Bisnis Yang Menjanjikan
25 July 2020

Play Audio Version

Sejak beberapa dasawarsa belakangan ini, terjadi kebangunan rohani di Indonesia, persekutuan-persekutuan doa serta gereja-gereja muncul bagai jamur di musim hujan. Banyak Kebaktian Kebangun Rohani dan seminar rohani yang menggerakkan orang Kristen aktif dalam kegiatan rohani. Orang-orang Kristen mulai bergairah datang ke kebaktian-kebaktian. Tempat pertemuan jemaat—yaitu ruangan kebaktian—yang tadinya hanya di gereja, sekarang bisa diadakan di gedung-gedung atau ruang-ruang pertemuan umum. Di kantor-kantor, pasar-pasar, gedung-gedung bersama sebagai perkantoran, komunitas-komunitas yang memiliki kepentingan yang sama juga mengadakan pertemuan-pertemuan bersama untuk memuji Tuhan dan mendengarkan Firman Tuhan yang biasa disebut sebagai persekutuan doa. Bahkan, kemudian lahirlah gereja-gereja baru. Persekutuan-persekutuan doa dan gereja-gereja yang baru muncul membutuhkan pembicara dan mereka yang bisa memimpin puji-pujian serta pemain musik. Ini bisa dikatakan sebagai new normal. Di balik ini, Allah sedang mau memulihkan gereja-Nya.

Disertai dengan pengajaran persepuluhan, maka banyak gereja mendulang banyak uang dari jemaat. Jemaat merasa yakin dengan memberi persepuluhan bisnisnya lancar, menghasilkan banyak uang, kariernya cepat menanjak, dan segala sesuatu yang dilakukan lebih diberkati atau sukses. Persepuluhan diajarkan sebagai “portal” untuk memperoleh berkat Tuhan; sebaliknya, kalau tidak memberi , “belalang pelahap” dan kutuk-kutuk dapat menimpa hidup mereka; bisa berupa sakit penyakit, kebangkrutan usaha, kegagalan karier, dan lain sebagainya. Dengan kondisi kekristenan seperti ini, jabatan atau profesi pendeta bisa “sangat menjanjikan,” juga termasuk worship leader atau pemimpin puji-pujian, juga dibutuhkan banyak pemain musik dan singer dalam kebaktian.

Banyak pendeta dalam waktu singkat, tanpa kerja keras, memiliki berbagai fasilitas yang tidak dimiliki oleh mereka yang memiliki perjuangan setara di dalam dunia sekuler. Menjadi pendeta jauh lebih beruntung dibanding menjadi petani, pegawai swasta, atau pegawai negeri. Banyak pendeta mempertontonkan “berkat Tuhan” berupa mobil, rumah, arloji, barang-barang mewah yang dikenakan. Inilah yang menjadi pemicu banyak orang mau menjadi hamba Tuhan. Tidak sedikit pengusaha yang melihat masa depan suram dalam bisnisnya atau sudah mulai mengalami kemerosotan mulai berpindah profesi, apalagi kalau memiliki talenta khusus seperti cakap berbicara, pujian dan penyembahan, dan lain sebagainya yang bisa menjadi “amunisi” yang baik untuk menjadi hamba Tuhan yang “dipasarkan.” Ada pendeta-pendeta yang hanya berbekal kesaksian pertobatan atau menyanyikan puji-pujian, tetapi kemudian menjadi pendeta dengan berbagai pengajaran yang diklaim dia peroleh dari Tuhan, padahal mereka mengembangkannya sendiri.

Tentu saja tidak salah kalau seseorang berpindah profesi, dari pedagang atau pengusaha menjadi pendeta atau hamba Tuhan, tetapi seharusnya mereka diperlengkapi bukan saja dengan pemahaman kebenaran Firman Tuhan, melainkan juga yang terutama adalah benar-benar telah mengalami perubahan kodrat. Kalau tidak, mereka akan menjadi “penyesat-penyesat” di dalam gereja dengan berbagai pengajaran yang tidak membawa jemaat Kristen kepada maksud keselamatan diberikan oleh Allah. Mereka yang beralih profesi menjadi pendeta belum tentu benar-benar sudah mengalami pertobatan. Banyak kausalitas yang menyebabkan seseorang memberi diri aktif dalam kegiatan rohani.

Setelah melewati tahun-tahun panjang sejak tahun 1980, yaitu masa dimulainya kegerakan rohani di Indonesia, sekarang ini barulah tampak kualitas dari pendeta-pendeta tersebut serta gereja mereka. Hal ini nyata dari pengajaran yang mereka ajarkan, kualitas hidup mereka jika dipandang dari sudut kehidupan Yesus yang harusnya menjadi modelnya, dan kualitas kehidupan jemaat. Ternyata, kegerakan rohani yang terjadi selama puluhan tahun ini, yang dimaksud Tuhan untuk menjadi normal baru (new normal) sesuai dengan kacamata Tuhan, tidak mencapai tujuan. Kegerakan tersebut tidak membawa jemaat kepada kehidupan sesuai dengan maksud keselamatan diberikan, yaitu perubahan kodrat, dari kodrat dosa ke kodrat ilahi. Hal ini terjadi pada gereja-gereja yang hanya menekankan pengajaran mengenai kemakmuran dunia, mukjizat-mukjizat, dan karunia-karunia Roh. Ternyata, kehidupan normal anak dunia masih mereka kenakan.

Ciri-ciri dari gereja yang meninggalkan visi dan misi yang benar dari Allah biasanya selalu menekankan—selain kemakmuran jasmani—persepuluhan, mukjizat, dan menjanjikan hidup yang berkelimpahan tanpa masalah di dunia ini. Mereka selalu menjanjikan kehidupan yang sukses seperti: kekayaan bangsa-bangsa akan diberikan kepada orang Kristen, keadaan ekonomi akan membaik, banyak orang non-Kristen akan bertobat, kejahatan akan berkurang, anak-anak Allah akan menjadi kepala—artinya menduduki kursi-kursi pimpinan di perusahaan baik swasta maupun pemerintah—jauh dari kutuk dan hukuman, dan lain sebagainya. Tidak heran, ketika terjadi pandemi COVID-19, mereka menjanjikan doa yang dengan mudah dapat menghalau virus tersebut. Apakah bisa dibuktikan kebenarannya? Tentu tidak. Tetapi, karena sudah menjadi kebiasaan tidak memenuhi nubuatan yang mereka ucapkan, maka ketika nubuat mereka tidak terjadi, mereka tetap tenang dan diam saja, bersikap tanpa tanggung jawab, serta tanpa merasa bersalah.