Bukan Iman Yang Menyelamatkan
26 October 2017

Berbicara mengenai mukjzat, tidak dapat dipisahkan dengan iman, sebab pada umumnya orang berpikir bahwa untuk terjadinya sebuah mukjizat seseorang harus memiliki iman. Apakah iman itu sebenarnya? Bila kita memeriksa Alkitab, dapat dijumpai banyak kata iman. Masing-masing memiliki pengertian yang berbeda dan dalam konteks yang berbeda. Dari teks-teks yang terdapat dalam Alkitab yang berbicara mengenai iman, dapat disimpulkan bahwa paling tidak terdapat tiga jenis iman. Di antaranya, iman keyakinan. Iman jenis ini bertalian dengan keyakinan atau harapan terhadap sesuatu yang bisa terjadi dan terwujud jika diyakini atau diharapkan dengan kuat. Banyak mukjizat yang bisa terjadi karena iman ini. Alkitab dipenuhi dengan kisah-kisah yang menunjukkan iman jenis ini. Tuhan juga mengajarkan keyakinan seperti ini bagi mereka yang baru belajar mengenal Penciptanya. Tuhan Yesus pun juga mengajarkan murid-murid-Nya untuk memiliki iman ini.

Dalam suatu kesempatan Tuhan Yesus berkata: Jadilah kepadamu menurut imanmu (Mat. 9:29). Perkataan Tuhan ini ditujukan kepada orang buta yang meminta supaya matanya dicelikkan. Kekuatan iman orang buta itu mencelikkan matanya sendiri. Demikian pula dengan seorang wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun, dengan imannya ia menjamah jubah Tuhan Yesus, maka seketika itu ia menjadi sembuh (Mat. 9:21-22). Tuhan Yesus juga memuji iman seorang perwira Romawi di Kapernaum yang meyakini kuasa Tuhan Yesus. Ia percaya jika Tuhan Yesus mengucapkan sepatah kata, maka hambanya yang sakit di rumahnya akan sembuh. Sungguh luar biasa, hamba perwira Romawi tersebut menjadi sembuh (Mat. 8:10).

Jenis iman inilah yang lebih ditekankan dan diajarkan kepada banyak orang Kristen dewasa ini secara berlebihan dan tidak proporsional. Seolah-olah dengan iman ini manusia bisa meraih apa pun yang diingininya. Dikesankan bahwa Tuhanpun bisa tidak berdaya bila berhadapan dengan umat yang memiliki iman jenis ini. Dengan demikian, seolah-olah Tuhan bisa diatur oleh kekuatan keyakinan dalam pikiran manusia. Dikesankan pula bahwa Tuhan akan merasa tersanjung dan dihormati kalau kuasa-Nya dipercayai, sehingga Tuhan memenuhi keinginan seseorang yang memercayai kuasa-Nya. Pemikiran seperti ini ada pada banyak orang Kristen yang belum dewasa.

Bagi orang-orang Kristen tertentu, bila memiliki iman seperti ini, maka dianggapnya sebagai suatu keunggulan. Padahal kalau kita mengamati kisah-kisah seperti di atas yang banyak kita jumpai dalam Alkitab, semua keajaiban ini disebabkan oleh iman mereka yang ternyata belum mengenal Tuhan Yesus secara mendalam. Mereka hanya percaya bahwa Tuhan Yesus memiliki kuasa yang ajaib. Mereka berurusan dengan Tuhan hanya karena masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, bukan karena keselamatan kekal. Tuhan menggunakan momentum ini untuk membuktikan bahwa Ia berasal dari Allah (Yoh. 3:2).

Jenis iman seperti di atas, sebenarnya sama dengan berpikir positif (positive thinking) dalam lingkungan psikologi. Dalam lingkungan pengembangan kepribadian, pola berpikir positif ini diajarkan dan dianjurkan. Dengan demikian, sesungguhnya kekuatan yang diandalkan bukanlah Tuhan, tetapi kekuatan berpikir, perkataan, alam semesta dan berbagai kekuatan lain yang diyakini memiliki kekuatan. Dalam lingkungan mistik, berpikir positif seperti ini juga diterapkan dengan menggunakan kekuatan gaib, kuasa kegelapan sebagai andalannya. Jenis iman ini di atas bukanlah iman yang menyelamatkan. Dalam Matius 7:21-23, terdapat orang-orang yang berani meyakini kuasa Allah. Faktanya memang mukjizat dapat terjadi, tetapi mereka yang menjadi pelakunya ditolak oleh Tuhan Yesus atau tidak selamat. Iman jenis ini tidak boleh dipandang sebagai iman yang bernilai unggul yang menyelamatkan. Sebab ada jenis iman lain yang lebih penting untuk dimiliki, yaitu iman yang menyelamatkan.