Bukan Kedaulatan Yang Sewenang-wenang
23 June 2018

Untuk menegaskan pemilihan Allah atas Yakub, Paulus mengutip ucapan Tuhan: Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah (Rm. 9:15-16). Ayat-ayat ini tidak boleh ditafsirkan sembarangan dan dipisahkan dari konteks ayat sebelumnya yang berbicara seputar pemilihan Yakub dan penolakan-Nya terhadap Esau. Untuk memahami secara benar pernyataan Paulus dalam Roma 9:14-16, maka kita harus menghubungkan dengan kisah yang dialami Musa dalam Keluaran 33, sebab pernyataan Paulus dalam Roma 9:15 diambil dari peristiwa yang ditulis dalam Keluaran 33. Untuk ini, kita harus teliti menganalisis kisah yang terjadi dalam Keluaran 32-33.

Meninjau peristiwa dalam Keluaran 32-33 tersebut, harus dimulai dari melihat kelakuan bangsa Israel yang mendukakan hati Allah (Elohim), yaitu tindakan mereka membuat patung anak lembu emas untuk disembah pada saat Musa naik gunung Sinai. Hal ini membuat Tuhan murka dan hendak meninggalkan bangsa tersebut; Tuhan bermaksud tidak menyertai mereka lagi dalam perjalanan ke Kanaan. Menyikapi hal tersebut, Musa memohon kepada Tuhan, agar Tuhan tidak meninggalkan bangsa tersebut. Musa rela namanya terhapus dari kitab yang Allah telah tulis (Kel. 32:32). Musa memohon kepada Tuhan, seperti membujuk Tuhan, agar tetap menyertai bangsa tersebut dan tidak membuat bangsa itu berjalan sendiri tanpa tuntunan-Nya.

Selanjutnya, Musa juga mohon kepada Tuhan agar Tuhan berkenan memperlihatkan kemuliaan-Nya kepada Musa. Tuhan mengabulkan permintaan Musa, yaitu berkenan menunjukkan kemuliaan-Nya yang gemilang kepada Musa (Kel. 33:18-19). Dari peristiwa ini muncul ayat yang ditulis Paulus dalam Roma 9:15 (Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.”). Adapun dalam Keluaran 33:19 Tuhan berfirman: Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.”Pernyataan ini mengesankan bahwa Tuhan memberi kasih karunia kepada siapa yang Tuhan mau memberi atau sebaliknya, tidak memberi kasih karunia dan belas kasihan kepada orang yang Tuhan tidak berkenan memberi belas kasihan dan kasih karunia-Nya.

Jadi, sangat dipaksakan dan benar-benar keluar konteks kalau Keluaran 33:19 menjadi dasar premis bahwa Allah memilih orang-orang tertentu untuk diselamatkan masuk ke dalam surga karena dibelaskasihani oleh Allah, dan yang lain tidak selamat karena tidak menerima kasih karunia dan dibelaskasihani Allah. Dari hal ini dikesankan bahwa Allah tidak menaruh belas kasihan kepada semua orang. Juga dikesankan dengan jelas bahwa Allah tidak mengasihi semua orang. Dipetakan oleh orang yang berpandangan demikian bahwa Allah hanya memberi belaskasihan dan kasih karunia kepada orang tertentu. Jika dipersoalkan: Mengapa demikian? Apa dasarnya? Biasanya jawabnya adalah kedaulatan Allah. Betapa mengerikan memiliki Allah seperti ini. Allah yang “gelap” sama sekali. Bisa dimengerti jika mereka berpandangan bahwa Allah memilih Yakub karena “mau-mau”-Nya sendiri tanpa bisa dipahami sama sekali maksud-Nya tersebut. Dari hal ini, mereka mengokohkan doktrin predestinasi yang bertentangan dengan kebenaran Alkitab. Satu hal yang harus ditanamkan, bahwa kedaulatan Allah bukanlah kedaulatan yang sewenang-wenang, sehingga bertentangan dengan hakikat kasih dan keadilan-Nya.

Mengapa sampai teolog-teolog tertentu mengambil ayat dalam Roma 9:15 sebagai dasar premis predestinasi? Hal ini terjadi atau disebabkan karena memang tidak ada dukungan ayat yang kuat yang menunjukkan bahwa Allah menentukan sekelompok orang selamat dan yang lain binasa. Jadi, mereka membabi buta memungut ayat Alkitab yang dapat mendukung premisnya, walau hal itu di luar konteksnya. Ironisnya mereka adalah orang-orang terpelajar di Sekolah Tinggi Teologi, yang seharusnya dalam mengeksegesis Alkitab menggunakan hermeneutik dan prinsip eksegesis yang baik secara ketat.

Hendaknya kita tidak menghubungkan atau membuat relasi antara keselamatan individu dengan kasih karunia atau belas kasihan yang Allah berikan kepada Musa. Dalam perikop Roma 9:14-16, Paulus menyejajarkan kemurahan hati Allah terhadap Musa dengan kemurahan hati Allah terhadap Yakub. Yakub bukan orang sempurna. Yakub menerima hak kesulungannya dengan menipu ayahnya, tetapi Allah berkemurahan atas Yakub. Dan ternyata memang Yakub layak dibelaskasihani, sehingga menjadi nenek moyang bangsa Israel yang menurunkan Mesias. Bagaimanapun kualitas hidup Yakub berbeda dengan Esau.