Buah Kehidupan Seperti Yesus
07 July 2019

Tuhan Yesus mengatakan agar manusia takut akan Allah yang berkuasa bukan saja membunuh tubuh, tetapi juga yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Mat. 10:28). Takut akan Allah pasti diwujudkan secara konkret dalam kehidupan ini dengan melakukan kehendak-Nya. Kenyataan yang kita temukan dalam kehidupan orang Kristen, jangankan melakukan kehendak-Nya, mengerti kehendak-Nya saja tidak. Bagaimana bisa mengerti kehendak-Nya kalau tidak memiliki kecerdasan roh atau kepekaan? Bagaimana memiliki kepekaan kalau tidak belajar Injil dengan benar? Belajar Injil dengan benar artinya tekun dan sungguh-sungguh berani mengorbankan yang lain, lebih dari mengasihi dunia ini.

Orang yang mengasihi dunia pikirannya menjadi gelap, ia tidak akan bisa mengerti kebenaran (Luk. 16:11). Dengan pikiran gelap, maka gaya hidupnya pun tidak sesuai dengan standar Allah. Orang-orang yang berada di bawah standar Allah ini, tidak akan bisa berjalan dengan Tuhan (hubungannya dengan Allah tidak harmonis). Mereka belum bisa bersekutu dengan Allah Bapa. Inilah yang dimaksud dengan belum berdamai dengan Allah. Dalam hal ini perdamaian dengan Allah bukan saja pengakuan atau status, tetapi sebuah keberadaan konkret di mana seseorang bersekutu dengan Tuhan secara harmoni. Itulah sebabnya kalimat “diperdamaikan dengan Allah” menuntut respons dari kedua belah pihak. Allah menyediakan fasilitas pendamaian, dan manusia merespons dengan tanggung jawab.

Persoalan paling penting dalam kehidupan orang percaya adalah apakah ketika menghadap Tuhan ada buah yang dapat dipersembahkan kepada-Nya? Buah itu adalah melakukan dengan baik segala sesuatu yang Tuhan inginkan. Hal ini adalah sesuatu yang mutlak harus dipenuhi, sebab memang manusia diciptakan untuk melakukan kehendak-Nya. Jadi, buah di sini adalah perbuatan, perilaku, dan sikap hati yang memberi kepuasan di hati Tuhan, sampai seseorang memiliki “hati melakukan kehendak-Nya,” memiliki natur melakukan kehendak Tuhan tanpa dipaksa atau ditekan oleh hukum. Inilah ciri dari anak Allah yang telah diperagakan oleh Tuhan Yesus. Selanjutnya, Tuhan memberikan kemampuan untuk seseorang bisa berbuah, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa beralasan mengapa tidak berbuah.

Dalam perumpamaan mengenai penabur benih, dikisahkan bahwa tidak semua orang yang mendengar Firman Tuhan bisa bertumbuh dan berbuah (Luk. 8:5-15). Kelompok pertama, adalah orang yang walaupun mendengar Injil tetapi tidak pernah menjadi orang percaya (Luk. 8:12). Kuasa antikris -yaitu ajaran atau agama yang menolak Yesus adalah Tuhan- telah mengunci pikiran mereka atau membutakan pengertian mereka sehingga mereka tidak pernah bisa menerima Tuhan Yesus Kristus. Kelompok kedua, adalah mereka yang mendengar Injil, menjadi orang Kristen tetapi tidak berani membayar harga percayanya karena telah terikat dengan percintaan dunia, sehingga tidak berani mengalami aniaya. Perlu dipahami bahwa pada zaman itu kalau orang berani percaya kepada Tuhan Yesus, maka mereka akan mengalami aniaya (Luk. 8:13). Banyak orang lebih memilih untuk menyelamatkan nyawanya daripada kehilangan nyawanya.

Kelompok ketiga, adalah orang-orang yang tidak mengalami aniaya, tidak menolak Tuhan Yesus, tetapi masih mencintai dunia. Mereka memang berbuah, tetapi buahnya tidak matang (Luk. 8:14). Kata “matang” dalam teks aslinya adalah telesphoreo (τελεσφορέω), yang artinya dewasa. Jadi buah yang dihasilkan tidak dewasa. Tuhan menghendaki kedewasaan. Kehendak Tuhan harus dituruti secara mutlak. Ini adalah kelompok orang-orang Kristen yang masih membagi hatinya terhadap dunia ini, sehingga kebenaran Firman Tuhan tidak bisa sepenuhnya bertumbuh.

Kelompok keempat, adalah orang-orang yang mendengar Firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati yang baik; mengeluarkan buah dalam ketekunan (Luk. 8:15). Mengeluarkan buah dalam ketekunan menunjukkan bahwa untuk berbuah, seseorang harus berjuang keras. Kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang dituntut untuk berbuah (Yoh. 15:1-7). Jika tidak berbuah akan dipotongnya, tetapi yang berbuah akan dibuat semakin lebat buahnya. Inilah orang-orang yang rela meninggalkan segala sesuatu untuk mengiring Yesus, orang-orang yang tidak memperhitungkan dunia dengan segala hiburannya dapat membahagiakan dirinya.

Dalam Lukas 13:6-7 mengenai perumpamaan seorang peladang yang memiliki kebun anggur, di dalamnya terdapat pohon ara. Ketika dilihatnya pohon ara tidak berbuah, ia mengatakan bahwa percuma pohon itu tumbuh di kebunnya. Ia menghendaki agar pohon itu dikeratnya saja. Dalam perumpamaan ini Tuhan menghendaki agar setiap orang percaya berbuah yang memuaskan hati-Nya. Sesungguhnya inilah pelayanan yang sesungguhnya. Bukan berapa jumlah jemaat dalam gereja kita, besarnya gedung, banyaknya proyek pelayanan dan aset gereja, tetapi apakah kita dalam kehidupan setiap saat menyukakan hati Bapa dengan berbuah seperti kehidupan Yesus.