Bukan Kesombongan
30 August 2017

Sering terjadi, orang yang memburu kesempurnaan dipandang sebagai orang sombong. Kita harus memahami apa yang dimaksud dengan kesombongan itu. Dari beberapa pengertian mengenai kesombongan yang terkait dengan masalah kesempurnaan, ada dua hal yang perlu kita bahas. Kesombongan adalah sikap yang tidak mengakui otoritas Allah. Orang sombong adalah orang yang tidak mau menundukkan diri secara benar kepada Allah. Orang sombong menjadikan dirinya sebagai tuhan bagi dirinya sendiri. Inilah tindakan yang juga telah dilakukan oleh Lusifer. Lusifer menolak tunduk kepada Allah, sebab ia mau mendirikan takhtanya sendiri.

Orang yang tidak mau menundukkan diri kepada Tuhan untuk memenuhi yang dikehendaki oleh Tuhan adalah orang-orang sombong. Justru orang yang mau mencari kesempurnaan adalah orang-orang yang rendah hati. Sudah sangat jelas Tuhan menghendaki orang percaya menjadi sempurna. Kalau seseorang menolak menjadi sempurna, maka berarti tidak tunduk kepada otoritas Tuhan. Kalau seseorang mengakui otoritas Tuhan, maka apa pun yang dikehendaki oleh Tuhan, ia bersedia menurutinya; sesulit, seberat, atau bahkan semustahil apa pun.

Kesombongan adalah sikap merasa bisa menjalani hidup tanpa Tuhan. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang mengandalkan diri sendiri. Orang yang tidak mencari kesempurnaan adalah orang yang tidak sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan dalam arti yang benar. Mereka yang tidak bergumul mencapai kesempurnaan tidak akan terbawa kepada situasi yang sangat membutuhkan Tuhan. Sebab kalau hanya menjadi orang baik, tidak dibutuhkan kasih karunia dan pendampingan Tuhan melalui Roh Kudus. Banyak orang beragama, bahkan orang tidak beragama, berkeadaan baik. Tetapi kalau seseorang bergumul untuk menjadi sempurna, tidak bisa tidak maka akan sangat membutuhkan Tuhan untuk menuntunnya. Orang-orang yang berusaha mencapai kesempurnaan akan lebih mengandalkan Tuhan untuk pencapaiannya. Mereka menjadi orang-orang yang rendah hati sebab menyadari bahwa dengan kekuatan sendiri tidak akan dapat mencapai Tuhan.

Kesombongan adalah sikap yang tidak mengakui bahwa keberadaannya karena anugerah Tuhan semata-mata. Orang yang tidak memburu kesempurnaan tidak atau kurang menghayati bahwa keberadaannya adalah anugerah Allah semata-mata. Sebab jika seseorang tanpa Tuhan pun bisa menjadi baik, maka orang-orang baik tidak merasa perlu mengakui bahwa keberadaannya karena anugerah Tuhan semata-mata. Tetapi kalau seseorang mengerti bahwa tanpa Tuhan seseorang tidak akan dapat mencapai kesempurnaan, maka ketika mencapai kehidupan yang melampaui standar kebaikan manusia, ia tahu dan menyadari bahwa keberadaannya karena anugerah Allah semata-mata. Memang dengan kekuatannya sendiri seseorang tidak dapat mencapai kesempurnaan atau yang sama dengan mencapai hidup kekal yang ideal, yaitu hidup yang berkualitas sempurna. Tetapi orang percaya harus mengandalkan Tuhan dan percaya bahwa yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Allah (Mat. 19: 17-26). Dalam hal ini justru orang yang mencari kesempurnaan adalah orang yang rendah hati dan tidak berambisi liar. Ini adalah keberadaan haus dan lapar akan kebenaran, artinya rindu mengerti kehendak Tuhan dan melakukannya. Justru ini adalah jiwa yang tertib dan agung.

Orang yang mencari kesempurnaan bukannya tidak mensyukuri anugerah keselamatan, justru sebaliknya mensyukuri dan menghargai anugerah keselamatan dengan meresponi fasilitas keselamatan yang disediakan oleh Tuhan Yesus karena korban-Nya. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula. Rancangan Allah semula adalah menciptakan manusia segambar dan serupa dengan Dia (Kej. 1:26-27). Untuk mencapai keselamatan ini seseorang harus memanfaatkan fasilitas keselamatan yang Tuhan Yesus sediakan yaitu Roh Kudus, Injil dan penggarapan Allah melalui segala peristiwa.