Bukan Untuk Mengubah Nasib di Bumi
29 July 2020

Play Audio Version

Selama ini, terdapat suatu kesalahan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan beberapa abad. Pelayanan sering dimulai dari mengikuti pendidikan di seminari atau sekolah tinggi teologi. Sehingga pelayanan berangkat dari kemampuan akademis atau apa yang diajarkan di seminari atau sekolah tinggi teologi kepada mahasiswanya. Tidak sedikit mereka yang mengaku terpanggil melayani dan masuk pendidikan seminari atau sekolah tinggi teologi bukan didasarkan pada panggilan pelayanan yang murni, melainkan hanya karena mencari tempat dalam kehidupan pencarian nafkah, atau untuk hidup dalam kewajaran seperti orang pada umumnya yang memiliki sebuah profesi. Dalam hal ini, pelayanan menjadi batu loncatan untuk memperbaiki tingkat kehidupan sosial ekonomi. Harus diingat, selama seseorang masih terfokus oleh pemenuhan kebutuhan ekonomi, ia tidak akan pernah memiliki kehidupan yang normal di mata Allah.

Seminari atau sekolah tinggi teologi sering dijadikan batu loncatan yang mudah atau sarana untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik atau memperbaiki tingkat kehidupan sosial ekonomi. Orang-orang yang tinggal di pulau-pulau yang jauh, di kampung-kampung di daerah terpencil, mustahil atau sangat sulit dapat mengubah nasib menjadi orang yang bisa melihat kota besar dan memiliki kehidupan yang lebih layak. Seminari atau sekolah tinggi teologi atau sekolah Alkitab menjadi jalan atau sarana yang sangat mudah untuk bisa mewujudkan keinginan tersebut. Sementara itu, banyak seminari atau sekolah tinggi teologi membuka pintu beasiswa. Hal ini merupakan jalan untuk mengubah “nasib” tersebut. Mereka pergi meninggalkan daerahnya untuk menjadi hamba Tuhan. Mereka memang tidak bermaksud menipu Tuhan dan jemaat Kristen, tetapi faktanya, mereka sebenarnya belum mengenal diri mereka sendiri. Kalau mereka tidak berubah, mereka dapat menjadi penipu-penipu di ladang Tuhan.

Ketika orang-orang ini menjadi sarjana, magister, atau doktor teologi sementara watak mereka belum terbentuk dengan baik, apalagi belum mengalami perubahan kodrat, maka mereka menjadi hamba Tuhan hanya untuk mencari nafkah. Inilah pendeta karier yang sebagian telah memenuhi gereja hari ini. Tidak jarang jemaat di kota memberikan anak gadis mereka kepada “hamba-hamba Tuhan” tersebut yang sebenarnya masih belum sembuh dari obsesinya untuk menjadi manusia yang hidup secara wajar. Mereka sebenarnya bukan hamba Tuhan, melainkan hamba diri sendiri yang terobsesi menjadi manusia yang wajar seperti manusia lain yang bermartabat ekonomi lebih baik daripada tetap tinggal di daerah terpencil. Memang pada dasarnya, di kedalaman hati mereka, studi di seminari atau sekolah tinggi teologi adalah untuk memperbaiki tingkat kehidupan sosial ekonomi.

Tentu tidak salah kalau seseorang meninggalkan daerahnya dari pulau-pulau yang jauh, kampung-kampung, atau daerah terpencil untuk masuk seminari atau sekolah tinggi teologi guna menjadi seorang pendeta. Tentu tidak salah, kalau kemudian hari mereka menjadi pendeta di kota dan menikah dengan orang kota, dan memiliki kehidupan ekonomi yang jauh lebih baik daripada hidup di daerah terpencil. Tetapi, seharusnya mereka mengalami perubahan kodrat untuk dapat menjadi hamba Tuhan yang melayani dengan tujuan mengubah jemaat sesuai dengan maksud keselamatan diberikan oleh Allah. Tetapi faktanya, tidak mudah terjadi perubahan dalam diri mereka, sebab selain obsesi tersembunyi di kedalaman hati mereka begitu kuat, juga seminari atau sekolah tinggi teologi tidak memberikan pendidikan yang memadai guna terjadinya proses “konversi” dari manusia yang berkodrat dosa ke manusia yang berkodrat ilahi. Pendidikan di sekolah teologi sering hanya mengisi pikiran dengan ilmu dan teknik-teknik pelayanan, tetapi tidak menyediakan pendidikan guna perubahan kodrat.

Setelah mereka menjadi pendeta, sebagian mereka masih menunjukkan adanya “manusia lama” yang sangat kental dengan “DNA” (deoxyribonucleic acid) darimana mereka berasal dan obsesi duniawinya. Mestinya, setiap orang yang benar-benar mengalami perubahan kodrat akan memancarkan karakter ilahi yang memancar dari kehidupan Yesus. Sebenarnya, tidak menjadi masalah dari suku, daerah, atau latar belakang apa seorang pendeta itu berasal, tetapi kalau ia menjadi pelayan Tuhan tanpa mengalami perubahan kodrat, pasti ia melayani hanya untuk kehidupan nafkah di bumi. Inilah yang namanya “pendeta karier.” Betapa berbahayanya kalau mereka menjadi pemimpin jemaat, apalagi menjadi ketua sinode atau pengurus sinode. Akibatnya, gereja dan jemaat tidak dibawa kepada kebenaran yang Allah kehendaki, sehingga keselamatan tidak dialami dan tidak dimiliki oleh jemaat.

Tentu saja tulisan ini tidak bermaksud melukai siapa pun, tetapi kalau sekarang ada mahasiswa yang sedang belajar di seminari atau di sekolah tinggi teologi, seharusnya lebih dari sekadar mengikuti proses pendidikan dengan kurikulum tersaji, ia harus berjuang untuk mengalami perubahan kodrat. Bagi mereka yang sudah menjadi hamba Tuhan, kiranya disadarkan untuk menghargai panggilan, bahwa panggilan kita adalah melayani Tuhan. Melayani Tuhan bukan sekadar untuk mengubah nasib di bumi ini, baik nasib kita sendiri maupun nasib orang lain, melainkan untuk memindahkan hati di Kerajaan Surga.