Bintang Mahaputra
30 March 2021

Play Audio

Kalau kita memperhatikan Alkitab dengan teliti, pada umumnya orang-orang yang benar-benar dipakai Tuhan adalah mereka yang menyerahkan hidupnya sepenuhnya atau bisa dikatakan tanpa batas. Memang tidak banyak orang yang dipakai Tuhan, tetapi kalau kita memilih untuk menjadi alat di tangan Tuhan, kalau kita mau menjadi orang yang dipilih Tuhan menjadi alat-Nya, inilah jalannya. Menyadari kebenaran ini, kita harus memiliki kegentaran, bagaimana bisa memberikan hidup atau segenap hidup tanpa batas kepada Tuhan. Kita rela melakukan apa yang sebenarnya tidak ingin kita lakukan. Atau kita melakukan yang sebenarnya di luar kemampuan kita untuk melakukan. Tetapi ini adalah pilihan yang terbaik. Mengingat usia kita yang terbatas, dimana suatu saat kita akan kehilangan kesempatan ini selama-lamanya dan mengingat setiap kita akan menghadapi perhitungan di hadapan pengadilan Tuhan nanti, maka adalah sangat beruntung kalau kita berani mempersembahkan segenap hidup kita ini tanpa batas kepada Tuhan.

 

Mempersembahkan hidup tanpa batas bukan berarti kita harus harus jadi pendeta, juga tidak harus berarti memberi uang untuk gereja. Tetapi, bagaimana kita memiliki kesediaan untuk melakukan apa pun yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Terpenting dalam hidup Kristen kita adalah bagaimana kita hidup tidak bercacat dan bercela. Selanjutnya, bagaimana suasana hati kita tidak dipengaruhi oleh materi atau keindahan dunia. Kalau kita masih melakukan kesalahan dan tidak mau membereskannya, dan jika kita masih menikmati kesenangan dunia, tidak mungkin bisa kita dapat menyerahkan diri tanpa batas kepada Tuhan! Tidak bisa! Kita harus berani mempunyai komitmen.

 

Orang yang tidak berani menyerahkan hidup tanpa batas, dia akan terkurung, terjebak dalam egosentris. Dia akan sibuk dengan perasaannya sendiri. Bagaimana dia disenangkan, bagaimana dia dipuaskan, kalau melihat orang yang tidak dia sukai, bagaimana dia menyerang. Atau dia akan tenggelam dengan persoalan apakah persoalan pasangan hidup, soal anak, soal orangtua, jodoh, atau berbagai persoalan. Memang pada kenyataannya, kita semua pasti punya persoalan. Tetapi, ingat bahwa: Pertama, tidak mungkin persoalan pergumulan hidup kita melampaui kekuatan kita. Kedua, tidak mungkin tidak ada jalan keluar. Ketiga, seluruh persoalan dan semua pergumulan kita pada akhirnya mendatangkan kebaikan.

 

Sebanyak dan seberat apa pun masalah kita, jangan tenggelam di situ! Tenggelamlah dengan tekad bagaimana melayani perasaan Allah. Bagaimana dalam setiap kata yang kita ucapkan, setiap tindakan yang kita lakukan, setiap buah pikiran yang terlintas, kita selalu menyenangkan Dia. Mari kita mulai dari situ dahulu, dari hal-hal sederhana dalam keseharian hidup kita. Sehingga kita berhak untuk memperoleh bintang mahaputra, menjadi anak unggulan. Mereka yang berhak mendapatkan bintang mahaputra adalah anak-anak yang menjadi kebanggaan Allah, yang namanya buah sulung. Sejatinya, inilah satu-satunya yang kita rindukan, ini yang kita targetkan untuk kita peroleh di kekekalan. Tidak harus sekolah teologi, tidak harus jadi aktivis gereja, tidak harus jadi pendeta.

 

 

Jadi, persekutuan kita bukanlah persekutuan orang yang hanya mau menangis di hadapan Tuhan membawa persoalan. Ini bukan berarti tidak boleh menangis dan membawa persoalan kepada Tuhan, tapi kiranya persoalan kita cuma satu, yaitu bagaimana kita menjadi anak kesukaan Bapa. Selanjutnya, bagaimana kita bisa menyukakan hati Bapa. Betapa indahnya hidup ini apabila di setiap hari kita bisa menyenangkan hati-Nya. Sudah saatnya kita menjadi orang Kristen yang dewasa. Hendaknya kita mau berbeda dari dunia ini. Berbeda dengan orang-orang Kristen yang lainnya, yang sebenarnya hanya beragama Kristen tapi belum Kristen dengan sungguh-sungguh. Kita mempunyai banyak masalah, hadapi saja! Orang lain pun punya masalah yang sama, dan tanpa Tuhan, mereka juga bisa menyelesaikannya.

 

Bahkan ajaibnya, Alkitab mengatakan bahwa “Pencobaan-pencobaan yang engkau alami tidak melampaui kekuatan manusia.” Kita harus memperhatikan, di sana tidak ditulis “kekuatan anak-anak Allah,” melainkan “kekuatan manusia!” Artinya, semua manusia juga punya pencobaan yang Tuhan izinkan, namun pasti melampaui kekuatannya. Apalagi kita, anak-anak-Nya, masalah kita pasti tidak melampaui kekuatan kita. pasti selesai pada waktunya dan mendewasakan. Mulai sekarang, mari kita mengarahkan pikiran kita kepada hal ini. Bahkan, kita akan menyodor-nyodorkan diri di hadapan Tuhan: “Apa yang harus saya lakukan? bagian mana yang belum kuserahkan kepada-Mu?” Ingat, jadilah anak kesukaan Tuhan yang layak menerima bintang mahaputra!