak kehilangan “kemanusiaan” kita. Kita tetap masih menjalani hidup seperti manusia lain dalam bekerja mencari nafkah, makan minum, menikah, menikmati alam, mengembangkan dan menikmati kreasi seni dan menikmati hobi yang menyukakan hati, berolah raga, rekreasi dan lain sebagainya.

Jadi, menyangkal diri pada prinsipnya bukan hanya menyangkut masalah tindakan-tindakan lahiriah yang dianggap tidak bermoral seperti membunuh, berzina, mencuri dan lain sebagainya, tetapi juga kesediaan untuk mengubah tujuan dan motif hidup. Jadi yang paling dipersoalkan bukan “buah” semata-mata, tetapi akarnya. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Paulus berkata bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang (1Tim. 6:10). Cinta uang adalah tradisi yang diturunkan orang tua kepada kita. Berkenaan dengan hal ini Paulus menulis dalam 1 Korintus 15:32, sebuah filosofi yang berkata: “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”.

Hal inilah yang ditunjukkan Tuhan Yesus dalam Lukas 12:16-21, orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, tetapi tidak kaya di hadapan Tuhan. “Tidak kaya di hadapan Tuhan”, kalimat ini hendak menyerukan kita agar kita kaya di dalam Tuhan. Untuk kaya di dalam Tuhan kita harus mulai memiliki motif dan tujuan hidup yang benar. Motif dan tujuan hidup yang benar harus diajarkan terus menerus di dalam gereja. Ini bukan sekadar membantu pelayanan gereja, terlibat dalam aktivitas gereja dan berbagai kegiatan rohani lain yang kita golongkan melayani Tuhan, tetapi menyangkut seluruh irama hidup setiap hari. Di dalamnya Tuhan akan mengajar orang percaya. Sekali lagi, setiap kali orang percaya berkumpul bersama dan Alkitab dibuka, disitulah tujuan dan motivasi hidup yang benar diajarkan kepada kita.