Bukan Anugerah Murahan
26 July 2020

Play Audio Version

Karena melihat kehidupan nyaman dan kemewahan pendeta-pendeta sekarang ini di kota-kota besar, maka berbondong-bondonglah orang mau studi di seminari atau sekolah tinggi teologi, demi hasrat menjadi pendeta. Selain anak pendeta, keluarga pendeta, atau menantu pendeta juga anggota pemuda gereja yang dengan alasan melayani Tuhan, pergi ke seminari atau sekolah tinggi teologi, padahal mereka hanya karena mau mengubah nasib dengan meningkatkan taraf sosial ekonomi mereka. Tidak heran, pada akhirnya—kalau tidak mewarisi gereja keluarga atau orangtua—mereka menolak diutus ke daerah-daerah yang jauh dari kota-kota besar. Bahkan, di antara anak-anak pendeta atau keluarga pendeta tersebut, tidak mau mewarisi gereja orangtua atau keluarga mereka karena kemiskinan ekonomi jemaat di daerah tersebut.

Tidak sedikit mereka yang mengikuti pendidikan di seminari atau sekolah tinggi teologi didorong oleh gairah memiliki kekayaan yang dapat diraih dengan lebih mudah, serta memiliki gelar sebagai nilai diri atau prestise. Itulah sebabnya, mereka biasanya bangga memperkenalkan diri dan mengaku sebagai “hamba Tuhan.” Kalau seminari atau sekolah tinggi teologi hanya memperlengkapi mahasiswanya dengan pengetahuan nalar teologi serta teknik-teknik pelayanan tanpa mengubah kodrat, maka mereka hanya meluluskan orang-orang yang nantinya menjadi “pegawai gereja atau pelayan gereja,” tetapi bukan pelayan Tuhan. Ini berarti, mereka “melayani Tuhan” hanya sekadar menjalani hidup wajar seperti orang pada umumnya dengan profesi masing-masing. Kalau jujur, di antara mereka sebenarnya tidak pernah mengerti buasnya kehidupan dengan segala tuntutannya. Seandainya mereka pernah bekerja di sebuah perusahaan, dimana pegawainya dituntut untuk memenuhi target, mereka baru mengerti betapa tidak mudahnya menjalani hidup ini.

Orang yang bergumul dalam marketplace sering lebih mengerti realitas sukarnya menjalani kehidupan ini daripada mereka yang ada di gereja sebagai pegawai gereja, yang setiap bulan mendapat “persembahan kasih” tanpa tuntutan dan target tertentu yang harus dicapai. Pendeta-pendeta yang dibesarkan di lingkungan sekolah teologi lalu dengan mudah menjadi pendeta, atau para pengusaha yang alih profesi menjadi pendeta, menikmati mudahnya mencari nafkah di gereja. Biasanya, mereka tidak mengajarkan bagaimana jemaat harus bekerja keras bersaing di marketplace, menjaga kesehatan, dan bertanggung jawab dalam berbagai aspek. Mereka hanya menekankan mukjizat dan doa yang bisa mengubah segala sesuatu dengan mudah. Mereka biasanya menjanjikan kehidupan yang mudah dijalani dengan doa-doa. Mereka juga mengklaim diri sebagai “dekat dengan Allah” supaya bisa menjadi mediator antara jemaat dengan Allah. Kalau dalam dunia okultisme, orang-orang seperti ini berperan sebagai “dukun” yang menjadi mediator antara kekuatan gaib dengan pasien yang datang minta pertolongan. Dalam hal ini, terjadi “praktik perdukunan di dalam gereja.” Kalau dukun menggunakan kuasa gelap, tetapi pendeta mengaku menggunakan kuasa Allah. Sejatinya, mereka tidak mengenal hakikat Allah dengan benar, Allah disamakan dengan kuasa lain.

Biasanya, pendeta-pendeta seperti ini juga mengajarkan kebaikan dan kekuasaan Allah tanpa mengajarkan karakter atau hakikat Allah secara seimbang. Pasti mereka tidak mengajarkan betapa tidak mudah untuk mengalami dan memiliki keselamatan; mereka mengajarkan anugerah murahan, bukan perjalanan untuk masuk jalan sempit. Kelompok orang-orang ini tidak memahami bahwa untuk mengalami dan memiliki keselamatan, tidak cukup hanya berusaha (mengingini dengan usaha apa adanya) tetapi harus berjuang (Luk. 13:3-24). Pendeta seperti ini biasanya secara praktis menganut teologi “hyper grace,” bahkan mengajarkan “double grace,” walaupun dalam pengakuannya mereka menyatakan tidak setuju dengan hyper grace. Dari khotbah dan yang mereka ajarkan, dikesankan bahwa memperoleh keselamatan dan masuk surga bukan hal yang sulit, tidak perlu ada perjuangan. Perjuangan yang mereka jalani adalah bagaimana memiliki kemakmuran hidup di bumi sekarang. Itupun dapat diraih dengan mudah melalui mukjizat. Bagi mereka, yang penting adalah memuji-muji dan menyembah Allah dengan percaya bahwa Allah itu berkuasa dan baik.

Pendeta-pendeta seperti tersebut di atas juga menjanjikan bahwa dunia ke depan bisa menjadi hunian yang lebih baik, sebab Tuhan akan memberi “transformasi,” dimana masyarakat akan mengalami kemakmuran, kejahatan berkurang, dan kelimpahan dari Allah dicurahkan. Ternyata, semua itu tidak terwujud dan merupakan kebohongan publik yang tidak dipertanggungajawabkan. Padahal, mestinya jemaat diingatkan betapa rusaknya dunia ini. Dunia tidak akan membaik, tetapi memburuk. Hal ini semakin terbukti di waktu sekarang ini dan ke depan. Sinode gereja yang dipimpin oleh seorang yang hanya memikirkan kemakmuran hidup di bumi, gedung gereja besar dengan jumlah jemaat banyak, dan hal-hal lain yang bersifat duniawi, pasti memikirkan bagaimana keluarganya berfasilitas baik. Selain tidak memikirkan nasib pendeta-pendeta di daerah terpencil, juga tidak mengajarkan kebenaran untuk mempersiapkan semua pendeta dan jemaatnya pulang ke surga. Harus selalu diingat, bahwa kehidupan normal orang percaya adalah jalan yang sukar.